Memperpanjang SIM di layanan keliling

Selasa minggu yang lalu, diwaktu istirahat menyelakan diri untuk memperpanjang izin SIM,  Sharing saja, barangkali ada yang membutuhkan
DI Surabaya, sebelumnya saya cari info dulu di http://halopolisi.com/tag/sim-keliling/ dimana posisi mobil layanan SIM keliling sedang standby.
waktu itu disebutkan terdapat 2 tempat layanan, di taman Bungkul dan Terminal Bratang. Pilihan jatuh pada terminal Bratang yang terbilang lebih dekat ….
Di sana, disambut, tukang parkir, hehehe …. kemudian
langsung menuju jendela lubang samping mobil, untuk pendaftaran. Syarat :
1. Fotokopi SIM dan KTP (bila tidak membawa fotocopy maka terkenan denda Rp. 2000
2. Membayar biaya perpanjangan, Rp. 100.000 dan Rp. 30.000 untuk ansuransinya
Setelah membayar maka akan diberikan formulir untuk diisi. Formulir kemudian saya isi, ada juga “teman senasib” yang menyarankan, minta tolong saja kepada orang lain untuk mengisi hanya dengan Rp. 5000, tetapi karena ingin mendapat pengalaman sendiri, maka saya coba isi saja, mudah kok ngisinya, dengan pedoman KTP dan SIM serta biodata pelengkap lain. diisi semua, formulir, keterangan dokter dan ansuransinya, ditandatangani semua.
kemudian dikembalikan kepada petugas untuk antri dipanggil foto.
Setelah dipanggil, naik ke Mobil untuk foto, cek biodata sebelum di cetak, tanda tangan dan cap jari. jreng ……. SIM sudah selesai.
Proses keseluruhan, sekitar 1/2 jam saja. Alhamdulillah
setelah keluar, ada juga jasa pelapisn kartu (pemasangan anti gores …. mirip HP saja )agar tidak mudah luntur, harga Rp. 5000. itu sih tambahan saja, nggak juga gk papa …
 
 

melihat

ketika aku mulai melihat dan mengamati sekeliling
aku mulai menyadari dan melihat bahwa setiap orang punya peran masing-masing
ibarat melihat film (bukan dari sudut pandang pemain, melainkan sebagai pemirsa), keelokan film akan terlihat, semua hal telihat saling melengkapi
aku takjub dengan semuanya, semuanya begitu berjasa dalam lingkaran kehidupan
tidak ada yang tidak bermanfaat, tidak ada yang sia-sia, mereka dengan kebaikan mereka
banyak diantara mereka mungkin tidak menyadari kebaikan dirinya, aku salut, mereka memberikan manfaat bagi yang lain
Mungkin ada sebagian yang merasa terganggu oleh mereka, tetapi apabila diselidiki, ia memberikan guna bagi yang lainnya,
memang tidak ada yang sempurna, tetapi yang mengagumkan adalah kelemahan mereka berguna bagi orang lain, ada juga ditutupi yang lain, kelemahan yang satu memicu kelebihan yang lain dan menjadi inisiator orang lain untuk memunculkan kelebihan terhadap dirinya,
jadi secara keseluruhan, terjadi suatu dinamika yang indah, mereka semua luar biasa, mereka memiliki andil untuk keluarga mereka, masyarakat mereka, semuanya, mereka mendapat peran mereka
tapi kemudian aku mencoba melihat diri, dulu ada hal-hal yang ku banggakan, eh setelah aku amati lebih seksama, rasanya nyesek, “APA GUNAKU?”
selalu bertanya dan bertanya, sebernarnya apa gunaku? semua prilaku, fikiran dan segalanya, berisi hanya kesalahan, apa manfaatku? aku benar-benar tidak bermanfaat, aku malu pada semua, aku malu pada diriku,
mungkin yang dapat ku lakukan hanyalah berdoa, bagi mereka semua yang sebenar-benar bermanfaat, semoga Allah Allah melimpahkan pahala berlimpah untuk mereka
terselip juga doa, “ya Allah, janganlah sekelilingku, mereka semua terimbas oleh ketidakbergunaanku, terimbas keburukanku” aku juga berdoa “aku ingin bersama mereka, mereka penuh kebaikan, aku ingin meniru mereka, bagaimana aku berguna, berharap barokah dari mereka”
 

