Tiket kita ke Surga begitu sederhana dan begitu mudah

Tiket kita ke Surga begitu sederhana dan begitu mudah. Saya tidak mengatakan bahwa saya dapat menjamin kalian, tetapi saya dapat mengatakan bahwa Nabi (s) akan menjamin kalian. Saya dapat mengatakan bahwa Awliyaullah akan menjamin kalian, karena istidlaal, melalui analisis, melalui bukti bahwa Nabi (s) bersabda, begitu mudah, membuat semua orang bergembira. Beliau bersabda,

idza marartum bi riyaadhil jannah, farta`uu
Jika kalian mendapati Taman Surga maka masuklah. Para Sahabat bertanya, “Apakah taman Surga itu ya Rasulallah?” Qaala hilaqu ‘dz-dzikir, beliau menjawab, “Majelis zikir.”
Inilah tiket ke Surga. Jika kalian berada di rumah dan kalian menginginkan Surga di rumah kalian, undanglah 2-3 teman untuk duduk bersama dan berzikir, begitu mudahnya dan begitu sederhana.
Shaykh Hisham Kabbani
sumber : https://www.facebook.com/haqqani.indonesia/posts/10206505227483851

kemuliaan panitia maulid

Habib Munzir bertemu Rasulullah dan bertanya
Ya Rasulullah, apakah Engkau mengenal orang orang yang / crew majelis rasulullah yang berjuang malam di saat orang orang tidur mereka memasang bendera dan lain sebagainya untuk majelis rasulullah dan untuk dakwahmu wahai Rasulullah
Apakah Engkau mengenal mereka ?
Apakah Engkau mau mengetahui siapa siapa mereka ?
Maka Rasulullah berkata:
AKU MENGENAL MEREKA, AKU MENGENAL AYAH BUNDA MEREKA , AKU MENGHAFALKAN, AKU TAU SEMUA NAMA MEREKA DAN AKU TAHU SEMUA NAMA AYAH BUNDA MEREKA
Dan Beliau Habib Munzir bertemu dengan orang tua kru yang sudah meninggal, para orang tua tersebut berpesan
Tolong bimbing anak-anak kami untuk menjadi kru yang baik, karena setiap mereka berjuang dalam majelis ini, pasang umbul2, baleho disaat itu kami para orang tua yang sudah meninggal diberi kesempatan untuk duduk bersama Rasulullah , tetapi jika mereka sedang tidak membantu majelisnya rasulullah, Allah menidurkan kami
Subhnallah
luruskan niat, perkuat ukhuwah

sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1525455931110017&set=a.1389821168006828.1073741829.100009368742463&type=3

HATI-HATI DALAM BERDOA

Si Ting Tong berdoa :
Ya Tuhan, jadikan aku orang yang cuma dengan kipas-kipas saja uang mendatangiku..!
Cliiiing…!!!… tak lama kemudian ia jadi PENJUAL SATE…smile emotikon

Tidak puas dengan itu, dia berdoa lagi :
Ya Tuhan, jadikan aku orang yang hanya
dengan duduk goyangkan kaki bisa dapat rejeki…!
Cliiiing…!!!… kemudian ia jadi PENJAHIT…:
Masih tak puas, dia berdoa lagi :
Ya Tuhan, jadikan aku orang yang hanya
dengan duduk diam uang mendatangiku…!
Cliiiing…!!!… 2 jam kemudian ia jadi PENJAGA TOILET umum di TERMINAL.
Ya Tuhan, kali ini jadikan aku yang bisa
memerintah orang kaya ! Jadikan aku hamba-Mu yang bisa mengatur mereka dengan leluasa dan kuasa…!
Cliiiing…!!!… 4 jam kemudian, ia jadi TUKANG PARKIR…X_X
Yaaaaaa Tuhan, mohon sekarang jadikan aku orang yang berwibawa tatapanku disegani orang, setiap yang bertemu denganku merasa sungkan gitu…! :
Cliiiing…!!!…kemudian, ia jadi DEBT COLLECTOR… O…ooo
Ya Tuhan, koq salah melulu… jadikan hamba-Mu ini seorang yang punya banyak pengikut, kemanapun hamba-Mu ini melangkah, pengikutku selalu mentaatiku…!
Cliiiing…!!!…1 hari kemudian, ia ANGON BEBEK…gasp emotikon
Ampuuun salah lagi… Ya Tuhan…..! :(Tolonglah terakhir ini jadikan hamba-Mu ini seorang yang senantiasa dikelilingi para wanita…!
Cliiiing…!!!…3 jam kemudian, ia jadi TUKANG SAYUR KELILING…!!!
 
