meninggalkan sosmed menjadi lebih bahagia

Liputan6.com, Jakarta Kunci menuju kebahagiaan bisa semudah menjauhi Facebook selama seminggu, menurut sebuah studi baru di Denmark yang dilansir dari Medical Daily, ditulis Kamis, 12/11/2015.
Para peneliti dari The Happiness Institute menguji seberapa besar pengaruh media sosial terhadap kebahagiaan secara umum. Ada 1.095 total pengguna jejaring sosial Facebook yang ditanyai mengenai tingkat kepuasan hidup mereka dengan skala 1 sampai 10 berdasarkan faktor yang berbeda, seperti seberapa bahagiakah mereka, seberapa sering mereka menikmati hidup mereka, apakah mereka merasa khawatir atau sedih, dan apakah mereka bersemangat.
91 persen mengaku membuka Facebook paling tidak sekali dalam sehari. Setelah dilakukan evaluasi, setengah dari grup diminta untuk menghindari Facebook selama seminggu, sementara setengah lainnya dibolehkan menjalani kehidupannya secara normal.
Seminggu kemudian, kepuasan hidup para partisipan kembali diukur. Hasilnya mengungkapkan bahwa mereka yang tetap menggunakan Facebook mengalami sedikit peningkatan kebahagiaan dalam kepuasan hidup mereka, dengan rata-rata kenaikan rating kepuasan hidup mereka dari 7.67 ke 7.75. Namun, grup ini juga 55 persen kemungkinan merasa stres. Grup lainnya yang tidak menggunakan media sosial, mengalami peningkatan kebahagiaan yang signifikan, rating kebahagiaan mereka melonjak dari 7.56 ke 8.12.
Partisipan yang meninggalkan Facebook juga mengalami peningkatan dalam aktivitas dan kepuasan pada kehidupan sosial mereka. Ketika mereka kembali ditanyakan tentang mood mereka pada beberapa hari terakhir eksperimen, mereka melaporkan merasa lebih bahagia dan jarang sedih, dibandingkan dengan mereka yang tetap membuka Facebook. Namun secara keseluruhan, grup yang meninggalkan Facebook mempunyai 18 persen hidup untuk masa kini saja.
Meik Wiking, CEO dari Happiness Research Institute mengatakan, bahwa Facebook tidak sepenuhnya buruk, namun lebih kepada kemungkinan mempengaruhi cara individu melihat hidup mereka. “Facebook mendistorsi persepsi kita tentang kenyataan dan tentang apa yang terlihat pada hidup orang lain,” ujar Wiking. “Kita menilai hidup kita berdasarkan perbandingan dengan orang lain, dan karena orang hanya mengunggah hal yang positif saja di Facebook, membuat persepsi kita tentang kenyataan menjadi bias.”
Facebook menjelma menjadi sebuah “saluran berita hebat tanpa henti” dan menempatkan para pengguna pada resiko untuk melihat secara negatif tentang hidup mereka sendiri. “Hal itu tidak seharusnya dijadikan sebuah acuan untuk mengevaluasi hidup kita sendiri,” tambah Wiking. Menurut para peneliti, ini dikarenakan manusia mempunyai kecenderungan bawaan untuk lebih fokus pada kehidupan orang namun dankehilangan fokus tentang apa yang mereka butuhkan.
Sebagai contoh, studi ini menemukan banyak dari sukarelawan merespon negatif terhadap postingan Facebook orang lain ketika mereka memasukkan tagar #AMAZING, #HAPPY, atau #SUCCESS.
Sebuah studi baru lainnya menemukan kebahagiaan pada orang dewasa usia 30-an keatas mengalami penurunan, dan studi tersebut menyatakan bahwa media sosial sebagai “pelaku utama” penyebab tren penurunan tersebut. Sementara kalangan dewasa muda berkembang bersama teknologi, yang menyebabkan perilaku mencari perhatian, orang dewasa yang lebih tua jelas-jelas tidak mengalami akibat yang sama. (Melodia)

sumber: http://health.liputan6.com/read/2364194/tinggalkan-facebook-ternyata-buat-hidup-lebih-bahagia?utm_source=FB&utm_medium=Post&utm_campaign=FBhealth

