belajar pada mbah google

Akhir Zaman gini, banyak dari kita (termasuk saya) yang kurang menghargai seorang guru. Kita lebih suka bertanya kepada mbah google sebagai sarana memecahkan semua problematika kita.
Kita sering lupa, si “mbah google” ini adalah orang yang paling pandai karena hampir semua hal dia dapat memberikan infonya kepada kita, tetapi yang perlu diingat adalah bahwa ia juga adalah yang paling bodoh karena ia tidak mengetahui mana yang benar atau tidak, ia hanya menyediakan tanpa memilah. sehingga banyak orang yang terbantu juga banyak orang yang tersesatkan.
Makanya penting mempunyai seorang pembimbing, agar dapat membantu kita mengenali kebenaran tersebut. agar dapat mengarahkan melalui jalan yang baik.
Ingatlah banyak sekali berita/info yang di internet hanya HOAX saja, semua orang dapat menulis, hal bohong. hal sok ngerti, hal hayalan, hal iseng, semua hal. maka seleksilah dalam menerima informasi.

Manfaat Menangis

Banyak yang beranggapan kalau menangis adalah satu hal yang memalukan. Tapi nyatanya, menangis memiliki dampak positif, baik dari segi psikologis maupun kesehatan manusia.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr William H. Frey II, PhD, pakar ilmu saraf dan peneliti tentang air mata menunjukkan, 85 persen wanita dan 73 persen pria merasa kesedihan dan amarahnya berkurang setelah menangis. Frey mengatakan, menangis bukan hanya respon manusia terhadap kesedihan atau frustrasi, melainkan salah satu hal yang menyehatkan. Berikut adalah lima fakta menyehatkan ketika menangis seperti dikutip agingcare.com.
1. Menangis meredakan stres
Stres yang terpendam dapat memicu risiko terkena serangan jantung dan merusak bagian tertentu otak manusia. Menurut Frey, menangis dapat mengurangi risiko penyakit tersebut.
2. Menangis menurunkan tekanan darah
Normalnya durasi manusia saat menangis adalah enam menit. Dari hasil penelitian yang dilakukan, menangis terbukti mampu menurunkan tekanan darah, denyut nadi, dan tubuh seperti mendapat efek terapi ketika menangis.
3. Air mata mampu menghapus racun
Frey mengatakan, bahwa air mata benar-benar dapat membantu mengeluarkan racun dari tubuh. Menurut dia, bahan kimia yang terbentuk selama stres bisa dikeluarkan melalui air mata.
4. Menangis mengurangi mangan
Menangis juga diketahui mampu mengurangi kadar mangan dalam tubuh manusia. Mangan adalah mineral yang bisa mempengaruhi suasana hati seseorang. Penelitian menemukan, bahwa kandungan mangan 30 kali lebih tinggi terdapat dalam air mata dibanding serum darah.
5. Menangis adalah manusiawi
Dari sekian banyak jenis mamalia yang ada di bumi, hanya manusia yang mengeluarkan air mata sebagai respon stres emosional atau kesedihan. Ekspresi emosional menunjukkan bahwa manusia memiliki perasaan untuk berempati.
SUMBER : http://www.feed.id/article/5-fakta-menyehatkan-ketika-menangis-150525u.html

GUNDUL-GUNDUL PACUL

Tembang Jawa ini konon diciptakan pada tahun 1400-an oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, ternyata mempunyai arti filosofis yang dalam..
GUNDUL = kehormatan tanpa mahkota..

PACUL = cangkul, yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat..
Jadi pacul adalah lambang dari kawula rendah, kebanyakan petani..
Gundul Pacul, artinya bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota, tetapi dia adalah pemimpin yang mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya..
Orang Jawa mengatakan pacul adalah “papat kang ucul.”
Kemuliaan seseorang tergantung dari 4 (empat) hal, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya :
1. Mata untuk melihat kesulitan rakyat/masyarakat/orang banyak..
2. Telinga untuk mendengar nasehat..
3. Hidung untuk mencium aroma kebaikan..
4. Mulut untuk berkata adil..
Jika 4 (empat) hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya..
Gembelengan artinya : besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya..
GUNDUL GUNDUL PACUL-CUL.
Jika orang yang kepalanya sudah kehilangan 4 (empat) indera itu, mengakibatkan :
a. GEMBELENGAN (Congkak/sombong)..
b. NYUNGGI-NYUNGGI WAKUL KUL.
(Menjunjung amanah rakyat/orang banyak) dengan.. GEMBELENGAN (sombong hati)..
c. WAKUL NGGLIMPANG.
(Amanah/kekuasaan jatuh tak bisa dipertahankan)..
d. SEGANE DADI SAK LATAR.
(Berantakan sia-sia, tak bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat)..
Ternyata lagu yang bernada lucu dan gembira ini bermakna dalam dan mulia..