Wali paidi 1

Dari Salah Satu Group di FB ada cerita yang menarik dan ingin saya bagi, https://www.facebook.com/santrionlinenet/?pnref=story , cerita fiktif mengenai seorang Wali bernama paidi, monggo di simak cerita copas ini……..
WALI PAIDI bag 1 ( satu )
Setiap tgl 10 arofah ada perkumpulan 40 wali diatas gunung di daerah makkah, 40 wali ini tersebar ke seluruh pelosok dunia, dan setiap tahun mereka berkumpul di atas bukit di daerah makkah ini ( maaf tempat dirahasiakan) yg datang ada yg terbang, ada yg naik sajadah sprti aladin, ada yg muncul dr bumi, ada yg naik burung, ada yg cling tahu2 sdh di tempat.
acara tahunan ini ( semacam reuni ) di pimpin lansung oleh king of the king sulthonul aulia ( gak pake pohan ) rajanya pr wali yg setiap masa hanya satu orang di JAGAD SELURUH ALAM SEMESTA ini.
diatas bukit mulai terdengar dentuman2 lantunan dzikir yg terpancar dari hati mereka, diatas bukit para malaikat berwujud awan ikut menyemarakkan acara reuni tahunan ini dg hembusan angin yg sepoi2 berlantunkan takbir, tahmid dan tahlil ( alhamdulillah malaikat e iki yo NU ).
Tampak di kejauhan di bawah bukit ada orang yg tdk terlalu tua tampak tertatih2 dan sngt kesulitan mencoba menaiki bukit, berbeda dg wali2 yg datang sebelumnya, seorang tua ini tampak sangat kesulitan menaiki bukit
dg tongkatnya dia berusaha melewati bebatuan yg terjal dan berliku, kadang dia berhenti sebentar tuk mengatur pernafasannya lalu melanjutkkan menaiki bukit lagi.
Setelah sampai dipuncak tampak jelaslah orang ini, gemuruh nafasnya masih tampak tersenggal2 kecapekan, pakaiannya biasa, jubah putih yg agak kecoklatan agak kotor.
Walaupun kelelahan wajahnya selalu tersenyum dari wajahnya bisa dikatakan orang ini gak gampang meremehkan orang lain, tawadu dan sopan…
Para wali menghentikan aktifitasnya setelah melihat kedatangan orang tua ini, suasana tiba2 hening, satu persatu pr wali menyalami orang ini dg penuh hormat dan takdzim…
” ahlan wa sahlan ya habiballah ya sulthanul aulia…” ucap mereka
Eh…ternyata orang yg tampak biasa sekali ini adalah rajanya para wali, keramatnya dan kesaktiannya se akan tidak ada sama sekali….
” tolong panggilkan paidi arek indonesia itu suruh kesini…” ucap sang sultonul aulia kpd pr wali.
Disela2 kerumunan para wali muncullah seorang pemuda dg jas layaknya tentara dan peci hitam yg agak tinggi, dari wajahnya terlihat kalo paidi ini pemuda yg kocak, dg wajah cengar cengir pemuda ini mendekati sang sultan aulia dan mencium tangannya.
setelah wali paidi ini menghadap, sang sulthon ini berkata kpdnya
” di..paidi sini aku minta rokoknya dan tolong sekalian masak air buatkan kopi..”
hehehe…ternyata wali yg kemana2 bawa rokok dan kopi hanya wali dari indonesia..
Sehabis dari pertemuan dimakkah, wali paidi kembali lagi keindonesia.
Wali paidi pingin mencoba ilmu yang baru saja didapat dari temannya wali dari india, Naseer Khan yaitu ilmu melipat bumi.
Teman wali paidi ini memang terkenal sakti, seluruh biksu di india tidak dapat menandingi kesaktiannya, bahkan biksu dari tibet banyak yang masuk islam, setelah kalah bertarung dengan naseer khan ini.
Ketika berangkat kemakkah wali paidi “nunut” temannya dari india ini, wali paidi hanya disuruh menggandeng tangannya lalu tiba-tiba saja cling wali paidi dan temannya naseer khan sudah berada dimakkah diatas bukit tempat pertemuan.
Dan karena kasihan wali naseer khan ini meng ijazahkan ilmu melipat bumi kepada wali paidi, supaya diacara pertemuan-pertemuan yang akan datang wali paidi tidak repot mencari tunutan lagi.
Wali paidi memejamkan matanya dan mulutnya mulai berkomat kamit membaca doa-doa khusus, tiba – tiba tubuh wali paidi terasa dingin, bumi yang didudukinya terasa seperti es.
Wali paidi membuka matanya tampak didepannya bukit yg tertutup es, dia melihat kebawah, bumi yg didudukinya juga terbuat dari es.
“dimanakah aku ini “ bathin wali paidi
Wali paidi berdiri, melihat sekelilingnya, semuanya tampak putih tertutup salju. wali paidi berjalan mengitari tempat yg belum pernah dilihat selama hidupnya, sepi tiada orang sama sekali. Lamat lamat wali paidi mendengar ada orang yg bersenandung membaca sholawat, wali paidi dengan langkah perlahan lahan mengikuti asal suara senandung sholawat tersebut, dan tampaklah didepannya beruang besar putih, membungkuk ditepi sungai mencari makanan ikan segar
Masya Allah ternyata yg bersenandung itu bukan manusia tapi beruang putih ini. Wali paidi berhenti, beruang putih itu menoleh kepada wali paidi dan berkata kepadanya
“assalamu’alaikum “ ucap beruang itu
“wa alaikumussalam “ jawab wali paidi dg perasaan kaget dan heran
“kamu wali paidi ya, aku tadi dapat khabar kalau nanti ada orang yg kesasar kesini, namanya wali paidi, “ucap beruang itu, setelah memakan ikan yg baru didapatnya beruang putih itu melanjutkan berkata lagi
“kamu jangan kuatir memang sudah biasa orang belajar itu tidak bisa lansung menguasai ilmu yan baru didapatnya, cobalah sekali lagi ” kata beruang tersebut lalu pergi meninggalkan wali paidi.
Wali paidi diam seribu bahasa, wali paidi mendongak ke atas melihat posisi matahari, ternyata dia kesasar ke kutub selatan , dan bertemu beruang putih yg bisa bicara.
Setelah sholat sunnah dua rokaat, wali paidi mulai merapal doanya kembali dan cling…….
sumber cerita : https://www.facebook.com/santrionlinenet/posts/1769567253261689:0

dakwah bil qolbi

Setelah posting sensasi energi, permen spiritual, sekarang mengenai dakwah ….
Dakwah adalah mengajak kepada fitrah kita, mengajak kepada kebaikan, mengajak kepada rahmat Allah, mengajak kepada Rahmat lil ‘Alamin , mengajak ke Rosululloh.
Setelah dipahami bahwa segala aktifitas kita menimbulkan suatu energi/ aura yang bahkan mempengaruhi sekitarnya. Maka dakwah dapat kita klasifikasikan menurut energi tersebut
1.  dahwah secara kaffah, dakwah dimana da’i (orang yang dakwah) hatinya selalu berdzikir (dekat dengan Allah), perkatan dan perbuatannya baik, membaiki orang lain serta mengajak kepada kebaikan, energinya akan sngat dhasyat, karena setiap energi dzikir darinya bersatu padu dan saling menguatkan, akan mempengaruhi orang lain secara luar dalam, menumbuhkan orang-orang yang ikhlas (satunya hati dan perbuatan dalam beribadah).
2. dakwah bil lisan, dakwah dengan berceramah, dengan berbicara kepada orang lain untuk mengajak kepada kebaikan. Dan ini ada kategori, yang hatinya ikut berdakwah (berdzikir) dan ini terbaik, kemudian ada kategori omdo (omong doang, hanya berbicara) dimana tubuh atau mulutnya memancarkan energi “kasar” sehingga menubruk fisik dan pemkiran orang lain hingga penerima dapat mengalami penerimaan (jika cocok dengan pemikirannya) atau penolakan (jika tidak cocok dengannya) tetapi energi hati “yang lebih halus nan lembut” yang tidak dapat ditolak akan selalu diterima oleh hati sang pendengar, hingga lambat laun akan menyebar ke setiap partikelnya dan mempengaruhi mental, adab dan akhlaknya.
3. dakwah bil qolb, dakwah dengan getar hati —- sesungguhnya orang yang beriman adalah yang bergetar hatinya ketika disebut nama Allah —- ini adalah dakwah dasar yang sesungguhnya (sejati), walau kita tidak mengajak orang lain, dengan kita memperbaiki hati kita, maka hati kita akan bergetar dan menimbulkan energi positif yang semakin kuat dan kuat seiring peningkatan kebersihan hati kita dan getaran dzikir hati kita. Energi tersebut akan memancar kesekitar dan memperaruhinya menjadi positif pula, akan terjadi resonansi, ikut bergetarnya hati orang lain karena getaran dzikir hati kita, yang selanjutnya akan mempengaruhi sikap dan perbuatannya. Energi ini akan lebih kuat memancar ke alam sekitar bila kita arahkan, dengan doa-doa kebaikan kita untuk alam sekitar dan sesama. Inilah esensi dari dakwah, selalu membersihkan hati dan brdzikir serta mendoakan kebaikan untuk semuanya.
Allah A’lam