Handphone

Katanya engkau dibuat untuk
menyambung sulaturrahim,
Orang bilang connecting people, tapi
tersambunglah yang jauh dan
hancurlah yang dekat..
Bertamu .. main hape. Ngaji juga main hp .
Terima tamu .. main hape.
Bekerja .. main hape.
Belajar .. main hape.
Sambil makan .. main hape.
Di tengah keluarga main hape.
Nemenin suami main hape.
Kiamatkah duniamu tanpa hape.
Kadang terlihat dua orang saling
duduk berhadapan, tidak berbicara
sama skali, krn salah satu atau
keduanya sibuk main hape Kalaupun
hrs bicara akhirnya tidak nyambung
dan muncul sikap tidak lg peduli.
Punya masalahpun bkn lg
mendatangi keluarga yg dekat, tp
membahas di sosmed rasanya lbh
‘afdhal’.
Manusia menjadi ‘ada tapi tiada’.
Sahabat…..
jasad jasad yang telah menjadi
zombie berkeliaran.
Hidupnya hanya seputar dunia dalam ponselnya.
Basahnya embun pagi
hangatnya
matahari pagi
jabat erat tangan
sahabat telah hilang dan diganti dg
gambar gambar mati pd ponsel
Gerak petualangan akan hebatnya
bumi jg sdh diganti hanya dg gerakan telunjuk dan jempol
Wajah wajah mulai pucat tubuh
mulai ringkih dan pahala pahala
berterbangan sia sia sbg resiko
terburuk yg mungkin dimiliki, sedang
engkau tak kemana mana dan belum
melakukan apapun selain
menggerakkan jempol dan jarimu pd
layar kecil yang penuh sihir ini.
Hidup dalam kematian itu adl
keniscayaan, tapi mati dalam
kehidupan itu pilihan….
Maka bangunlah hiduplah
sebagaimana manusia itu hidup
Saat suami/istri datang, simpan hapemu!
Saat anak bercerita, simpan hapemu!
Saat ibu ayah bicara, simpan
hapemu!
Saat tamu berkunjung, simpan hapemu!
Saat rumah bau berantakan, simpan
hapemu!
Saat matahari merekah, udara sejuk
angin semilir burung bersiul, anak
tertawa riang, orang berbicara, simpan
hapemu!
Perhatikan duniamu dg seksama.
Sebab nikmat Ilahi ada di sana.
Surgamu
ada hanya jika kau
perhatikan sekelilingmu dan ikut
andil dalam perbaikan pada dunia
nyatamu.
Hiduplah!
Engkau belum mati, tapi sudah
bertingkah seperti mayat.

SEMOGA MANFAAT..
TETAP TETSENYUMLAH

sumber : https://www.facebook.com/groups/ThoriqahSarkubiyah/permalink/1176818752345597/

beratnya sebutan ustadz

Guru dalam khazanah Arab, memiliki banyak istilah yang berbeda-beda, yaitu: Mudarris, Mu’allim, Muaddib, Musyrif, Murabbi Mursyid, dan termasuk Ustadz. Masing-masing istilah memiliki makna tersendiri.
[1]. Mudarris artinya guru, tetapi lebih spesifik: Orang yg menyampaikan dirasah atau pelajaran. Siapa saja yg menyampaikan pelajaran di hadapan murid-murid, dia adalah Mudarris.
[2]. Mu’allim artinya guru juga, tetapi lebih spesifik: Orang yg berusaha menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya mereka belum tahu. Tugas Mu’allim itu melakukan transformasi pengetahuan, sehingga muridnya menjadi tahu.
[3]. Muaddib atau Musyrif, artinya juga guru, tetapi lebih spesifik: Orang yg mengajarkan adab (etika dan moral), sehingga murid-muridnya menjadi lebih beradab atau mulia (syarif). Penekanannya lebih pada pendidikan akhlak, atau pendidikan karakter mulia.
[4]. Murabbi artinya sama, yaitu guru, tetapi lebih spesifik: Orang yg mendidik manusia sedemikian rupa, dengan ilmu dan akhlak, agar menjadi lebih berilmu, lebih berakhlak, dan lebih berdaya. Orientasinya memperbaiki kualitas kepribadian murid-muridnya, melalui proses belajar-mengajar secara intens. Murabbi itu bisa diumpamakan seperti petani yg menanam benih, memelihara tanaman baik-baik, sampai memetik hasilnya.
[5]. Mursyid artinya juga guru, tetapi skalanya lebih luas dari Murabbi. Kalau Murabbi cenderung privasi, terbatas jumlah muridnya, maka Musyrid lebih luas dari itu. Mursyid dalam terminologi shufi bisa memiliki sangat banyak murid-murid.
[6]. Baru kita masuk pengertian Ustadz. Secara dasar, ustadz memang artinya guru. Tetapi guru yg istimewa. Ia adalah seorang Mudarris, karena mengajarkan pelajaran. Ia seorang Mu’addib, karena juga mendidik manusia agar lebih beradab (berakhlak). Dia seorang Mu’allim, karena bertanggungjawab melalukan transformasi ilmiah (menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya tidak tahu). Dan dia sekaligus seorang Murabbi, yaitu pendidik yg komplit. Jadi, seorang ustadz itu memiliki kapasitas ilmu, akhlak, terlibat dalam proses pembinaan, serta keteladanan.
Dalam istilah Arab modern, kalau Anda menemukan ada istilah “Al Ustadz Ad Duktur” di depan nama seseorang, itu sama dengan “Profesor Doktor”. Jadi Al Ustadz itu sebenarnya padanan untuk Profesor. Kalau tidak percaya, coba tanyakan kepada para ahli-ahli Islam yg pernah kuliah di Timur Tengah, apa pengertian “Al Ustadz Ad Duktur”?
Sejujurnya, istilah Ustadz itu dalam tataran ilmu, berada satu tingkat di bawah istilah Ulama atau Syaikh. Kalau seseorang disebut Ustadz, dia itu sebenarnya ulama atau mendekati derajat ulama.
Ke depan, jangan mudah-mudah menyebut atau memberi gelar ustadz, kalau memang yang bersangkutan tidak pada proporsinya untuk menerima hal itu. Sebagai alternatif, orang-orang yang terlibat dalam dakwah Islam bisa disebut sebagai: Dai (pendakwah), muballigh (penyampai risalah), khatib (orator), ‘alim (orang berilmu), dan yg semisal itu.
sumber : http://ummatipress.com/mengenal-ustadz-asli-dan-ustadz-palsu.html