sumber :https://www.facebook.com/groups/234633159910701/permalink/1081562371884438/
 

Pesantren dan kemandirian

ketika ada seorang santri pesantren bertanya, dan Cak Nun sempat tampak marah.

Inti pertanyaanya, “Cak, saya anak pesantren. Selama ini pesantren kami tidak diperhatikan masyarakat, seperti diacuhkan, tidak dihormati, tidak diperhatikan pemerintah. Menurut panjenengan gimana, Cak”.
Beliau langsung berdiri dan sedikit mendekati santri itu.
Dengan nada lantang, Beliau langsung menjawab,
“Koe santri?… Aku tak tako yo, pemerintah saiki menurutmu apik po ora?…
“Mboten Cak”, jawab santri itu.
“Perasaku, pesantren dari dulu itu dunia yang mandiri.
Gunane ono pesantren,
gunane koe mesantren kui ben koe iso belajar ngormati wong, dudu pengen dihormati wong…..
Koe kok nagih wong liyo, ora nagih awakmu dhewe?…..
Jaremu pemerintah akeh eleke.
Lha, ngopo koe sibuk njaluk perhatian kepada pihak yang menurutmu sendiri akeh eleke?…
Piye kui?….
Ora kiro koe ento sing mbo’ karepke…
Santri kok njalok diperhatikan…prawan po piye koe… Santri kok ngono…
Santri ki merhati’ke,
ora sibuk njalok diperhatike,
ora njalok di hormati.
Hanya orang yang tidak terhormat yang minta dihormati orang lain!……
Ini seharusnya jadi jawaban dan cara berfikir seorang santri.
Aku ngomong ngene iki, mergo aku ki yo santri.
Saiki ra sah nunggu-nunggu wong apik karo koe, sing penting koe apik karo wong…, ngono wae.
Ra sah peduli koe diperhatikan po ora, sing penting koe merhati’ke, ngono wae.
Kui sing mara’ke ngko Pengeran bakal sayang karo koe.
Kui sing tak alami dalam hidup saya.
Kui sing mara’ke wong islam Indonesia ora maju maju.
Akeh ulama-ulama njalok perhatian pemerintaah, ngemis meng bupati meng gubernur…. Iyo ra?….”.
Sontak ribuan orang terdiam semua.
diambil dari : https://www.facebook.com/fz.fuadi/posts/10153298779860003

Seorang guru adalah pelayan Allah dan para HambaNya

Habib Kadzim bin Ja’far AsSeqqaf, ‘Alim Lahir Bathin
Tawadhu dan ikhlas adalah sifat terpuji dalam pandangan Allah
Imam Khalid Husein, seorang ulama besar di Inggris saat bertemu Habib Umar Bin Hafidz, beliau bertanya pada Habib Umar, ‘tolong ceritakan pada kami tentang keadaan Habib Kadzim AsSeqqaf’, (Habib Kadzim sering Berdakwah ke Inggris),
Habib Umar berkata; “tahukah Kalian siapa dan bagaimana Hidup Habib Kadzim ? Beliau sudah menjadi pemimpin Ribat (ribat shihir) waktu usia beliau masih 20 tahunan, ada lebih dari 700 murid yang menimba ilmu di ribat tsb, ketika malam tiba dan para murid telah tidur, Habib Kadzim mencuci pakaian para murid, membersihkan kamar mandi dan wc, memasak makanan mereka dan mencuci piring piring mereka, membersihkan seluruh ruangan dan menjadi pembatu bagi murid muridnya, ketika siang tiba, dia akan mengajarkan kepada mereka shoheh sittah, kitab tazkiya, tafsir, uluum al hadits dan segala macam ilmu lainnya, sungguh beliau mendidik mereka secara badaniah dan rohaniah, itulah sebabnya mengapa Allah mengangkat derajat beliau ketempat yang sangat agung!!”