permen spiritual, nikmatnya beribadah

Kebaikan/ibadah/dzikir yang kita lakukan akan menimbulkan suatu energi. Getaran dari dzikir lisan kita akan menimbulkan gelombang yang memindahkan energi, getaran dari gerakan/perbuatan kita juga begitu, bahkan getaran hati kita juga menimbulkan gelombang energi.  Energi yang timbul dan mengalir ini akan menimbulkan sensasi-sensasi energi, dan ini dapat anda baca dipostingan sebelumnya, sensasi energi, pengalaman spiritual
Tentu saja gelombang energi tersebut (kita sebut saja energi dzikir) akan berbeda, berbeda lafadz/kalimat akan menimbulkan frekuensi yang berbeda, antara frekuensi dzkir lisan dan hati tentu saja akan memiliki frekuensi yang berbeda pula. Sehingga bisa dipahami dzikir lisan dapat kita dengar dengan telinga kita, tetapi dzikir hati ini tidak dapat terdengar karena energi dzikir jenis ini lebih halus lagi. Tetapi bagi orang yang sensitif, energi dzikir ini dapat ditrafsirkan hingga menimbulkan sensasi-sensasi energi, seperti ketenangan hati, penglihatan-penglihatan, gerakan, atau lain-lain.
(mohon maaf bila menguraikan/menganalogkan dzikir dengan energi, karena mungkin ini pendekatan yang enak, dan sedang dari sudut ruh, wah ini bagi orang khusus yang saya gak bisa membayangkannya)
Seperti postingan sebelumnya, sensasi-sensasi seperti ini ada yang menganggapnya sebagai “PERMEN SPIRITUAL”, yang ibarat anak kecil, kita akan lebih giat ibadah bila diberi reward permen. Dan seperti saya, permen saja belum mendapatkan, hehehe …. jadi sibuk bayangkan permennyaa….
Apakah “permen spiritual” “sensasi-sensasi energi” seperti itu salah? Karena saya masih tingkat mencari permen, ya tentu saja jawaban saya “hal tersebut OK, bahkan oleh banyak orang, hal ini diperlukan sebagai motivasi ibadah” (berbeda orang yang imannya sangat kuat, yang tetap istiqomah tanpa permen, bahkan tetap istiqomah dengan jamu pahit). Yang menjadi salah, apabila menafsirkannya dengan hawa nafsu kita (dapat terjebak dengan tipu daya nafsu dan setan) sehingga menimbulkan sesuatu yang salah diakhirnya. Maka sangat penting untuk merahasiakan “rasa permen” tersebut dan hanya boleh membicarakan/konsultasi hanya dengan orang yang kompeten dalam hal tersebut.
Salah konsultasi/bercerita dengan orang yang salah, dapat menimbulkan rasa sombong atau salah menafsirkannya hingga tidak mendorong kepada ridlo Allah, malah terjebak dengan was-was atau mengikuti tipudaya nafsu dan setan. Seorang mursyid “guru spiritual” yang memenuhi kualifikasi sangat diperlukan. Beberapa ciri utamanya, perbuatannya sesuai sunnah nabi, rendah hati (memandang orang lain lebih baik dari dirinya), menyayangi semua orang tanpa membedakan status, agama, perilaku dll (karena beliau hanya melihat, semuanya adalah hamba Allah, seperti halnya sifat Rohman Rohimnya Allah).
Btw……. saya pernah terpancing dengan sebuah sponsor minuman kemasan yang katanya “teh dapat mengatasi lemak” setelah beli, kemudian mengamati label komposisinya, ternyata disitu hanya tertulis teh 2%, ada juga yang teh tradisional alami, eh ….. dilihat labelnya tehnya hanya 4%, dan rasa yang lain adalah perisa identik teh dan penguat rasa.
Hehehe ….. mengapa kok cerita teh ? ini dapat dianalogkan dalam pembahasan permen spiritual ini. Sebelumnya saya mengatakan bahwa “permen seperti ini OK” tetapi yang harus diperhatikan adalah …… apakah ini permen “asli alami”? ….. permen yang yang dibuat dari sari buah dan gula asli akan memberkan manfaat, tetapi permen campuran bahan kimia berbahaya, maka akan menimbulkan masalah dibelakang hari, walau awalnya sama manisnya bahkan lebih enak dari pada yang “asli alami”
Bukan hanya permen fisik, permen spiritual dapat dipandang seperti itu juga, karena kurang sensitif kita akan “spiritual sesungguhnya” diakibatkan oleh kerak-kerak hati dan banyak tumpukan persepsi-persepsi yang telah tertanam di alam bawah sadar kita, sehingga kita tidak dapat membedakan antara “permen alami” dengan “permen sintesis”.
Dalam hal dakwah misalnya ….. dakwah adalah mengajak kepada agama (spiritual) dan kebaikan …. dapat saja seorang da’i berbicara penuh dengan Al Qur’an Hadizt, kata-kata kebaikan … dan ini menimbulkan energi di frekuensinya, energi ini yang masuk ke telinga kita kemudian disampaikan ke otak kita untuk diterima dan diolah ….. tapi jangan lupa, gerak hati juga menimbulkan suatu energi difrekuensinya, energi ini akan ditangkap oleh seluruh tubuh kita terutama oleh hati kita yang sensitif dengan energi semisal ….. bagaimana jika antara lisan dan hati tidak singkron? Lisan mengatakan kebaikan tetapi hati penuh keburukan? Maka telinga/otak kita akan menerimanya sebagai kebaikan, tetapi hati kita akan menerima “perkataan” hati si da’i …. maka sangat tepat nasehat “banyak yang hafal Al Qur’an Hadist, tetapi sukanya mengkafirkan orang lain” … banyak orang yang mengakwahkan kebaikan tetapi keburukan justru yang malah merajalela.