12 Tradisi di Indonesia dalam Menyambut Bulan Puasa

Di Indonesia, dimana masyarakatnya mayoritas muslim, berbagai acara atau tradisi menyambut Ramadhan banyak digelar di berbagai daerah.
Tentu saja caranya berbeda-beda namun semangatnya tetap sama, yakni merupakan bentuk ucap syukur serta kegembiraan umat muslim akan datangnya bulan puasa.Dalam kalender Islam, bulan Ramadhan akan di awali dengan datangnya bulan Sya’ban. Nah di bulan Sya’ban ini biasanya banyak digelar upacara tradisi menyambut datangnya bulan Ramadhan.berikut ini tradisi menyambut ramadhan dari berbagai daerah di indonesia :
1. Mungguhan

Mungguhan adalah satu kegiatan berkumpul bagi anggota keluarga, sahabat dan bahkan juga teman-teman kita saling bermaaf-maafan sambil menikmati sajian makanan khas untuk kemudian mempersiapkan diri masing-masing dalam menghadapi bulan Ramadhan yang akan datang. Tradisi ini adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang sunda dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Biasanya tradisi ini dilakukan oleh hampir semua golongan masyarakat walaupun dengan cara yang berbeda-beda.
Tetapi intinya tetap satu, yaitu berkumpul bersama sambil menikmati sajian makanan yang disuguhkan.
Inilah tradisi yang biasa dilakukan ditengah masyarakat sunda pada umumnya yang secara turun temurun terus dipertahankan oleh setiap generasi berikutnya.
2. Nyorog

Di Betawi, tradisi “Nyorog” atau membagi-bagikan bingkisan makanan kepada anggota keluarga yang lebih tua, seperti Bapak/Ibu, Mertua, Paman, Kakek/Nenek, menjadi sebuah kebiasan yang sejak lama dilakukan sebelum datangnya bulan Ramadhan. Meski istilah “Nyorog”nya sudah mulai menghilang, namun kebiasan mengirim bingkisan sampai sekarang masih ada di dalam masyarakat Betawi. Bingkisan tersebut biasanya berisi bahan makanan mentah, ada juga yang berisi daging kerbau, ikan bandeng, kopi, susu, gula, sirup, dan lainnya.
Tradisi “Nyorog” di masyarakat Betawi memiliki makna sebagai tanda saling mengingatkan, bahwa bulan suci Ramadhan akan segera datang, selain itu tradisi “Nyorog” juga sebagai pengikat tali silahturahmi sesama sanak keluarga.
3.Balimau

Tradisi Balimau hampir sama dengan tradisi padusa, yakni membersihkan diri dengan cara berendam atau mandi bersama-sama di sungai atau tempat pemandian.
Tradisi Balimau dilakukan oleh masyarakat Padang, Sumatera Barat. Biasanya tradisi ini dilakukan dari mulai matahari terbit hingga terbenam beberapa hari sebelum bulan Ramadhan.
Mirip dengan “Padusan”, makna dari tradisi Balimau ini berarti melakukan pembersihan diri secara lahir dan batin, agar seseorang siap menjalankan ibadah puasa.
4. Jalur pacu

Di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, masyarakatnya memiliki tradisi yang mirip dengan lomba dayung. Tradisi “Jalur Pacu” ini digelar di sungai-sungai di Riau dengan menggunakan perahu tradisional, seluruh masyarakat akan tumpah ruah jadi satu menyambut acara tersebut.
Tradisi yang hanya digelar setahun sekali ini akan ditutup dengan “Balimau Kasai” atau bersuci menjelang matahari terbenam hingga malam.
5. Meugang

Berbeda dengan lainnya, di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) atau yang akrab disebut dengan kota “Serambi Mekah”, warganya menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan menyembelih kambing atau kerbau. Tradisi ini disebut “Meugang”, konon kabarnya tradisi “Meugang” sudah ada sejak tahun 1400 Masehi, atau sejak jaman raja-raja Aceh.
Tradisi makan daging kerbau atau kambing ini biasa dilakukan oleh seluruh warga Aceh. Bahkan jika ada warga yang tidak mampu membeli daging untuk dimakan, semua warga akan bergotong-royong membantu, agar semua warganya dapat menikmati daging kambing atau kerbau sebelum datangnya bulan Ramadhan.
Tradisi “Meugang” biasanya juga dilakukan saat hari raya Lebaran dan Hari Raya Haji.
6. Padusan

Lain daerah pasti lain pula tradisinya, masyarakat di Klaten, Boyolali, Salatiga dan Yogyakarta biasa melakukan upacara berendam atau mandi di sumur-sumur atau sumber mata air ditempat-tempat kramat. Tradisi ini disebut “Padusa” yang bermakna agar jiwa dan raga seseorang yang akan melakukan ibadah puasa bersih secara lahir dan batin.
Selain itu juga bermakna sebagai pembersihan diri atas segala kesalahan dan perbuatan dosa yang telah dilakukan sebelumnya.
7. Dugderan

Tradisi “Dugderan” ini berasal dari kota Semarang, Jawa Tengah. Nama “Dugderan” sendiri berasal dari kata “Dug” dan “Der”. Kata Dug diambil dari suara dari bedug masjid yang ditabuh berkali-kali sebagai tanda datangnya awal bulan Ramadhan. Sedangkan kata “Der” sendiri berasal dari suara dentuman meriam yang disulutkan bersamaan dengan tabuhan bedug.
Tradisi yang sudah berumur ratusan tahun ini terus bertahan ditengah perkembangan jaman. biasanya digelar kira-kira 1-2 minggu sebelum puasa dimulai. Karena sudah berlangsung lama, tradisi Dugderan ini pun sudah menjadi semacam pesta rakyat. Meski sudah jadi semacam pesta rakyat –berupa tari japin, arak-arakan (karnaval) hingga tabuh bedug oleh Walikota Semarang–, tetapi proses ritual (pengumuman awal puasa) tetap menjadi puncak dugderan.
Untuk tetap mempertahankan suasana seperti pada jamannya, dentuman meriam kini biasanya diganti dengan suara-suara petasan atau bleduran.
Bleduran terbuat dari bongkahan batang pohon yang dilubangi bagian tengahnya, untuk menghasilkan suara seperti meriam biasanya diberi karbit yang kemudian disulut api.
8. Dandangan (Kudus, Jawa Tengah)