اللَّهُمَّ يا اللهُ يا رافِعُ صَلِّ على عَبْدِكَ و حَبِيبِكَ سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّافِع و على آلِهِ و صَحْبِهِ و سَلِّمْ تَسْلِيماً و ارْفَعْنِي بِهِ إلى مَرَاتِبِ قُرْبِكَ رِفْعَاً
Allāhumma yā Allāhu yā Rāfi`u ṣalli `alā `abdika wa ḥabībika sayyidinā Muḥammad an-Nabī al-Rāfi` wa `alā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallim taslīman w’arfa`nī ilā marātibi qurbika rifa`ā
Ya Allāh, Yang Maha Tinggi, limpahkan sholawat yang berlimpah dan perdamaian pada Hamba Mu yang terkasih, Sayyidina Muḥammad, Nabi yang telah mengangkat orang lain, Keluarga dan Sahabatnya, dan agar beliau sudi mengangkat kami ke tempat tertinggi kedekatan nya dengan Engkau.

Shalawat yang Menghapuskan 100.000 Dosa Besar

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ السَّابِقِ لِلْخَلْقِ نُوْرُهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ ظُهُورُهُ عَدَدَ مَنْ مَضَى مِنْ خَلْقِكَ وَمَنْ بَقِيَ وَمَنْ سَعِدَ مِنْهُمْ وَمَنْ شَقِيَ صَلَاةً تَسْتَغْرِقُ الْعَدَّ وَتُحِيطُ بِالْحَدِّ صَلَاةً لَا غَايَةَ لَهَا وَلَا مُنْتَهَى وَلَا انْقِضاءَ تُنِيلُنَا بِهَا مِنْكَ الرِّضا صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِكَ بَاقِيَةً بِبَقائِكَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّذِي مَلَأْتَ قَلْبَهُ مِنْ جَلَالِكَ وَعَيْنَهُ مِن جَمَالِكَ فَأَصْبَحَ فَرِحاً مٌأَيَّداً مَنْصُوراً وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيماً وَالْحَمْدُ لِلهِ عَلَى ذَلِكَ

Allâhuma shalli `alâ Sayyidinâ Muhammadini ’s-sâbiqi li ’l-khalqihi nûruhu wa rahmatan li ’l-`âlamîna zhuhûruhu `adada man madhâ min khalqika wa man baqîya wa man sa`ida minhum wa man syaqîya shalâtan tastaghriqu ’l-`adda wa tuhīthu bi ’l-haddi shalâtan lâ ghâyata lahâ wa lâ muntahâ wa lâ ’nqidhâ’a wa tunîlana biha minka ‘r-ridhâ shalâtan dâ’imatan bi-dawâmika bâqiyatan bi-baqâika
Allâhumma shalli `alâ Sayyidinâ Muhammadini ’Lladzî malâ’ta qalbahu min jalâlika wa `aynahû min jamâlika fa-ashbaha farihan mu’ayyadan manshûran wa `alâ âlihi wa shahbihi wa sallim taslimân wa ’l-hamdu lillâhi `alâ dzâlik
Ya Allah, limpahkanlah rahmat pada junjungan kami Nabi Muhammad (s), yang cahayanya mendahului semua ciptaan, yang kemunculannya merupakan rahmat bagi seluruh alam, dengan rahmat sebanyak ciptaan-Mu yang telah lalu dan yang masih ada, mereka yang beruntung dan mereka yang tidak, dengan rahmat yang melebihi semua perhitungan dan yang mencakup semua batas, rahmat yang tak terbatas, tidak berujung dan tidak berakhir, rahmat yang abadi sebagaimana Keabadian-Mu.
Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad (s), yang kalbunya penuh dengan pengagungan kepada-Mu, yang matanya penuh dengan Keindahkan-Mu; agar ia menjadi bahagia, terdukung, dan penuh kemenangan, demikian pula kepada keluarganya dan sahabatnya dan limpahkanlah keselamatan sebanyak-banyaknya kepada mereka dan segala puji bagi Allah untuk semua itu! (Dala’il al-Khayrat hizib hari Rabu)
Jika kalian membacanya sekali, Allah (swt) akan menghapuskan 100.000 dosa! Allah (swt) akan mengampuni 100.000 dosa besar, min al-kabaair. Dengan membaca sekali shalawat ini, Allah (swt) bahkan akan menghilangkan 100.000 dosa besar dan dengan 2 kali pembacaan, berarti 200.000 dosa besar, dan dengan 3 kali pembacaan, 300.000 dosa besar, dan dengan 10 kali pembacaan, berarti 1 juta dosa besar!