Energi yang masuk ke hati/jantung akan berjalan melalui nadi/jalur-jalur energi sehingga menyebar ke selurh tubuh yang akibatnya akan terefleksi kedalam orang tersebut, bahkan energi dari otak dapat terblok olehnya (pernahkan ingin berbuat kebaikan tetapi menunda-nunda atau malah gak jadi? …… alam bawah sadar inilah, energi halus inilah yang lebih mempengaruhi orang daripada alam sadarnya. ….. ungkapan dakwah adalah dari hati hati mungkin sangatlah tepat …. ilmu adalah cahaya dihati …. ilmu adanya dihati, karena dari hati inilah energi ilmu/dzikir akan menyebar  dan mempengaruhi seluruh tubuh.
Kembali kepada permen ….. indra fisik + otak dapat peka akan gelombang energi-energi pada rentang tertentu, kasar-halus, dan energi hatii ini lebih halus lagi, hingga energi yang terpancar dari hati lebih sulit untuk dirasa, sehingga sensasi-sensasi spiritual hati juga lebih sulit terasa oleh kebanyakan orang, …. sehingga adakalanya permen tersebut diberi penguat rasa, sehingga oleh otak lebih mudah merasakan, tetapi dengan ini juga sangat dimungkinkan diberikan zat adiktif-adiktif dengan cita rasa identik agar “permen sintesis” terasa enak dan terasa alami.
Di zaman akhir ini, akan banyak yang berbau islami tetapi tidak islami, bercitarasa spiritual tetapi jauh dari spiritualisme, pengalaman fikiran berlabel pengalaman ruhani …… permen sintesis (banyak zat tak bermanfaat atau bahkan berbahaya) awalnya akan terasa nikmat bahkan membuat ketagihan, tetapi setelah bertahun-tahun, zat-zat ini akan menumpuk dalam tubuh hingga memicu timbulnya penyakit-penyakit yang berbahaya bahkan dapat lebih berbahaya daripada penyakit fisik secara langsung.
Maka akan banyak metode-metode yang mempermainkan fikiran dan perasaan, otak seseorang sehingga menimbulkan sensasi-sensasi “kebenaran” yang dibalik itu semua hanyalah permen-permen sintesis. Ingatkah ceramah atau lagu yang mendayu-dayu hingga kita tertawa senang atau menangis sedih? Gelombang energi kuat oleh sang penceramah atau penyanyi mengalir pada diri kita, bila hal itu bercampur dengan energi hati (yang lebih halus) yang kotor, maka semua akan mempengaruhi kita, sensasi energi/emosi yang telah menguasai kita dapat menutupi sampah/racun energi yang masuk, sehingga kita merasakan sensasi luar biasa dan dipihak lain kita sedang menumpuk energi penyakit (penyakit hati).  Sangat sesuailah nasehat …. telitilah darimana engkau akan mengambil ilmu.
Sungguh luar biasa orang yang hati dan lisannya berdzikir, ia berirama sama, dalam frekuensi kesesuaian, interferensi saling membangun, yang dalam keterangan-keterangan, inilah dzikir yang terbaik, keduanya berdzikir. Tetapi bila tidak dapat maka, dzikir dengan hati lebih baik, dan bila masih belum sanggup, maka paksalah hati untuk berdizikir dengan dzkir lisan dengan keras, agar telinga mendengar tembus ke fikiran dan hati.
….. HOW …… kalau difikir fikir, ni saya posting begini tu karena rasa iri terhadap orang yang telah merasakan sensasi-sensasi spiritual, karena saya belum merasakannya, dan juga untuk menguatkan kesombongan diri memberi alasan untuk memandang rendah orang-orang  yang telah merasakan nikmatnya ibadah. …. astaghfirulloh …. bagaimanapun, semoga ini juga ada manfaatnya bagi yang lain.
—- By The Way ‘’’’’’’’ bolehlah bagi anak kecil seperti saya (dalam hal agama, walau usia dah besar) sesekali membeli makanan instan/permen sintesis, tetapi tidak boleh terlalu sering agar tidak terlalu banyak racun ditubuh hingga tubuh tidak dapat menghilangkannya. Dan harus berusaha mencari permen “asli alami bergisi” dengan jalan apa? Karena juga tidak dapat membedakan mana yang organik dan mana yang kimiawi, maka dengan bersama dengan teman yang dapat membedakannya atau yang mengeti tempat-tempat untuk membelinya, dan atau membeli hanya kepada penjual terpercaya yang menjual permen bergizi untuk kita. …… tombo ati iku …… kumpulono wong kang sholeh.
Note ….. untuk memberi asupan gizi pada anak kecil, maka metode mengemas makanan bergizi menjadi permen atau hal-hal menarik diperlukan agar si anak menyukainya (tapi utamanya adalah asupan gizi tersebut) …… harga permen “organik bergizi” lebih mahal daripada permen “sintesis” ….. maka sangat mungkin dalam membeli permen spiritual “sintesis” ibadah akan terasa lebih enteng dan rajin, tetapi terkadang membeli permen spiritual “bergizi” ibadah terasa berat untuk melaksanakannya dan penuh perjuangan rasanya dalam melaksanakan hal tersebut, maka tetap laksanakan ibadah tersebut dengan istiqomah, belilah permen yang bergizi walau dengan harga yang lebih mahal, karena lebih menyehatkan.
Bagi orang dewasa …. permen mungkin sudah tidak menarik untuknya, kebutuhannya adalah makan makanan sehat bergizi walau hambar rasanya, bahkan bila merasa sakit, jamu pahitpun akan dimunumnya, bahkan operasi yang menyakitkan akan dijalaninya agar sembuh dari penyakitnya. Kita? Permen saja belum kita dapat.
Salam dari fakir, pengemis, pemulung, pencari permen.