Perayaan tradisi ‘Dandangan’ merupakan sebuah tradisi di kota Kudus yang diadakan menjelang kedatangan bulan suci Ramadhan. Dandangan merupakan pasar malam yang diadakan di sekitar Menara Kudus, sepanjang jalan Sunan Kudus, dan meluas ke lokasi-lokasi di sekitarnya. Pada tradisi dandangan ini diperdagangkan beraneka ragam kebutuhan rumah tangga mulai dari peralatan rumah tangga, pakaian, sepatu, sandal, hiasan keramik, sampai dengan mainan anak-anak serta makan dan minuman.
Tradisi ini sudah ada sejak 450 tahu yang lalu atau tepatnya zaman Syeh Jakfar Shodiq (Sunan Kudus). Pada saat itu, setiap menjelang bulan puasa, ratusan santri Sunan Kudus berkumpul di Masjid Menara menunggu pengumuman dari Sang Guru tentang awal puasa. Para santri tidak hanya berasal dari Kota Kudus, tetapi juga dari daerah sekitarnya seperti Kendal, Semarang, Demak, Pati, Jepara, Rembang, bahkan sampai Tuban, Jawa Timur. Karena banyaknya orang berkumpul, tradisi ‘Dandangan’ kemudian tidak sekadar menunggu pengumuman resmi dari Masjid Menara tentang awal puasa, tetapi juga dimanfaatkan para pedagang untuk berjualan di lokasi itu.
9. Malamang (Sumatra Barat)

Masih di Sumatra Barat, ada sebuah tradisi lain yang dilakukan untuk menyambut bulan Ramadhan. Di sini, masyarakat berkumpul dan bergotong royong membuat nasi lemang pada ruas-ruas bambu yang telah dipotong-potong.
Tradisi ini biasanya dilakukan dua hari menjelang Ramadhan. Dan hasil lemang yang dimasak tadi akan dijadikan hantaran ke rumah mertua sebagai permohonan maaf.
10. Megengan (Surabaya, Jawa Timur)

Di Surabaya, menjelang Ramadhan ada tradisi yang disebut ‘Megengan’. Konon, tradisi ini dimulai dari kawasan Ampel, di sekitar Masjid Ampel, Surabaya. ‘Megengan’ ditandai dengan makan apem, semacam serabi tebal berdiameter sekitar 15 senti, dibuat dari tepung beras. Apemnya nyaris tawar, seperti kue mangkok yang dipakai warga keturunan Tionghoa untuk sembahyangan menjelang Imlek.
Diduga nama apem atau apam berasal dari kata afwan dalam bahasa Arab yang berarti maaf. Tradisi makan apem ini untuk memaknai permintaan maaf kepada sesama saudara, kerabat, dan teman. Sebetulnya, yang terjadi bukanlah sekadar tradisi makan apem, melainkan melaksanakan selamatan atau tahlilan dengan hidangan apem dan pisang raja untuk mendoakan arwah saudara dan kerabat yang telah meninggal, sekaligus minta maaf. Setelah tahlilan, apem dan pisang dibagikan kepada semua keluarga dan tetangga.
11. Nyadran (Jawa)

Biasanya dilakukan setiap hari ke-10 pada bulan Rajab. Acara diawali dengan doa bersama (tahlil) yang dipimpin sesepuh dusun setempat. Dalam doa itu mereka bersama-sama memanjatkan doa untuk kakek, nenek, bapak, ibu, serta saudara-saudara mereka yang sudah meninggal.
Seusai berdoa, semua warga lantas menggelar genduren (kenduri) atau makan bersama di sepanjang jalan yang telah digelari tikar dan daun pisang. Tiap-tiap keluarga membawa makanan sendiri. Uniknya, makanan yang dibawa harus berupa makanan tradisional, seperti ayam ingkung, sambar goreng ati, mangut, urap sayuran dengan lauk rempah, perkedel, tempe tahu bacem, dan lain sebagainya.
‘Nyadran’ atau ‘Sadranan’ berasal dari kata Sodrun yang artinya gila atau tidak waras. Pada masa sebelum datangnya walisongo, masyarakat di Pulau Jawa banyak yang masih menyembah pohon, batu, bahkan binatang, dan itu dianggap tidak waras.
Ketika itu mereka menyembah sambil membawa sesaji berupa makanan dan membaca mantra-mantra. Kemudian datang para walisongo yang meluruskan bahwa ajaran mereka salah, yang wajib disembah hanya Allah SWT.
Mantra-mantra yang dibaca lantas diganti dengan doa-doa menurut ajaran Islam. Sedangkan sesaji diganti berupa makanan yang bisa dimakan oleh warga.
12. Perlon Unggahan (Banyumas, Jawa Tengah)

Menjelang bulan Ramadhan, masyarakat di Banyumas akan mengadakan syukuran besar-besaran yang disebut ‘Perlon Unggahan’. Aneka macam masakan tradisional disajikan, di antaranya daging serundeng sapi dan sayuran berkuah yang wajib dihidangkan. Kedua menu tersebut uniknya harus disajikan oleh para pria dewasa, dan jumlahnya harus 12 orang. Atau jumlah orang bisa disesuaikan dengan kambing atau sapi yang dikorbankan.
sumber : https://fahmialinh.wordpress.com/2015/06/04/12-tradisi-di-indonesia-dalam-menyambut-bulan-puasa/
 

Gusdur yang Mahfudz

Edisi HAUL GUSDUR 26 desember 2016.
==========================
Jika Rasulullah SAW itu ma’shum (terlindungi dari berbagai maksiat), maka para wali Allah itu mahfudz (terjaga dari berbagai maksiat). Allah mengganti mujahadah (usaha keras) mereka -dalam mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah (pada awalnya)-, dengan hadiah penjagaan Allah (pada akhirnya).