Selain kami adalah Syi’ah ! Fitnah baru yang dihembuskan

Akhir-akhir ini membaca status Fb yang “kelihatannya menyebarkan dakwah Islam” ehhh banyak membahas syiah ini dan itu. apa salah pilih group/accunt ya?
moga artikel dibawah ini dapat menjernikan kita para Aswaja (Ahlussunnah Wal Jam’ah) dalam memahaminya …
UmmatiPress, Fitnah Wahabi –  Dulu kaum wahabi sangat hobi bilang bid’ah dan syirik. Mereka dalam pembicaraannya, baik dalam khotbah-khotbah Jum’at atau di forum-forum resmi atau dalam percakapan keseharian mereka ujung-ujungnya selalu menuduh umat Islam selain golongannya sebagai ahlul bid’ah, sesat dan musyrik.
Tahlilan, Yasinan, do’a selamatan divonis bid’ah sesat dan masuk neraka. Ziarah kubur, tawassul, istighotsah dan tabarruk divonis sebagai amalan syirik, sehingga kaum muslimin selain golongannya yang melakukan ziarah kubur disebut kuburiyun, dan yang bertawassul, bertabarruk, dan beristighotsah disebutnya musyrikun.
Kemudian ustadz-ustadz Aswaja (yang merasa dituduh atau difitnah) tampil memberikan klarifikasi atas tuduhan-tuduhan keliru mereka, dengan cara mengajak dialog terbuka atau mudzakaroh terbuka. Di sinilah para ustadz Aswaja dengan elegan mengemukakan dalil-dalil shahih untuk membantah vonis-vonis keliru sehingga berefek fitnah.
Para ustadz Aswaja tampil unggul dalam hujjah sehingga para ustadz Wahabi selalu tergagap-gagap dalam menanggapi dalil-dalil yang dikemukakan Aswaja. Sederet nama ustadz Aswaja itu antara lain, Ustadz Muhammad Idrus Ramli, Buya Yahya, Tengku Zulkarnaen dan masih banyak lagi yang tidak terkenal.
Semenjak selalu kalahnya mereka dalam beradu hujjah, akhirnya mereka bisa dikatakan tidak berani lagi berdialog tentang persoalan isu-isu Bid’ah dan Syirik. Bisa dikatakan Wahabi itu sudah kalah dalil, tetapi kelihatannya mereka tidak mau sadar atas kekeliruannya. Dan sekarang rupanya mereka justru menjadi rajin mencari kambing hitam.Lalu siapa kambing hitamnya? Tidak lain adalah SYI’AH!
Misalnya kasus di Mesir, kini di sana jika ada seseorang yang tidak mendukung Presiden Mursi maka disebutnya sebagai Syiah. Jadi berapa juta kaum Syiah di Mesir, apakah 22 juta sejumlah rakyat yang turun di jalan-jalan di seluruh Mesir menuntut lengsernya presiden Mursi? Padahal Mayoritas rakyat Mesir adalah Aswaja, Syiah hanya kaum super minoritas sebagaimana halnya di Indonesia di mana kaum Syi’ah adalah kaum yang super minoritas tetapi dibesar-besarkan oleh kaum Wahabi.
Kasus di Suriah, Jika ada orang-orang yang tidak mendukung FSA di Suriah maka disebutnya Syiah yang darahnya halal. Padahal rakyat Suriah mayoritas adalah Aswaja. Sebagai buktinya kalau rakyat Suriah adalah Aswaja bisa di lihat siapa yang menjabat mufti agung Suriah. Mereka bertuturut-turut adalah ulama-ulama Aswaja (Sunni), seperti Syaikh Ramadhan Al Buti, Syaikh Ahmad Hassun sebagai pengganti Al Buti yang gugur syahid dibom bunuh diri dalam masjid al Iman Damaskus saat mememberikan pelajaran agama?