sensasi energi, pengalaman spiritual

wejangan kemaren jum’at mengingatkan lagi bagaimana “sensasi spiritual” atau lebih enak dibilang “sensasi energi”
di awali oleh curhat seseorang, bagaimana tentang apa yang dirasakan ketika ikut berdzikir atau keadaan-keadaan tertentu di hati.
saya sih gak ngerti “spritualisme” benar-benar buta akannya …. dihubungkan dengan energi saja biar enak dipahami, karena memang kemaren dianalogkan dengan energi, teima kasihku nara sumber ….
yang selanjutnya diolah sendiri agar lebih enak dipahami.
mungkin sebelumnya bisa search di blog ini mengenai aura, energi, sensitifitas, cos klo gak salah ingat, dah pernah share (copas lebih tepatnya …. hahahaha …… masih plagiat super copas, maklumnya miskin ilmu)
sekilas saja, energi? setiap orang memliki energi untuk beraktifitas, diantaranya adalah gelombang elektromagnetik (aura) (gelombang adalah getaran yang merambat kata fisika, setiap partikel yang ada selalu bergerak hingga terpancar suatu energi darinya, bahkan aktifitas hidup adalah proses peralihan energi, menyerap dan memancarkan)
kalau dihubungkan dengan spiritual, maka dzikir kita, suara kita adalah gelombang dari lidah dan pita suara kita yang bergetar, sehingga suara kita adalah energi (kasar karena dapat kita dengar), tubuh kita juga bergerak mengikuti dzikir kita, ini pun menimbulkan gelombang energi, jatung/hati kitapun bergetar berdzikir, ini juga menimbulkan energi gelombang (halus, karena tidak terdengar/terlihat dll)
gelombang sendiri dapat juga bersifat sebagai partikel (dualisme gelombang), sehingga sangat dimungkinkan gelombang yang terpancar akan menubruk partikel yang lain, mempengaruhi gelombang atau partikel yang berhubungan dengannya.
merasakan aura? coba saling hadapkan telapak tangan, konsentrasi (fokus) untuk meningkakan sensitifitas kita, dengan merasakan “sensasi” apapun yang terasa di telapak tangan, panas, dingin, kesemutan, semilir angin, adanya tekanan tertentu, tak terlihat atau yang lain …… coba gerakkan sangat perlahan mendekat dan menjauh sekitar 10-30 cm (sangat perlahan), insyalloh mudah merasakannya.
sensasi tersebut? adanya gelombang/partikel/energi yang “menyentuh” sistem sensorik kita, sistem saraf akan bereaksi mengirimkan bio-bio listrik ke otak untuk mengolah data yang diterima, kemudian ditafsirkan agar lebih dimengerti. hasil tafsirannya dapat jadi seperti tafsiran pada kulit, sentuhan-sentuhan, pada lidah rasa-rasa, pada mata penglihatan-penglihatan, pada telinga suara-suara dll.
“gila” mungkin dikarenakan adanya konsleting, salah jalan atau overlap pada saraf pengolah, dapat jadi saraf ketawa yang bekerja hingga ia selalu ketawa, rangsangan apapun direspon dengan ketawa dll.
mengapa jin bentuk pocong hanya lazim di indonesia? zombie, vampir dll di luar negeri? mengapa hantunya kok beda-beda tiap negara? kemungkinan besar karena tafsiran rangsangan dari otak, ketika ada “energi tak dikenal” maka ia akan mengadakan pendekatan-pendekatan sesuai ingatan orang tersebut. Jin ->ada hubungan dengan alam ghoib-> alam ghoib dekat dengan kematian-> kematian dekat dengan perawatan mayat -> diindonesia mayat biasa dipocong (maka terlihat mirip pocong), ada yang alam bawah sadar takut monyet berbulu (hingga terlihat sosok berbulu), ada yang pernah melihat kecelakaan dengan mayat sangat berantakan (maka terlihat wajah buruk berantakan), dll atau campuran ingatan-ingatan tersebut, sesuai dengan ingatan “terpendam” kita untuk lebih dapat mengerti energi tersebut.
an sangat mungkin saja, energi yang sama, akan dideteksi (ditafsirkan) berbeda oleh orang yang berbeda, karena sistem saraf berbeda yang mengsekusi dan juga ingatan berbeda yang telah tertanam didalamnya.
mengapa ada yang dapat melihat/merasakan hal-hal tsb dan sebagian tidak? sangat terkait dengan sensitifitas orang, ingatkah kita merasakan masakan pedas, untuk kita biasa saja, tapi menurut orang lain terasa sangat pedas, mengapa? panas-dingin juga begitu, bagaimana dengan energi/pertikel/gelombang yang halus? Sensitifitas orang berbeda dan sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik maupun kejiwaaannya.
apakah sensasi yang dirasakan mempengaruhi jenis dan besar energi? telah disebutkan diatas bahwa sensifitas tip orang berbeda, contoh ada sambal dengan 5 cabe rawit, si A merasakan sangat pedas, si B merasakan nikmat dan si C tidak merasakan apa-apa, apakah rasa yang berbeda dari si A, B atau C mempengaruhi jumlah cabe? jumlahnya tetap 5, hanya saja sensasi mereka berbeda-beda. jadi jenis dan besar energi yang sama akan dirasakan berbeda oleh tiap orang.
Tapi sebaliknya, jenis dan besar energi yang berbeda akan menimbulkan sensasi yang berbeda, bahkan dapat memaksa orang yang tidak sensitifpun akan merasakannya. ontoh si A, B dan C tersebut memakan 5 cabe seperti diatas, bagaimana jika dipaksa makan 30 cabe? dapat saja si C  yang awalnya tidak merasakn apa-apa, dengan cabe sigitu juga akan merasa kepedasan juga. untuk si A? bisa jadi pingsan atau malah jadi mati rasa…. Hal ini mungkin juga analog untuk orang yang merasakan energi, dengan energi sgini ada yang sensitif dan ada yang tidak, tetapi ketika energinya diperbesar, maka semua akan dapat merasakan hal tersebut.
apakah energi yang tidak terasa itu tidak kuat? ini juga tidak dapat dibuat patokan, tetapi secara wajarnya memang iya, tapi ….. contoh tersebut diatas bahwa si A dengan cabe 30 dapat saja pingsan atau lidahnya mati rasa hingga tidak terasa apa-apa, pernah minum air yang sangat panas? suara yang dapat kita dengar antara 20-20.000 Hz, sehingga suara dibawah atau diatas frekuensi tersebut tidak dapat kita dengar, cahaya (penglihatan) juga hanya gelombang rana cahaya tampak saja yang dapat kita lihat dengan mata kita. sangat bergantung dari toleransi dari sensitifitas kita, bila energi tersebut lebih kecil atau jauh lebih besar dari toleransi sensitifitas kita, maka kita juga tidak akan dapat merasakan atau menafsirkan juga.
bagaimana menyikapi dengan sensasi energi ini? sensasi-sensasi “metafisik” merupakan persepsi dari otak kita, jadi sangat penting membersihkan persepsipersepsi (ingatan-ingatan terpendam/taksadar) agar memberikan tafsiran yang lebih objektif. Penting juga untuk mengasah kepekaan ini agar lebih banyak memahami hikmah-hikmah yang telah diberikan kepada kita. TAPI HAL YANG PENTING seperti yang disampaikan oleh beliau narasumber “tidak perlu diperhatikan apakah sensasi tersebut bercampur dengan persepsi kotor kita atau objektif seperti apa adanya, yang lebih penting adalah mengembalikan hal tersebut kepada Allah, dipasrahkan ke Allah, di ikhlaskan ke Allah untuk mencari ridlo Allah saja, ridlo ALlah yang terpenting dan yang lain kurang penting”
Ini semua hanya ruang lingkup energi, dalam istilah narasumber sih “jiwa” bagaimana dengan ruhaniyah? “spiritual sejati” Allah yang lebih mengetahui dan orang-orang pilihanNya yang diperitahukanNya.
wal hasil ….
kita harus berusaha menggetarkan pitasuara/lidah untuk berdzikir dengan lisan, menggetarkan tubuh untuk berdizir dengan perbuatan, menggetarkan jantung/hati untuk berdzikir dengan qolb, menggetarkan setiap sel/partikel tubuh dengan kullujasad.
akhir ……
Allah A’lam
 