Berikut, Kisah Gus Dur dan rombongan ketika berada di Australia. Mereka hendak menghadiri sebuah undangan, terkait dengan jabatan Gus Dur -yang saat itu menjadi ketua umum PBNU-. Karena acara diselenggarakan selama beberapa hari, mereka diinapkan di sebuah hotel.
Di suatu pagi, Gus Dur bersama rombongan telah berada di depan meja makan. Mereka akan sarapan dengan hidangan yang telah disediakan oleh pihak hotel. Ketika Gus Dur akan menyantap sebuah daging, beliau tidak langsung memakannya, tetapi beliau menciumnya terlebih dahulu. Tiba-tiba beliau berkata, “ini jangan dimakan, ini daging babi”. Rombongan pun segera mencarikan makanan lain yang jelas-jelas halal.
H sulaiman -asisten Gus Dur yang menemaninya sejak tahun 1986- menuturkan bahwa Gus Dur sangat menjaga makanan yang halal. Ketika mengetahui sopirnya meminum segelas minuman yang mengandung kadar alkohol ringan, beliau menegurnya dengan keras, “kayak nggak ada minuman lain aja”. Dalam sebuah kesempatan -ketika menghadiri undangan di Perancis- Gus Dur juga pernah disuguhi sebuah anggur putih, dengan halus Gus Dur pun menolaknya.
Dalam kondisi apapun seorang hamba Allah akan menjaga agar setiap makanan yang masuk ke dalam perutnya adalah makanan yang benar-benar halal. Bahkan ketika orang-orang awam tidak mengetahui bahwa itu adalah daging yang haram, bi idznillah beliu bisa mengetahuinya, tentu saja atas ijin Allah SWT. Laa haula walaa quwwata illa billah. KISAH GUS DUR
.Ini kasus yang cukup membingungkan kepala. Kala itu KH. Abdurrahman Wahid masih menjabat sebagai presiden Republik Indonesia. Beliaulah orang yang meresmikan dan melegalkan Konghucu menjadi agama yang sah dan resmi di Indonesia. Padahal sebelumnya, selama rezim orde baru berdiri di atas negeri ini, kaum Tionghoa tidak bisa bergerak bebas. Begitu terkekang dan serba terbatas dalam melakukan gerak gerik. Ada sebuah rahasia menarik yang kita, manusia biasa tidak akan menyadarinya, dan hanya manusia super cerdas seperti Gus Dur-lah yang bisa melakukannya.
.
KH. Marzuki Mustamar memulai kisahnya dari maraknya Kristenisasi yang terjadi kala itu. Kaum missionaris bergerak mengkristenkan umat Islam yang fakir. Mereka membeli imannya hanya dengan makanan dan materi. Para missionaris itu bisa memiliki kuasa atas keimanan para fuqara’ tersebut lantaran banyaknya uang yang tersumbang kedalam gereja. Dana terbesar dari gereja bersumber dari sumbangan bos-bos Tionghoa, seperti bos pemilik Djarum, bos Sampoerna, dan lain sebagainya, karena mereka semua agamanya Kristen, padahal etnis mereka dari Tionghoa. Singkat cerita, ketika Gus Dur menjadi Presiden RI, beliau membuka dan meresmikan agama Konghucu di Indonesia. Imbasnya, pemasukan gereja pun berkurang drastis. Disebabkan para bos-bos Tionghoa berpindah aliran, dari Kristen menjadi Konghucu. Akhirnya arus deras Kristenisasi bisa diredam oleh Gus Dur. Subhanallah!
.
Fakta menarik lainnya, di dataran Cina sudah terdapat banyak penduduk Muslim. Konon penduduk Muslim tersebut sudah mencapai 20%. Kita ambil contoh, apabila jumlah penduduk Cina mencapai 1,3 milyar jiwa, bisa anda bayangkan berapa jiwa jumlah penduduk Muslim dari 20%-nya! Mirisnya, saudara-saudara kita yang ada di Cina tidak bisa bebas beribadah seperti kita disini, karena pemerintahan mereka adalah komunis dan blom meresmikan islam. Untuk pergi Haji ke Baitullah, merupakan hal yang mustahil bagi warga Muslim di Cina. Dan Gus Dur tahu ada banyak Muslim disana! Subhanallah. Kemudian Gus Dur melobi pemerintahan RRC,” Hei, etnismu Tionghoa disini telah resmi di undang undang sudah kami bebaskan dalam beragama dan menganut kepercayaannya. Sekarang kami minta timbal balik yang pantas. Bebaskan saudara-saudara seiman kami disana dalam beribadah!” begitu kira-kira. (Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan ta’dzim, penulis mohon maaf atas bahasa yang kurang sopan, karena sebatas ini penulis bisa memberikan gambaran yang kami tangkap) Maka pemerintah Cina pun mengabulkan permintaan dari Gus Dur meresmikan islam agama resmi dalam undang undang RRC. Jumlah penganut kepercayaan Konghucu di indonesia tidak lebih dari 2 juta jiwa. Berarti, 260 juta jiwa muslim di china ditukar dengan 2 juta jiwa, bukankah kyai kita ini super cerdas? Hanya hati kitalah yang hobi prasangka buruk sehingga menuduh yang tidak-tidak kepada beliau.
.sumber : https://www.facebook.com/groups/172176142176/permalink/10153720239172177/

Bagaimana Sahabat Menghafal AL Qur’an?