Jika anda memberitakan berita yang sebenarnya terjadi di Suriah, dimana beritanya merugikan FSA (teroris moderat menurut Barat), ISIS, Jaish al-Islam, Jabhat al-Nusra, Ahrar al-Sham dan kelompok teroris lainnya yang ada di suriah, maka sang penyampai berita pasti akan dituduh sebagai Syiah. Kita tahu siapa di balik kelompok-kelompok teror yang telah membuat warga suriah dibantai sehingga mereka terpaksa jadi pengungsi meninggalkan rumah-rumah mereka, di balik teror itu adalah kaum Wahabi. Intinya, jika kita tidak mendukung Wahabi Salafi maka langsung dituduh sebagai Syiah. Seakan ini sudah menjadi rumus pasti akhir-akhir ini.
Padahal selain Wahabi dan Syiah masih ada satu lagi yaitu Aswaja yang menjadi ummat mayoritas dalam Islam. Di antara ketiga golongan ini tentunya punya kemiripan dalam ajarannya antara satu dan lainnya, karena ajarannya sama-sama bersumber dari satu sumber, yaitu Islam. Ajaran Aswaja (Sunni) ada miripnya dengan Wahabi dan Syiah dan sebaliknya.
Tetapi kenapa Wahabi membuat isu seakan-akan di dunia ini cuma ada Wahabi dan Syiah? Kenapa di hadapan kaum Syiah, Wahabi selalu memakai nama Sunni? Wahabi sedang ber-taqiyah sebagai Sunni? Bukankah Sikap Wahabi bertopeng Sunni ini fitnah besar bagi Sunni? (Alif Lamron) (sumber : http://ummatipress.com/ini-fitnah-baru-wahabi-terhadap-umat-islam.html)
Wahabi juga biasa bersembunyi dalam nama Salaf/Salafi agar kelihatan mirip atau dekat dengan istilah “ulama salaf” padahal ulama besar mereka, Ibnu Taimiyah saja lahir: tahun 1263 M/661 H – wafat: 1328 M/ 728 H atau ahli Hadist mereka, Hassan al-Banna lahir: 1906 M – wafat : 1949 M, mereka termasuk baru, berbeda dengan Aswaja Yang rantai keilmuan (sanad) kepada para Imam Madzhab dan para Ahli Hadist, yang pemahamannya turun temurun secara mutawatir sampai pada kita, sehingga Aswaja menjadi golongan terbesar muslimin di seluruh dunia.
Wahabi juga biasa bersembunyi dalam nama ahlussunnah untuk mengaburkan pengikut Aswaja “ahlussunnah wal jama’ah”, dengan menghilangkan kalimat wal jama’ah dan dengan slogan kembali ke Al Qur’an dan hadist, Kita ahlussunnah Wal Jamaah (aswaja) mengikuti Al Qur’an dan hadist melalui para guru kita. sesuai yang beliau proleh dari gurunya, gurunya ke gurunya bersambung kepada Rosululloh. Sehingga kemurnian ajaran dan pemahaman tetap terjaga dari Rosululloh ke kita, apa lagi ditashhih oleh banyak ulama sebagai golongan yang terbesar.

Pendidikan Ala Kyai Bisri Mustofa

Metode pengajaran yang dikembangkan oleh KH. Bisri Mustofa di Pesantren Rauldatuth Tholibin pada awal berdirinya adalah murni salaf (ortodoks). Pengajaran dilakukan dengan cara bandongan (kuliah umum) dan sorogan (privat). Keduanya diampu langsung oleh KH. Bisri Mustofa sendiri.