belajar Ikhlas dari “pup”

jorok emang, mbahas kok bahas BAB/ “pup”, tapi ini terinspirasi oleh diskusi emnegnai ikhlas, dan ada yang melontarkan
“ikhlas itu ibarat pup”
bukan berarti menyamakan ikhlas dengan pup, tetapi apaun itu, kejadian apapun dapat kita ambil hikmah dan pelajarannya.
sehingga tidak salah bila kita mengaji “PUP” Vs Ikhlas
1> tidak makan maka tidak “pup”, karena “pup” adalah mengeluarkan sisa makanan dari makanan yang telah dimakan sbelumnya.
keikhlasan juga bisa seperti itu, amal kita ibarat makanan. jadi bila tanpa amal, bagaimana kita akan ikhlas? sehingga keliru apabila punya prinsip, lebih baik tidak beramal dari pada tidak ikhlas. hal tersebut dapat dibenarkan apabila, kita sudah terlalu banyak amal seperti para ulama dan sholikhin, sehingga kita dapat memilihnya, mana yang ikhlas dan yang mana yang tidak, meninggalkan yang tidak ikhlas dan hanya mengerjakan yang ikhlas. untuk kita? belum pantas kiranya, amal kita begitu sangat sangat kurang, sehingga mungkin pantas menggunakan, dalam hal darurat maka diperbolehkan makan seadanya.
2> makanan sehat mendorong “pup” yang sehat pula. makanan yang kotor “beracun” tidak sehat, akan membuat tubuh sakit, “pup” juga akan bermasalah.
bila sebelumnya, kita harus beramal sebanyak-banyaknya, yang perlu diperhatikan adalah, kita harus beramal yang baik, jangan dulu memikirkan ikhlas atau tidak, cukup berusaha memperbanyak amal yang baik dan meninggalkan amal yang buruk.
3> makanan yang dimakan, masuk ke tubuh melalui mulut, kerongkongan, lambung, usus baru dapat “pup”. ada proses yang terjadi sebelum “pup”
keikhlasan juga seperti itu. hal tersebut bukanlah terjadi bim salabim, melainkan ada proses yang terjadi. Hal ini harus kita sadari bahwa keikhlasan akan tumbuh setelah kita berlatih dan berlatih dalam beramal. jangan pernah meninggalkan amal hanya karena alasan tidak ikhlas, justru beramal terus dan terus, dengan istiqomah dan memperbaiki amal tersebut, hingga suatu saat keikhlasan itu dapat diperoleh.
4> “pup” sehat itu apabila didalam usus besar didukung oleh air yang cukup, serat yang cukup, bakteri baik yang banyak, dan cacing pengganggu yang sedikit.
keikhlasan dapat tercapai dengan baik bila amal kita cukup, niat pendorong untuk beramal juga baik, memiliki teman yang baik dan godaan beramal yang harus dihadapi. pahala yang kita peroleh bergantung pada niat yang terbersit dalam hati (alasan mengapa beramal), bagaimanakah amal tersebut, usaha yang kita laukukan dan berapa kesulitan yang harus kita hadapi untuknya?
5> “pup” terkadang juga tidak tuntas, terasa masih mengganjal. hal ini sudah lebih baik dari pada tidak dapat “pup” sama sekali.
keikhlasan juga bertingkat-tingkat, Ada yang HANYA ALLAH, ada yang mencari akhirat karena Allah atau juga mendapatkan dunia seperti yang diperintahkan Allah dalam meraih akhirat. sudah ada unsur ikhlas itu sudah luar biasa walau dari tingkat terbawah, yang harus diusahakan adalah menigkatkan kadar keikhlasan kita. dengan apa? pup sehat dengan badan yang sehat, makanan sehat dan pola hidup sehat.
6> kegiatan “pup” adalah kegiatan jujur. bila sudah kebelet yang akan “pup”, tidak dapat membohongi diri, misalkan pura-pura pup.
keIkhlasan adalah mengenai kejujuran kita, samanya lahir dan batin. kita bersedekah karena hati kita ingin bersedekah, bukan kita bersedekah karena kita ingin terkenal (misalnya). meraih keihlasan juga dapat kita latih dengan belajar jujur akan kata hati, jujur dalam bertindak, jujur dalam berbicara.
7> bila “pup” apalagi kebelet berat, maka kita tidak akan perduli dengan pikiran orang lain. sebisanya kita mencari toilet, bila tidak tertahan, keluar tak tertahan juga dapat terjadi.
keikhlasan adalah mengenai ketidak perdulian kita atas penilaian orang lain terhadap amal yang kita lakukan. kita hanya melakukan, “dah begitu saja”. awalnya kita berusaha untuk berusaha agar amal kita tidak diketahui orang lain, tetapi bila terpaksa, maka dilihat-orang lain atau tidak juga tidak dapat menahan kita dalam beramal. kita beramal karena Allah (harus), bukan karena prikiran orang lain, bahkan walau dicela sekalipun tidak akan menahan kita.
8> selesai “pup”, kita akan merasa ringan, bahkan sensasi ketika “pup” juga akan lupa, berapa yang telah dikeluarkan juga tidak pernah dihitung.
keikhlasan adalah mengenai lupa akan amal kebaikan kita, mungkin sebelum beramal, banyak hal yang terlintas dalam benak kita, tetapi setelah beramal, kita akan melupakannya, kita tidak ingat berapa amal yang telah kita lakukan, tidak pernah memilih ini dari amal ini atau itu, atau alsan beramal ini atau itu, bahkan lupa bahwa pernah beramal.
9> membicarakan “pup” adalah hal tabu, memikirkanya saja dapat memancing muntah. membicarakan “pup” pada orang yang makan dapat memicu muntah atau menghilangkan nafsu makan.
keikhlasan bukanlah suatu pembahasan, keikhlasan mengenai perbuatan. tidak perlu membahas terlalu dalam, karena dapat saja memicu malas beramal dengan alasan belum dapat ikhlas, mengingat amal-amal yang sebelumnya hingga memuntahkan (membicarakannya) dan terjebak riya’. cukup lakukan amal baik, nikmati prosesnya, pasrahkan kepada Allah dan lupakan, karena Allah maha mengetahui. itulah Ikhlas.
maaf
Allah A’lam