Imam Ahmad meriwayatkan dari Rasul ﷺ telah berkata mengenai “apa yang terjadi ketika ilmu hilang”. Salah satu sahabat bertanya “Wahai Rasul ﷺ, bagaimana bisa Ilmu akan hilang ketika kami telah mempelajari Qur’an dan dan kamipun mengajarkannya pula kepada anak-anak kami dan mereka akan terus mengajarkannya kepada keturunannya masing-masing?” Rasul ﷺ menjawab “Aku pikir engkau seorang yang terpelajar di Madinah. Tidakkah engkau lihat bahwa penganut agama lain pun tidak mendapat manfaat walaupun mereka mempunyai Kitab di sisi mereka?”

Hadist ini menjelaskan bahwa tanpa mengamalkan Qur’an, sekedar membacanya menjadi sia-sia. Jika kita mengetahui isi Al Qur’an tapi tidak mengamalkannya, itu bagaikan keledai mengangkut buku-buku sebagai beban yang tanpa manfaat.
Bagaimanakah para Sahabah mempelajari Al Qur’an? jika kita mengambil salah satu contoh adalah Abdullah ibnu Umar ra, Beliau membutuhkan waktu 14 tahun untuk menghafal Surat Al Baqarah saja. Beliau sangat berbahagia ketika selesai menghafalnya kemudian merayakan dengan memotong seekor unta dan mengundang orang-orang untuk merayakannya.
Abdullah bin Umar ra adalah termasuk Sahabah Rasul ﷺ dan Al Qur’an diturunkan dengan bahasa ibunya. Dan beliau juga adalah seorang ulama terkemuka. Lalu mengapa dibutuhkan waktu hingga 14 tahun untuk menghafal satu surat saja? sementara oleh banyak orang saat ini dengan mudah bisa dihafalkan dalam hitungan bulan saja.
Ternyata para Sahabah ketika mempelajari Al Qur’an, mereka hanya akan mengambil 10 ayat saja. Kemudian mereka akan menggali dari 10 ayat ini berbagai aspek ilmu, Iman, halal-haram di dalamnya. Mereka lalu menghafalkannya dan mempraktekannya dalam kehidupan mereka. Mereka tidak akan pindah ke 10 ayat berikut hingga cara hidup mereka selaras dengan 10 ayat pertama. Al Qur’an menjadi hidup dan bagian alami bagi diri mereka, inilah pengetahuan yang tidak akan hilang dan menjadi sia-sia.
~ Shaykh Prof. Dr. Gibril Fouad Hadad
SUMBER : https://www.facebook.com/groups/ThoriqahSarkubiyah/permalink/1186050064755799/

Dengan Niat Kuat Kalian, Syekh dapat Mengangkat Kalian

A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim.
Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyaadha, nawaytu ‘s-saluuk, lillahi ta’ala al-`Azhiim fii hadza ‘l-masjid.
Aku berniat empat puluh hari (khalwat), aku berniat khalwat (dari dunia), aku berniat untuk memutuskan diri (dari dosa), aku berniat untuk mengambil disiplin (dari tarekat), aku berniat suluuk (patuh sepenuhnya) kepada Allah, Yang Maha Agung, di masjid ini.
Dengan Niat Kuat Kalian, Syekh dapat Mengangkat Kalian
Segala sesuatu…subhaanAllah, Awliyaullah tahu, mereka mempunyai bakat dan mengatahui rahasia bagaimana cara mengangkat kalian lebih  tinggi dan lebih tinggi lagi, dengan kita hanya melakukan  hal-hal kecil dan mereka  membuatnya begitu luar biasa.  Para ulama mengajari umat, tetapi mereka tidak mempunyai kemampunan seperti itu, untuk membuat sesuatu yang kecil menjadi besar.
Saya ingat Grandsyekh, semoga Allah memberkahi ruhnya, Syekh `AbdAllah al-Fa`iz ad-Daghestani, dan kita harus membedakan antara Grandsyekh `AbdAllah ad-Daghestani dan Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim, semoga Allah mengangkat derajat mereka–Grandsyekh `AbdAllah berkata bahwa  ketika kalian salat, Allah (swt) akan mencurahkan kalian dengan pahala yang tidak kalian ketahui besarnya; misalnya, jika seseorang pergi ke masjid, untuk setiap langkah mereka berjalan atau menaiki kendaraan apa saja, untuk setiap langkah Allah memberi satu hasanat, amal baik, dan menghilangkan satu sayyia`at, dosa.
Bahkan itu masih di dalam batasan, Syekh Abdul Haqq datang ke sini dari Chicago, 325 mil, 520 kilometer, dan kira-kira 520 ribu meter, atau 1 juta 716 ribu langkah!  Di zamannya Grandsyekh (q) mengatakannya bahwa pada tanggal 27 Rajab (Laylat al-Bara`ah), Allah membukakan Nikmat-Nya pada semua orang yang membuat niat tetapi tidak memenuhinya, misalnya jika mereka ingin pergi ke Chicago tetapi mereka tidak pergi, tetap saja ia akan mendapat pahala seolah-olah ia pergi, dan dari Rahmat Allah di Hari Akhir ini, niat kalian akan mengangkat derajat kalian begitu tinggi sehingga tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah (swt) dan Nabi-Nya (s)!
Itulah sebabnya beliau berkata, setiap kali kalian melakukan salat, [atau melakukan ibadah apa pun,  atau melakukan amal baik, atau meminta sesuatu], buatlah niat kalian, Nawaytu ‘l-arba`iin,  “Yaa Rabbii! Aku berniat untuk duduk berkhalwat selama empat puluh hari.”  Jika kalian melakukan hal itu, saat kalian duduk melakukan tafakur, di mana kadang-kadang orang duduk selama lima atau sepuluh menit untuk melakukan refleksi dan meditasi mengenai ma`rifah, Keagungan Allah dan Ciptaan-Nya, itu seolah-olah kalian duduk selama empat puluh hari!  Menutupi diri kalian dengan sehelai kain dan melakukan zikrullah, “Laa ilaaha illa-Llah” atau zikir apapun yang kalian inginkan, dan dengan niat tersebut, itu seolah-olah kalian berada dalam khalwat selama empat puluh hari dan kalian akan diberi pahala yang sangat besar, begitu besarnya sehingga para malaikat tidak mampu menuliskan hasanaat dan pahala yang Allah berikan kepada kalian dengan niat tersebut!  Ibadah yang sama yang biasa kalian lakukan kini diperkuat dengan niat kalian.  Grandsyekh (q) juga mengatakan untuk membaca seluruh niat yang mudah diingat ini,

Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah,
nawaytu ‘r-riyaadha, nawaytu ‘s-saluuk, lillahi ta’ala al-`Azhiim fii hadza ‘l-masjid.
Aku berniat empat puluh hari (khalwat), aku berniat khalwat (dari dunia), aku berniat untuk memutuskan diri (dari dosa), aku berniat untuk mengambil disiplin (dari tarekat), aku berniat suluuk (patuh sepenuhnya) kepada Allah, Yang Maha Agung, di masjid ini.

Grandsyekh (q) berkata bila kalian menggabungkan semua niat ini, semua prinsip dan fundamental bila digabung dalam niat khalwat kalian yang dilakukan di dunia ini, maka di akhirat kalian akan bersama dengan orang-orang yang juga membuat niat ini (yaitu para Awliyaullah). Kalian bahkan dapat menambahkannya dengan nawaytu ‘sh-shiyaam, “Aku berniat untuk puasa” sebelum salat atau membaca Qur’an Suci, karena kalian tidak akan berbicara dengan orang lain, kalian mendedikasikan waktu kalian untuk salat atau zikir atau beribadah seolah-olah kalian berpuasa selama kurun waktu itu, bukan puasa sesungguhnya, tetapi kalian membuat niat ibadah puasa, jadi dengan Rahmat Allah dan syafaat Nabi (s), kalian akan diberi pahala untuk semua puasa dari orang-orang yang pernah puasa di dunia, semuanya digabungkan sejak Adam hingga Hari Kiamat!
Awliyullah adalah mercu suar dan mereka disebut “umat yang saleh dan ikhlas” di antara umat karena kebaikan apa pun yang diberikan kepada mereka, mereka juga rela membaginya dengan yang lain, karena itu merupakan salah satu prinsip iman, sebagaimana Nabi (s) bersabda,

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه
Tidaklah seorang di antara kalian dikatakan beriman sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya. (Bukhari dan Muslim)

Ketika Awliya melihat rahmat ini diturunkan kepada Ummah an-Nabi (s), mereka senang membaginya sesuai dengan level mereka.  Itulah sebabnya Grandsyekh (q) … sudah tidak ada sekarang, tetapi saya akan membaginya dengan kalian.  Demi kecintaan kalian pada syekh kalian, kalian ingin memberikan sesuatu kepadanya ketika kalian berjumpa dengannya dan kami sangat mencintai Grandsyekh (q) pada saat itu, dan insyaa-Allah pada saat ini dan setiap waktu!  Sebagaimana yang kami lakukan dan sebagaimana banyak murid yang memberi sesuatu kepada Mawlana Syekh Nazim, ketika kalian bertemu dengan syekh, kalian memberinya sesuatu, meskipun Hadits Nabi (s) mengatakan,

ورجل تصدق أخفى حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه
[Di antara tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada Hari Kiamat adalah] orang yang memberi sedekah secara rahasia sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. (Bukhari)
 