sumber : https://www.facebook.com/Sufilive/

Islam akan ramai di Indonesia, bukan dengan rasa Arab tetapi rasa Jawa

Ibnu Batutha termasuk salah seorang ulama’ yang besar pada masanya. Ia mempunyai keinginan untuk melakukan ekspedisi dan merantau ke daerah timur jawa. Akan tetapi ketika ia berlayar tekadnya itu tertunda dan ia berhenti di Aceh karena di sana sudah terdapat kerajaan Islam, terdapat rencong Aceh yang menjadi simbol kesultanan Islam di Nangroe Aceh.
Di kota itu Ibnu Bathuta sangat dihormati dan disambut hangat oleh para ulama’ dengan budaya dan ciri khas rakyat Aceh pada waktu itu. Hingga pada suatu saat, Ibnu Bathuta diberi jamuan khusus berupa asam yang dikelola dengan baik kemudian menjadi manisan yang lezat. Bertepatan pada waktu itu bangsa Arab jarang sekali yang mengenal makanan yang rasanya manis campur asam, mereka hanya tahu rasa manis dan asam yang terpisah. Bahkan istilah bahasa dan kalimatnya dalam bahasa arab juga belum ada.
Ketika merasakan manisan itu Ibnu Bathuta tertegun kagum dengan kelezatan rasanya. Kemudian Ibnu Bathuta bertanya kepada para Ulama’ di sekitarnya “makanan apa ini?”. “ini adalah kurma”, Jawab Ulama’ di sekitar Ibnu Bathuta. Dalam kamus Munjid maupun Muhith jika ada kata Asam itu pasti bahasa arabnya Tamar tetapi yang di maksud disitu bukan tamar arab melainkan Tamar Jawa. Adapun orang-orang arab pada zaman dahulu mengenal jawa itu tidak hanya pada pulau yang masyhur ini melainkan seluruh Asia Tenggara juga mereka kenal sebagai jawa.
Karena masih merasa penasaran Ibnu Bathuta bertanya lagi kepada para Ulama’ tadi “Tamar apa ini? kami di arab memakan tamar yang hanya mempunyai rasa manis tetapi di sini saya baru tahu ada tamar yang rasanya manis dan asam”. Akhirnya ulama’-ulama itu menjawab “Ini adalah tamar jawa”. Mendengar jawaban itu Ibnu Bathuta merasa heran ternyata di tanah ini ada pohon tamar yang rasanya berbeda.
Tamar itu adalah itu adalah lambang dan simbol keramaian agama Islam . Allah S.W.T berfirman,
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,” QS. Ibrahim : 24
Kalimah yang baik itu adalah Islam yang diumpamakan seperti pohon yang baik, sedangkan pohon yang baik itu adalah kurma. Seketika itu langsung terbesit di dalam hati Ibnu Bathuta bahwa suatu saat nanti agama Islam ini akan ramai di bumi Indonesia, tetapi tamarnya atau simbol keramaianya bukan tamar arab melainkan tamar jawa.
Oleh karena itu bisa dipahami bahwa Islam di Indonesia itu tidak sama dengan Islam yang ada di Arab, penerapanya pasti berbeda-beda menurut budaya atau tsaqofah yang ada. Tetapi, meskipun berbeda-beda pada hakikatnya Islam itu sama, yaitu sama-sama dari Rasulullah S.A.W.