Pendidikan Santri

Metode pengajaran yang dikembangkan oleh KH. Bisri Mustofa di Pesantren Rauldatuth Tholibin pada awal berdirinya adalah murni salaf (ortodoks). Pengajaran dilakukan dengan cara bandongan (kuliah umum) dan sorogan (privat). Keduanya diampu langsung oleh KH. Bisri Mustofa sendiri. Ketika jumlah santri meningkat dan kesibukan KH. Bisri Mustofa bertambah maka beberapa santri senior yang telah dirasa siap, baik secara keilmuan maupun mental, membantu menyimak sorogan. Pengajian bandongan terjadwal dalam sehari semalam pada masa KH. Bisri Mustofa meliputi pengajian kitab Alfiyyah dan Fath al-Mu’in sehabis maghrib, Tafsir Jalalain setelah jama’ah shubuh, Jam’ul Jawami’ dan …. pada waktu Dhuha, selain itu KH. Bisri Mustofa melanjutkan tradisi KH. Cholil Kasingan mengadakan pengajian umum untuk masyarakat kampung sekitar pesantren tiap hari Selasa dan Jum’at pagi.
Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang adalah wujud kecintaan K. Bisri kepada ilmu pengetahuan. Di tempat inilah belian mengajarkan ilmu kepada santri-santri dengan istilah beliau ‘kulakan’ atau ‘grosiran’, sebab banyak materi diberikan dengan jangka waktu yang panjang dan penjelasan yang mendetail. K. Bisri tidak pernah lelah mengajar santri-santrinya. Pernah di suatu ketika menjelang subuh K. Bisri tiba di rumah dari menghadiri pengajian di suatu tempat. Perjalanan pulang ke rumah terasa melelahkan, walaupun demikian K. Bisri tetap menunggu waktu subuh untuk kemudian mengajar.
Bagi K. Bisri kewajiban seorang santri adalah belajar dan belajar agar hal ini dapat dilaksanakan oleh semua santrinya maka beliau selalu mengawasi santri-santrinya supaya lebih banyak menggunakan waktunya untuk belajar. Untuk mendapatkan ilmu menurut Kyai Bisri tidak ada cara lain kecuali belajar. Barokah dan lain sebagainya bisa mengalir ketika kita mau belajar dengan tekun. Ketika ada seorang santri mengantuk pada waktu ngaji K. Bisri yang mengatahuinya langsung marah dan berkata “Jangan mengaji kepadaku!!! Mengajilah pada K. Ma’ruf yang sudah punyak barokah, sebab aku belum punya barokah”. Kalimat ini dimaksudkan bahwa soal-soal supranatural yang irrasional dalam menuntut ilmu misalnya laduni, jadug tanpa tirakat, pinter tanpa meguru, bukanlah aliran yang diikuti Kyai Bisri.
Pernah suatu kali ada seorang santri dari pondok lain sowan ke hadapan beliau. Santri tersebut minta didoakan agar cepat kefutuh hatinya sebab pada saat itu dia sedang menjalani laku tirakat dengan cara menziarahi makam-makam walisanga yang terkenal itu dengan berjalan kaki. Oleh K. Bisri, santri tersebut justru dimarahi. Terjadilah tanya jawab yang menarik.
“Sampean sudah berapa lama berjalan?”
“Wah sudah kira-kira dua bulan Kyai. Saya sekarang hampir menyelesaikan separuh perjalanan. Saya sekarang dalam perjalanan ke Jawa Timur dan Madura.”
“Sampean sudah ijin sama Kyai sampean?”
“Sudah Kyai, malahan saya dipeseni untuk mampir, sowan sama Kyai.”
“Sekarang pondok apakah sedang liburan?”
“Tidak Kyai.”
“Kyai sampean apa sedang sakit?”
“Tidak Kyai.”
“Berarti sekarang kegiatan belajar mengajar di pondok tetap berlangsung?”
“Iya Kyai.”
“Sekarang sampean pulang saja. Naek bis. Jangan jalan kaki! Nanti tak sangoni kalau sampean ndak punya uang untuk ongkos. Pulang ke Pesantren!”
“Lo saya sekarang kan sedang menjalankan laku saya, Kyai..”
“Lo, lo, lo, gimana to sampean? Sampean saat ini sedang mondok. Meguru pada seorang Kyai. Kalau sekarang Kyai sampean mengijinkan sampean menjalani laku semacam ini bukan karena beliau menyetujui. Itu karena Kyai sampean adalah orang yang beradab sehingga sungkan sama sampean. Namanya dzolim kalau sampean meneruskan laku sampean itu. Umur dan status sampean sekarang pelajar, muta’allim. Tugasnya belajar, nderespada seorang guru. Apalagi tadi kata sampean, laku sampean itu supaya bisa kefutuh hatinya. Nanti sampaikan salam saya pada Kyai sampean.”
“Tapi Kyai…”
“Ndak ada tapi-tapinan. Orang-orang nyebut saya ini Kyai. Kyai yang ngalim malah. La kok sampean yang belum apa-apa ngeyeli saya. Saya sudah pengalaman. Teman-teman saya yang Kyai buanyak. Ngalim-ngalim semua. Kefutuh semua. Ndak ada itu yang pinter dan ngalim gara-gara laku kayasampean. Yang ada ya nderes. Nanti kalau pas liburan atau pondok sedang tidak aktif, bolehlah sampean jalan-jalan ziarah ke makam wali-wali. Kalau pondok sedang aktif ya di pondok aja. Ngaji. Nderes.”
sumber : http://ppssnh.malang.pesantren.web.id/cgi-bin/content.cgi/artikel/pendidikan_alayaibisri.single?seemore=y