Uraian tentang Sholat, menarik !!!!

Sholat bukan menyembah namun Sholat adalah berdiri menyaksikan diri sendiri yaitu bersaksi diri kita sendiri bahwa Tiada Nyata pada Diri Kita Hanya Allah yaitu Diri Batin ( Muhammad Mustaffa ) dan Diri Dzahir kita itu menanggung Rahasia Allah.

Pengertian SHOLAT HAKIKI ter-urai dalam kalimah ALHAMDU (alif–lam–ha–mim-dal) yang bermaksud SEGALA PUJI MILIK ALLAH.
Inilah perkataan yang mula mula dilafazkan oleh manusia yaitu Nabi Allah Adam AS.

“ALIF” Melambangkan NIAT karena niat itu ialah mendzahirkan DIRI BATIN.
Diri inilah IMAM yang kita ikuti yaitu ULIL AMRI atau pemerintah = pemimpin.

“LAM” Bila telah nyata Diri Batin, maka kita lafazkan TAKBIR RATUL IHRAM.
Maka berawal dari sini bukanlah manusia yang berkehendak tetapi segala-galanya adalah digerakkan oleh Allah.

“HA” Apabila telah nyata Allah menguasai diri kita, maka kita pun rukuk menandakan kita tunduk patuh akan Kebesaran Allah dan siap menerima segala PerintahNya.

“MIM” Maka diri kita mengakui bahwa Dzat Allah itulah Tuhan Sekalian Alam yang meliputi seluruh diri kita mengwujudkan dan menghidupkan kita. Kita pun sujud menandakan rasa syukur kita.

“DAL” Satelah kita tahu Dzat telah meng-karunia-kan kepada diri kita menjadi KhalifahNya dibumi ini, maka kita pun merendah diri atas Karuniah itu (yang tidak dikaruniahkan Allah kepada makhluk lain selain manusia )

.
RINGKASAN ALHAMDU

.
ALIF = Niat
LAM = Berdiri Betul
HA = Ruku’
MIM = Sujud
DAL = Duduk Antara Dua Sujud
.

URAIAN TENTANG NIAT

Usalli, Fardhu, Rakaat, Lillah Hi Ta’ala
Usul Diri Rangka Nyata Allah

Usalli = Kita berniat untuk mengusul asal diri kita
Fardhu = Fardhu ialah Diri Yang Di-usul
Rakaat = Rangka kita ialah Jasad yang di dzahirkan
Lillah Hi Taala = Nyata Allah melalui jasad yang dzahir. Barulah dapat diusul akan Asal Usul Diri.
Maka setelah diusul nyatalah Allah itu Meliputi Diri Dzahir dan Diri Batin.

Diri Dzahir tiada mempunyai daya dan upaya melainkan melakukan Af’al Allah semata-mata. Dengan KESADARAN itu maka Nyatalah Kebesaran Allah dan kita-pun TAKBIR untuk meng-ESA-kan Dzat Tuhan itu meliputi sekalian diri.

.
URAIAN TAKBIRATUL IHRAM

Allah = Sifat Napsiah = 1
Hu = Sifat Salbiah = 5
Akbar = Sifat Maani & Maknuyah = 14

Maka nyatalah ke 20 Sifat-sifat Kebesaran Allah didalam ucapan “ALLAH HU AKBAR”.

.

HAKEKAT SHOLAT :

Artinya berdiri menyaksikan diri sendiri, kita bersaksi dengan diri kita sendiri bahwa tiada yang nyata pada diri kita.. Hanya diri batin (Allah) dan diri dzahir kita (Muhammad) yang membawa dan menanggung rahasia Allah swt.