Catatan : Artikel ini disarikan dari ceramah Syaikhina Maimoen Zubair di Padurenan, Gebog, Kudus pada tahun 2007.
sumber : https://fahmialinh.wordpress.com/2015/11/18/rihlah-ibnu-bathutah-di-bumi-indonesia/

Hitungan pada wirid/dzikir

Wirid atau dzikir ada hitungan-hitungannya, seperti membaca tahlil (la ilaha ila Allah) dalam ratib Athas, ratib Hadad dan Wirdu Lathif jumlahnya berbeda.
Bacaan wirid/ dzikir itu ada ukuran, seperti kunci mempunyai ukuran berbeda-beda. Kunci gudang, milinya berbeda dengan mili (ukuran) kunci pintu rumah, kunci jendela dan kunci-kunci lainya.

Kalau tidak mau ada ukuran-ukuran ‘mili’ dalam kunci, jangan mengeluh kalau semua pintu tidak bisa dibuka. Demikian juga wiridan/ dzikir.
Hanya ada yang jumlah hitungannya berdasarkan hadis/ tauqifi dari Nabi seperti membaca tasbih, takbir dan tahmid masing-masing 33 x setiap bakda shalat fardu. Ada juga hasil tajribah (eksperimen) para ulama (sahabat dan generasi setelahnya).
Tidak semua yang tidak ada pada masa Nabi dilarang. Kalau tidak percaya atau tidak mau ada bilangan tertentu dalam wirid/ dzikir jangan mengeluh apabila bacaan dzikir tidak dapat membuka “pintu” ijabah.
Wirid dan dzikir mempunyai dosis. Tidak semua orang mengetahui rahasia hitungan dalam dzikir. Seperti tidak semua orang bisa membuat resep obat, hanya dokter dan apoteker yang memahaminya.
sumber : https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=10152532680875766&id=94438400765&fref=nf

APLIKASI TRYOUT untuk android

Kode
Produksi
Platform
Format
Versi
Mapel
Penulis
Sinopsis
: ME13ATUN01
: 2013
: Android
: Simulasi
: Final
: Mapel yang di UN kan
: Tim BPMP
:

Aplikasi ini adalah sarana untuk tryout Ujian Nasional SD/SMP/SMA. Selain tryout juga terdapat latihan soal dan penjelasannya. Aplikasi ini di desain untuk perangkat handphone dan dapat diacces langsung dengan alamat : http://atun.m-edukasi.kemdikbud.go.id
 
download aplikasi klik di sini
 
Langkah :
1. download aplikasi dan install (atau buka lewat komputer http://atun.m-edukasi.kemdikbud.go.id)
2.  registrasi untuk memperoleh user name dan password
3. gunakan username dan password untuk memasuki menu
4. pilih jenjang yang di ikuti ( SD, SMP, SMA-IPA, SMA-IPS, SMA -bahasa)
5. pilih mata pelajarannya
6. pilih latihan (beberapa paket) atau tryout (dibatasi waktu)
7. kalau sudah selsai klik tombol simpan, maka keluar ringkasan jawaban
8. klik hasil akhir untuk mengetahui hasilnya
 
download aplikasi klik di sini
ATAU KUNJUNGI http://atun.m-edukasi.kemdikbud.go.id

NU dan NKRI

Organisasi Nahdlatul Ulama itu tidak bisa dipisahkan dengan oganisasi Nahdlatut Tujjar dan Nahdlatul Wathan. Peran Nahdlatul Wathan ini sangat vital sekali. Hal ini terbukti ketika di Negeri Haramain terjadi pergantian kekuasaan dari Daulah Asyraf (tahun 1924-an) yang kemudian diganti dengan Raja Abdul Aziz. Oraganisasi Nahdlatul Wathan ini mengirimkan delegasi kepada Sultan Abdul Aziz ke Makkah. Delegasi yang dikirim oleh Nahdlatul Wathan ini dinamakan dengan Komite Hijaz. Dari nama Komite Hijaz ini, kemudian menjadi Muktamar yang diselenggarakan pada pada tanggal 31 Januari 1926 yang menghasilkan organisasi yang dinamakan dengan Nahdlatul Ulama dengan Rais Akbarnya KH. Hasyim Asyari dan KH. Faqih Mas Kumambang sebagai wakilnya. Ulama-ulama yang ada di barisan Nahdlatul Ulama itu mempunyai peran besar untuk membangun bangsa dan negaranya dengan ilmu yang bersumber dari Al-Quran.