Prinsip dalam Khalaqah Zikir

Kita harus berhati-hati. Prinsip yang sangat penting dalam halaqah Zikir adalah agar setiap orang di dalam majelis itu memadukan suara mereka dengan nada dan irama yang sama dengan imamnya. Kalau tidak, zikir itu akan terdengar kacau di telinga dan mengganggu kalbu, karena itu akan seperti orang yang berteriak-teriak, tidak ada lagi kelembutan dan para malaikat akan pergi, sehingga itu hanya akan membuang-buang waktu saja. Jika kalian tahu bahwa kalian tidak dapat memadukan suara kalian, jangan dikeraskan, pelankan suara kalian, dan biarkan yang lain memadukan suaranya bersama.

Citra Gus Mus

 “Saya ini korban pencitraan”, kata Gus Mus
1970-an, sekelompok anak muda NU intens berkonsolidasi. Bediskusi, bergerak, menulis, bicara di berbagai forum, membangun jaringan, merintis tapak menuju masa depan yang lebih baik bagi NU dan Indonesia. Dipimpin Gus Dur, Gus Mus termasuk salah seorang di antara mereka.
Publik pun lantas mengenal mereka sebagai “kelompok muda NU”, suara kaum muda, pemimpin-pemimpin muda. Atribut “muda” itu begitu kuat melekat pada citra diri mereka sehingga kehadiran mereka senantiasa “terasa muda”.
“Sekarang ini orang lupa kalau aku sudah tua. Dikiranya muda terus…” kata Gus Mus.
Pada mulanya Gus Dur mengajak Gus Mus ikut tampil membacakan puisi-puisi karya penyair-penyair Palestina dalam sebuah pentas solidaritas penyair-penyair Indonesia untuk Bangsa Palestina. Sejak saat itu, orang memandang Gus Mus sebagai penyair.
“Karena terlanjur dianggap penyair, terpaksa saya juga menulis puisi-puisi”, kata Gus Mus.
Kokohlah citra Gus Mus sebagai penyair, seniman, dan budayawan. Pentas-pentas baca puisi, seminar-seminar dan diskusi-diskusi ilmiah ala intelektual kota dilalapnya.
Orang menjadi lupa-lupa ingat bahwa Gus Mus terlahir sebagai santri kendil. Hidup sebagai santri kendil, menyikapi hidup dengan naluri santri kendil, menjalaninya ala santri kendil. Saya pernah dimarahi habis-habisan gara-gara membuat proposal permintaan bantuan dana kepada Pemerintah untuk bangunan pondok.
“Hati-hati mencari uang!” katanya, “Abahmu dan embahmu tidak pernah mementingkan bangunan yang bagus-bagus. Apa pun adanya, yang penting barokah!”
http://teronggosong.com/2014/09/citra-gus-mus/

Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup?

Suatu hari Kahlil Gibran berdialog dengan Gurunya.
Gibran : “Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup?”
Sang Guru merenung sejenak lalu menjawab, : “Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali kebelakang!!”

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa. Lalu sang Guru bertanya : “Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun?”
Gibran : “Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi tidak ku petik karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah, namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali kebelakang lagi!”
Sambil tersenyum sang Guru berkata : “Yaa… itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak akan pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan yang ada!!”
Lakukanlah hal-hal sprti ini :
Bila tidak mungkin memberi, Jangan mengambil!
Bila mengasihi terlalu sulit, Jangan membenci!
Bila tidak bisa menghibur orang, Jangan membuatnya sedih!
Bila tidak mungkin meringankan beban orang, Jangan memberatkannya!
Bila tidak bisa memuji, Jangan menghujat!
Bila tidak bisa menghargai, Jangan menghina!
Jadilah orang yg pandai bersyukur dan ikhlas menerima kekurangan diri sendiri dan orang lain smbil terus berupaya memperbaiki diri. ( AGUS INDORHAMA)
sumber : https://www.facebook.com/bhayuheavenoneartjazz/posts/779025098873532

spiritual = melihat hal ghoib?