Jadi ketika kami mengunjungi Grandsyekh (q) kami menyerahkan sesuatu, saya tidak akan mengatakan apa itu, tetapi kami menyerahkan sesuatu dan saat itu sampai sekarang, setiap kali saya mengingatnya, saya masih bisa menggambarkan Mawlana Grandsyekh `AbdAllah (q) dengan busana yang dikenakannya dan bagaimana cara saya menyerahkan amanat itu kepadanya, hadiah itu kepadanya, dan beliau berkata, “Yaa waladii, wahai anakku! Insya’Allah engkau akan mewarisi `Uluum al-Awwaliin wa ‘l-Aakhiriin.”  Seolah-olah saya melihatnya sekarang.
Lihatlah, dengan kekuatan apa beliau mengangkat (derajat) kalian, karena cintanya kepada kalian dan cinta kalian kepadanya.  Beliau dapat melihat hubungan itu sementara kita tidak dapat melihatnya, beliau ingin memberikan yang terbaik kepada kalian, dan apakah yang terbaik itu?  Mewarisi setetes ilmu dari Samudra Nabi (s), `Uluum al-Awwaliin wa ‘l-Aakhiriin “Ilmu tentang Awal” dan “Ilmu tentang Akhir”, setetes dari ilmu tersebut, Grandsyekh sering mengatakan bahwa setetes ilmu tersebut akan membanjiri seluruh alam semesta.  Tidak akan ada lagi alam semesta jika Allah (swt) akan membukakan ilmu yang Dia berikan kepada Nabi (s)!
Itulah sebabnya Grandsyekh (q) berkata, “Semua ilmu awliyaullah, semua jutaan buku yang telah ditulis ini tidak sampai setetes dari Samudra ilmu Nabi (s) sehingga jika ada izin atas perintah Allah untuk membukanya, seluruh alam semesta akan banjir, ia akan musnah ketika kalian memasuki samudra yang dalam itu.”  Samudra apa?  Ketika kalian masuk ke dalam samudra dan berenang, kalian masih mempunyai nafs.  Ketika kalian masuk ke dalam samudra, ketika kalian melewati samudra, sebagian dapat melayang dengan punggungnya: itulah kepasrahan.  Ketika kalian pasrah, kalian tidak lagi mempunyai keinginan, mereka akan mengizinkan kalian untuk memasuki Samudra Ma`rifah, karena di sana kalian akan mendapatkan batu permata, tidak ada lagi batu kerikil, tidak ada lagi sampah–tetapi mereka ingin agar permata ini dijaga, dan dari partikel kecil berisi formula surgawi yang istimewa mereka percikkan pada Ummat an-Nabi (s) [itu menjadi sesuatu yang sangat besar], seperti di dalam Kimia, kalian menggabungkan berbagai unsur dan menghasilkan sebuah reaksi baru.  Setiap saat Awliyaullah mempunyai sebuah formula baru yang muncul dan itu tidak sama satu sama lain, masing-masing berbeda.
Di dalam Hadits an-Nabi (s), di antara jutaan buku di mana-mana, apakah yang terbaik untuk dibaca di dunia ini?  Dan sekarang mereka membuatnya lebih mudah bagi kalian, agar kalian dapat memilikinya di telepon selular, tablet atau apa pun, kalian dapat membacanya setiap saat dan kalian dapat menemukannya tetapi itu bukanlah yang terbaik yang dapat kalian baca! Yang terbaik yang dapat kalian baca adalah sesuatu yang seolah-olah kalian duduk di sebuah taman penuh bunga yang wangi semerbak, ketika kalian menciumnya kalian akan mensyukuri kehadiran kalian di dalam taman itu, sebagaimana Nabi (s) bersabda,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا مررتم برياض الجنة فارتع. قالو وما رياض الجنة؟ قال “حلق الذكر”
Ibn `Umar melaporkan bahwa Nabi (s) bersabda: “Ketika kalian melewati Taman-Taman Surga, maka singgahlah di sana.”  Para Sahabat bertanya, “Apakah Taman-Taman Surga itu wahai Rasulullah?”  Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (Tirmidzi)

 
Hilaq adz-Dzikr adalah seperti majelis ini, atau majelis-majelis di masjid.  Taman Surga ini tergantung pada apa yang kalian ajarkan dan pada tingkatan apa kalian mengangkat derajat mereka.  Tetap saja dari semua ini yang terbaik yang dapat kalian pelajari dari zikrullah atau dari ilmu ini adalah al-Qur’an Suci. Nabi (s) bersabda,

الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران
Orang yang pandai dalam membaca al-Qur’an akan bersama dengan para malaikat yang mulia, sedangkan orang yang membaca al-Qur’an dengan terbata-bata, dan menemukan kesulitan dalam membacanya, baginya ada dua pahala. (Muslim)

Al-maahiru bi ’l-Qur’ani ma`a ’s-safarati ’l-kiraam al-barara. Orang yang pandai membaca al-Qur’an, karena suara dan tajwidnya baik, ia juga menjaga ahkaam Qur’an Suci, ia akan membacanya bersama malaikat, malaikat akan bersama mereka.  Oleh sebab itu sekarang, sayangnya, ketika kalian bangun tidur, apa yang kalian lakukan?  Kalian minum kopi dan membaca koran, bukankah begitu?  Kebanyakan begitu, tetapi tidak setiap orang.  Di negeri-negeri Arab, atau Inggris, atau Cina atau Jepang, Perancis, Italia atau Meksiko.  Yang pertama dilakukan orang adalah yalhuuq, mereka mengganggu kalian dengan sampah berita-berita yang mereka masukkan ke dalam koran.  Jadi, apa yang kalian baca bukannya bersama malaikat, karena ketika kalian membaca al-Qur’an, kalian membaca Kalamullah.  Koran adalah kata-kata Setan.  Ketika kalian membaca al-Qur’an kalian membaca Kalamullah, dan ketika kalian membaca kitab-kitab ulama, itu adalah kata-kata ulama, walaupun mereka mengutip dari Qur’an dan Hadits; ya Qur’an adalah Kalamullah dan Hadits adalah kata-kata Nabi (s), tetapi penjelasan lainnya adalah kata-kata para ulama itu.
Ketika kalian membaca Qur’an Suci, tidak ada campuran apa-apa di sana, tidak seperti sup, itu adalah Kalamullah secara langsung.  Jadi orang-orang yang pandai itu membaca dan para malaikat juga membaca bersama mereka dengan cara yang sempurna.  Jadi apa yang dilakukan oleh orang yang tidak bisa membaca al-Qur’an?  Ada banyak mualaf dan juga banyak Muslim yang bahasa aslinya bukan bahasa Arab, apa yang akan mereka lakukan?  Apakah mereka akan disingkirkan dari pahala?  Tidak.  Yang Allah (swt) inginkan dari kalian adalah niatnya, tunjukkan niat kalian, dan itulah sebabnya Nabi (s) bersabda,

إنما الأعمال بالنيات
Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.