Allah telah menurunkan Al-Quran yang diibaratkan seperti air yang dapat menghasilkan bermacam-macam ilmu pengetahuan. Adanya bermacam-macam ilmu pengetahuan ini disebabkan karena adanya seorang ulama yang diumpamakan seperti gunung-gunung yang warnanya ada yang Merah dan Putih. Kedua warna ini persis dengan warna bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia. Allah berfirman;
الَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفاً أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ * وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ
Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). (QS. Al-Faatir : 27-28)
Warna Merah melambangkan nasionalisme bangsa Indonesia yang penuh dengan keberanian, sedangkan putih melambangkan keikhlasan dalam berjuang. Dari kedua warna ini, jiwa bangsa Indonesia itu harus diwarnai dengan nasionalisme dan keikhlasan.
Nikmat agung tersebut itu tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu. Nikmat Allah yang agung yang diperuntukan bagi bangsa Indonesia adalah nikmat yang berupa kemerdekaan. Merdeka yang dimulai pada tanggal 17 Agustus 1945.
Angka-angka yang menandai kemerdekaan bangsa Indonesia ini adalah angka-angka keberuntungan. Angka 17 menunjukan jumlahnya rekaat shalat wajib yang dikerjakan oleh umat Islam dalam sehari semalam. Angka 17 terdiri dari 1+7. Jika kedua angka ini ditambahkan maka jumlahnya akan menjadi 8 (bulan delapan adalah bulan Agustus). Hal ini sesuai dengan jumlah surga yang disediakan Allah bagi hamba-Nya yang mau mengerjakan shalat.
Adapun angka 45 diakhir dari 1945 itu merupakan angka yang sempurna. Sebab, 4+5=9. Angka Sembilan ini persis dengan jumlah bintang yang digunakan sebagai lambangnya organisasi Nahdlatul Ulama.
Selain rahasia di atas, jika lafal Nahdlatul Ulama dihitung dengan memakai standar Abajadun, maka jumlahnya adalah 17. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa antara NU dengan perjuangan bangsa Indonesia itu ada keterkaitan.
Untuk makna dadung (tali yang melingkar) yang ada pada lambang Nahdlatul Ulama, itu menunjukan arti hubungan antara manusia dengan tuhannya.
Di dalam memperjuangkan NU, Syaikhina Maimoen Zubair juga mempunyai loyalitas yang tinggi meskipun pada tahun 2002 beliau telah keluar dari organisasi tersebut. Namun, pada tahun 2010 beliau kembali lagi untuk bergabung memperjuangkan Nahdlatul Ulama dengan jabatan sebagai Dewan Muhtasyar.
Catatan:
Artikel ini disarikan dari ceramah Syaikhina Maimoen Zubair pada acara Muskerwil PWNU di PP Al-Anwar tahun 2013.
NB: Ketika Mbah Hasyim hendak pergi ke suatu tempat untuk mengurus masalah Nahdlatul Ulama, beliau sering mampir di kediaman kakek dan buyutnya Syaikhina Maimoen Zubair (Kiai Ahmad bin Syuaib dan Kiai Syuiab bin Abdurrozak). Begitu juga dengan Mbah Wahab Hasbullah yang sering mampir di Sarang untuk berkunjung di kediaman Kiai Zubair bin Dahlan.
Dari keakraban hubungan leluhur Syaikhina Maimoen Zubair dengan pendiri Nahdlatul Ulama ini, maka tidak mengherankan jika NU-nya Syaikhina Maimoen itu dikatakan sejak beliau belum dilahirkan. Sebab, sebelum beliau lahir, ada tiga tokoh NU, Kiai Hasyim Asyari, Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Syansuri telah berkenan meludahi air (nyuwuk red) yang diambil oleh Kiai Ahmad yang nantinya akan diminumkan kepada Ibunya Syaikhina Maimoen saat mengandung dirinya supaya mendapatkan keberkahan dari ketiga ulama tersebut. (KH. Abdullah Ubab Maimoen)