T : Dia bisa melihat makhluk gaib om. Aku pengen bisa liat gaib kayak dia. Om bisa buka mata batin ku?
J : Kamu percaya apa yang dibilangnya?
T : Percaya om.

J : Coba bilang sekali lagi di dalam batin mu, bahwa kamu percaya sama dia sambil merasakan kepercayaan di batin kamu. Nyaman gak?
T : Hmm.. gak nyaman.
J : Dirimu yang sebenarnya berarti nggak percaya. Tapi keinginan mu yang pengen bisa liat gaib yang bilang percaya.
____________________________
Pemahaman itu datang dari dalam, segala yang di luar hanyalah mengantarkan munculnya pemahaman di dalam.
Spiritual adalah realitas yang dialami diri sendiri dan bukan pengalaman orang lain.
Terlalu sering fikiran menghebatkan orang lain tapi sangat jarang merasakan kehebatan diri sendiri.
*)Shamanic.
sumber : https://www.facebook.com/groups/spiritual.indonesia/permalink/907938332589025/

sekolah hanya 4-5 jam, pelajar bisa pandai

Sekolah Cuma 5 Jam, Tanpa PR & Ujian Nasional, Kenapa Pelajar di Finlandia Bisa Pintar?
Semasa sekolah dulu, rasanya mustahil kamu bisa dijuluki murid pintar kalau dapat ranking bontot. Apalagi kalau gak lulus Ujian Nasional, rasanya dunia selesai di titik itu. Ketatnya persaingan di sekolah mungkin memang bertujuan supaya kita berlomba-lomba jadi lebih pintar. Tapi tahukah kamu, negara dengan pendidikan terbaik dan murid terpintar di dunia yaitu Finlandia justru melakukan hal yang sebaliknya?
Berbeda dengan kita yang harus menghadapi ujian nasional tiap mau naik jenjang sekolah, seumur-umur pelajar di Finlandia hanya menghadapi 1 ujian nasional ketika mereka berumur 16 tahun. Tidak hanya minim pekerjaan rumah, pelajar di Finlandia juga mendapatkan waktu istirahat hampir 3 kali lebih lama daripada pelajar di negara lain. Namun dengan sistem yang leluasa entah bagaimana mereka justru  bisa belajar lebih baik dan jadi lebih pintar. Makanya kali ini Hipwee bakal mengulas habis rahasia Finlandia yang satu ini!
1. Di Finlandia, Anak-Anak Baru Boleh Bersekolah Setelah Berusia 7 Tahun
Awal yang lebih telat jika dibandingkan negara-negara lain itu justru berasal dari pertimbangan mendalam terhadap kesiapan mental anak-anak untuk belajar. Mereka juga meyakini keutamaan bermain dalam belajar, berimajinasi, dan menemukan jawaban sendiri. Anak-anak di usia dini justru didorong untuk lebih banyak bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya. Bahkan penilaian tugas tidak diberikan hingga mereka kelas 4 SD. Hingga jenjang SMA pun, permainan interaktif masih mendominasi metode pembelajaran.
2. Cara Belajar Ala Finlandia: 45 Menit Belajar, 15 Menit Istirahat
Tahukah kamu bahwa untuk setiap 45 menit siswa di Finlandia belajar, mereka berhak mendapatkan rehat selama 15 menit? Orang-orang Finlandia meyakini bahwa kemampuan terbaik siswa untuk menyerap ilmu baru yang diajarkan justru akan datang, jika mereka memilliki kesempatan mengistirahatkan otak dan membangun fokus baru. Mereka juga jadi lebih produktif di jam-jam belajar karena mengerti bahwa toh sebentar lagi mereka akan dapat kembali bermain.
3. Semua Sekolah Negeri di Finlandia Bebas Dari Biaya. Sekolah Swasta Pun Diatur Secara Ketat Agar Tetap Terjangkau
Satu lagi faktor yang membuat orang tua di Finlandia gak usah pusing-pusing milih sekolah yang bagus untuk anaknya, karena semua sekolah di Finlandia itu setara bagusnya. Dan yang lebih penting lagi, sama gratisnya. Sistem pendidikan di Finlandia dibangun atas dasar kesetaraan. Bukan memberi subsidi pada mereka yang membutuhkan, tapi menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas untuk semua.