Hal ini terkandung dalam surat Al-Fatihah yaitu :
Alhamdu (Alif, Lam, Ha, Mim, Dal)

Kalimah Alhamdu ini diterima ketika Rasulullah isra’ dan mi’raj.
Mengambil pengertian akan hakekat manusia pertama yang diciptakan Allah swt yaitu Adam AS.

Takkala Roh (diri batin) Adam AS sampai ketahap dada, Adam as pun bersin dan berkata Alhamdulillah = Segala puji bagi Allah
Apa yang dipuji adalah : Dzat (Allah), Sifat (Muhammad), Asma’(Adam) dan Afa’al (Manusia)

Jadi sholat itu bukan berarti : Menyembah tapi suatu “cara” penyaksian diri sendiri dan sesungguhnya tiada diri kita melainkan diri Allah semata.

Kita menyaksikan bahwa diri kitalah yang membawa dan menanggung rahasia Allah SWT Dan tiada sesuatu pada diri kita hanya rahasia Allah semata serta..tiada sesuatu yang kita punya kecuali Hak Allah semata.

Sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Ahzab : 72

“Inna ‘aradnal amanata ‘alas samawati wal ardi wal jibal. Fa abaina anyah milnaha wa’asfakna minha wahamalahal insanu”

Artinya :

“Sesungguhnya kami telah menawarkan suatu amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung tapi mereka enggan menerimannya (memikulnya) karena merasa tidak akan sanggup, lantas hanya manusia yang sanggup menerimanya”
Dan karena firman Allah inilah kita mengucap :

“Asyhaduanlla Ilaaha Illallah Wa Asyahadu Anna Muhammadar Rasulullah”

.

“Kita bersaksi dengan diri kita sendiri bahwa tiada yang nyata pada diri kita sendiri hanya Allah semata-mata dengan tubuh dzahir kita sebagai tempat menanggung rahasia Allah dan akan menjaganya sampai pada masa yang telah ditentukan.”

Manusia akan berguna disisi Allah jika dapat menjaga amanah Rahasia Allah dan berusaha mengenal dirinya sendiri. Bila manusia dapat mengenal dirinya maka dengan sendirinya ia dapat mengenal Allah.

.

Hadits Qudsi….

“MAN ARAFA NAFSAHU FAKAD ARAFA RABBAHU”
“Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Allah Tuhannya”

.

Perkataan pertama dalam sembahyang itu adalah : Allahu Akbar (Allah Maha Besar)

Perkataan ini diambil dari asal ketika Roh diri Rahasia Allah itu dimasukkan kedalam tubuh Adam as. Kemudian Adam berusaha berdiri sambil menyaksikan keindahan tubuhnya dan berkata : Allahu Akbar (Allah Maha Besar).

Dalam Sholat harus memenuhi 3 syarat :

1. Fiqli (perbuatan)
2. Qauli (bacaan)
1. Qalbi (Hati atau roh atau qalbu).

sumber : http://pena-tintaku.blogspot.co.id/2016_03_01_archive.html

ngaji dan dzikir, dengan fikiran ngelantur ????

Saya gak ngerti dengan yang lain, ketika ngaji di depan guru atau ikut majelis dzikir wah fikiran malah neglantur, jalan-jalan ke sana ke mari.
Malu (hanya omongan tog) terutama di hadapan guru/orang yang dapat membaca isi hati ini, tapi ya gitu ….. saya bilang omong tog, terbukti, fikiran tetap saja melayang walau berkata malu.
Seumur-umur, sangat penasaran, apa itu khusuk? bagaimana rasanya khusuk itu?
Di dalam majelis “guru” mulia, sungguh memalukan membawa fikiran buruk dan aneh-aneh, padahal sebelum berada dalam majelis tersebut, fikiran juga tenang-tenang saja, kemudian segera dalam majelis, fikiran fikiran penuh kotoran memenuhi kepala.
Hal ini yang biasa menyebabkan, “malu” untuk datang, “buat apa” datang apa ada pahala dll, bejibun alasan-alasan itu timbul, agar tidak datang.
Tapi beberapa waktu yang lalu, ada nasehat yang luar biasa menurut saya!
beliau bercerita, ketika menghadap para ulama yang “waskita”, beliau akan bercerita lepas, semua yang ada di fikirannya, termasuk yang jelek-jelek. beliau juga mengatakan, “pak kyai, saya ini datang ke jenengan untuk memperbaiki diri, jadi saya tidak akan pergi sebelum pak memperbaiki saya” begitu kira-kira yang saya tangkap.
dari sini, saya mulai membangun “niat”, biarlah saya datang ke majelis “guru” mulia, atau majelis-majelis “surgawi” lainnya dengan hati dan fikiran yang penuh kotoran dan berlumur dosa. Toh memang saya datang itu adalah untuk memperbaiki diri.
Untuk apa saya malu? ya memang harus malu, tapi bagaimana lagi, diri ini memang manusia buruk, yang datang ke majelis-mejelis seperti itu sebagai bengkel hati. Jika datang ke sebuah bengkel, justru kebobrokan-kebobrokan jangan ditutup-tutupi agar dapat segera diperbaiki. bila ditutupi malah tukang servisnya tidak mengetahui dan tidak tertangani. bagaimana jika ternyata hal tersebut adalah vital?
biarlah banyak penceramah yang bilang, tidak berguna ibadah yang tidak khusuk. itu bukan tingkatan saya. tingkatanku adalah datang ke bengkel untuk perbaikan, entah kapan mobil ini dapat dikendarai.
ya Allah, ya Rosululloh, ya Sayyidi, saya datang kepadamu tidak membawa kebaikan sama sekali, melainkan membawa semua keburukanku. Engkau telah berkata “syafaatku adalah untuk orang pendosa”,maka aku mohon syafa’atmu ya Sayyidi, ya Rosululloh.
Apakah ini riya’? dah biarlah, toh semua ibadahku penuh dengan riya’. Bagaimanakah khusuk? dah biarlah, toh itu bukan untukku, untukku hanyalah terpaksa melakukan ibadah, dan berharap belas kasihan.
ya Allah, ya Sattar ya Ghoffar Tutuplah aib ini.