Reformasi pendidikan yang dimulai pada tahun 1970-an tersebut merancang sistem kepercayaan yang meniadakan evaluasi atau ranking sekolah sehingga antara sekolah gak perlu merasa berkompetisi. Sekolah swasta pun diatur dengan peraturan ketat untuk tidak membebankan biaya tinggi kepada siswa. Saking bagusnya sekolah-sekolah negeri di sana, hanya terdapat segelintir sekolah swasta yang biasanya juga berdiri karena basis agama.
4. Semua Guru Dibiayai Pemerintah Untuk Meraih Gelar Master. Gaji Mereka Juga Termasuk Dalam Jajaran Pendapatan Paling Tinggi di Finlandia.
Di samping kesetaraan fasilitas dan sokongan dana yang mengucur dari pemerintah, penopang utama dari kualitas merata yang ditemukan di semua sekolah di Finlandia adalah mutu guru-gurunya yang setinggi langit. Guru adalah salah satu pekerjaan paling bergengsi di Finlandia. Pendapatan guru di Finlandia pun lebih dari 2 kali lipat dari guru di Amerika Serikat.Tidak peduli jenjang SD atau SMA, semua guru di Finlandia diwajibkan memegang gelar master yang disubsidi penuh oleh pemerintah dan memiliki tesis yang sudah dipublikasi.
Finlandia memahami bahwa guru adalah orang yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu pendidikan generasi masa depannya. Maka dari itu, Finlandia berinvestasi besar-besaran untuk meningkatkan mutu tenaga pengajarnya. Tidak saja kualitas, pemerintah Finlandia juga memastikan ada cukup guru untuk pembelajaran intensif yang optimal. Ada 1 guru untuk 12 siswa di Finlandia, rasio yang jauh lebih tinggi daripada negara-negara lain. Jadi guru bisa memberikan perhatian khusus untuk tiap anak, gak cuma berdiri di depan kelas.
5. Guru Dianggap Paling Tahu Bagaimana Cara Mengevaluasi Murid-Muridnya. Karena Itu, Ujian Nasional Tidaklah Perlu.
Kredibilitas dan mutu tenaga pengajar yang tinggi memungkinkan pemerintah menyerahkan tanggung jawab membentuk kurikulum dan evaluasi pembelajaran langsung kepada mereka. Hanya terdapat garis pedoman nasional longgar yang harus diikuti. Ujian Nasional pun tidak diperlukan. Pemerintah meyakini bahwa guru adalah orang yang paling mengerti kurikulum dan cara penilaian terbaik yang paling sesuai dengan siswa-siswa mereka.
6. Siswa SD-SMP di Finlandia Cuma Sekolah 4-5 Jam/hari. Buat Siswa SMP dan SMA, Sistem Pendidikan Mereka Sudah Seperti di Bangku Kuliah
Tidak hanya jam istirahat yang lebih panjang, jam sekolah di Finlandia juga relatif lebih pendek dibandingkan negara-negara lain. Siswa-siswa SD di Finlandia kebanyakan hanya berada di sekolah selama 4-5 jam per hari. Siswa SMP dan SMA pun mengikuti sistem layaknya kuliah. Mereka hanya akan datang pada jadwal pelajaran yang mereka pilih. Mereka tidak datang merasa terpaksa tapi karena pilihan mereka.
7. Gak Ada Sistem Ranking di Sekolah. Finlandia Percaya Bahwa Semua Murid Itu Seharusnya Ranking 1
Upaya pemerintah meningkatkan mutu sekolah dan guru secara seragam di Finlandia pada akhirnya berujung pada harapan bahwa semua siswa di Finlandia dapat jadi pintar. Tanpa terkecuali. Maka dari itu, mereka tidak mempercayai sistem ranking atau kompetisi yang pada akhirnya hanya akan menghasilkan ‘sejumlah siswa pintar’ dan ‘sejumlah siswa bodoh’.
Walaupun ada bantuan khusus untuk siswa yang merasa butuh, tapi mereka tetap ditempatkan dalam kelas dan program yang sama. Tidak ada juga program akselerasi. Pembelajaran di sekolah berlangsung secara kolaboratif. Bahkan anak dari kelas-kelas berbeda pun sering bertemu untuk kelas campuran. Strategi itu terbukti berhasil karena saat ini Finlandia adalah negara dengan kesenjangan pendidikan terkecil di dunia.
sumber: http://www.hipwee.com/feature/sekolah-cuma-5-jam-tanpa-pr-ujian-nasional-kenapa-orang-finlandia-bisa-pintar/