Innama li kulli imrin ma nawaa, setiap amal yang ingin kalian lakukan dengan niat, para Awliya dapat mengangkat kalian lebih tinggi bahkan jika kalian tidak dapat melakukannya.  Misalnya, saya membaca al-Qur’an setiap pagi, tetapi sekarang ketika saya ingin membacanya, ada tamu yang datang, kemudian ketika saya mulai membaca Qur’an, tamu lainnya datang.  Setelah itu ketika saya ingin membacanya, telepon berdering.  Semua interupsi ini membuat kalian tidak bisa membaca, tetapi karena niat kalian adalah membaca al-Qur’an, maka dituliskan bagi kalian bahwa kalian telah membacanya.
Jadi orang yang tidak dapat membaca al-Qur’an karena ia tidak mengetahui bahasa Arab, niatnya adalah membaca al-Qur;an, melalui cintanya, Nabi (s) memberikan syafaat bagi umatnya dan apa yang dikatakan oleh Hadits?  “Orang yang pandai dalam membaca al-Qur’an akan membacanya bersama malaikat… dan mereka yang tidak mengetahui bagaimana membacanya dengan baik, wa yatat`at`a fi ’l-qur’an, mereka terbata-bata dalam membaca al-Qur’an sedemikian rupa sehingga orang yang mengerti bahasa Arab akan kesal mendengarnya, tetapi Allah tidak kesal, Nabi (s) tidak kesal, Awliya tidak kesal, dan Nabi (s) bersabda,  wa huwa `alayhi syaaq lahu ajraan. “Orang yang terbata-bata dalam membaca al-Qur’an Suci tetapi mempunyai niat yang kuat pada dirinya, ‘Aku harus membacanya meskipun aku melakukan kesalahan’, yatat`at`a [berjuang dalam mengeja], kalian akan mendapat dua pahala dan malaikat yang ditunjuk akan melipatgandakan pahala bagi kalian bila kalian membacanya seperti itu!   Itulah Hadits Nabi (s) dari Sahih Muslim.
Qaala `Ayesya radhiy-Allahu `anha qaala rasuulullah Al-maahiru bi ’l-Qur’an ka ’s-safarati ’l-kiraam al-barara, orang yang mahir dalam membaca al-Qur’an, ia membacanya bersama malaikat dan orang yang terbata-bata dalam membacanya akan mendapat pahala ganda, dengan malaikat yang dua kali lipat.
Jadi Awliyaullah membawa kalian dengan usaha yang kecil.  Saya melakukan serangkaian uji lab dan salah satu uji itu bernilai 425 dolar dan perawatnya berkata, “Dapatkah Anda mengubah kodenya [tagihan asuransi]?  Itu adalah uji yang sama, tetapi dengan kode itu Anda membayar 400 dolar, sedangkan dengan kode ini Anda membayar 100 dolar.”   Awliyaullah mempunyai sebuah kode untuk mengangkat kalian lebih tinggi dan tinggi lagi, Allah memberikannya kepada mereka karena mereka membawa para pengikut mereka ke Samudra Makrifat bersama mereka, seperti seorang jenderal di angkatan bersenjata, ia tidak meninggalkan tentaranya ke tangan musuh, ia akan kembali untuk membebaskan mereka.  Jadi kode-kode ini adalah perlu sebagaimana menurut Hadits, innama ’l-`amaalu bi ’n-niyyaat, itu adalah sebuah kode di mana jika niatnya adalah untuk hijrah menuju Allah dan Nabi-Nya, niatnya untuk hijrah dari dunia dan menghadap Allah dan Nabi-Nya, ia akan diberi ganjaran seolah-olah ia telah melakukannya, bahkan jika ia tidak melakukannya, dan Nabi (s) akan memberi ganjaran padanya, awliyaullah akan membawa tangannya karena mereka adalah para pengikutnya, membawa mereka menuju marifa`ahtullah melalui kalbu mereka.  Jangan berpikir bahwa Syekh kalian tidak membantu kalian melalui kalbu kalian!  Tidak, ada Syekh-Syekh sejati, dunia ini penuh dengan mereka, penuh dengan Awliyaullah, ada 124.000 Awliya untuk mengangkat umat lebih tinggi dan tinggi lagi dengan dukungan Nabi (s).
Jadi ketika beliau mengatakan, `Uluum al-Awwaliin wa ‘l-Aakhiriin, kepada saya ketika saya menyerahkan amanat itu, beliau begitu gembira karena beliau ingin memberi kalian sesuatu atas apa yang kalian berikan untuk membuatnya gembira, itu adalah sebuah hadiah kecil, bukan sampai ke level Grandsyekh, tetapi pada saat itu saya merasakan bahwa inaayatullah, dan rahmatullah turun pada saat itu ketika beliau mengucapkannya, dan beliau membawa saya bersamanya Kekuatan inaayatullah dan rahmatullah itu dan beliau berdoa, “ Ya Rabbii `Uluum al-Awwaliin wa ‘l-Aakhiriin fii kulli lahzha, pada setiap saat,” dengan niat itu beliau ingin agar saya dapat “merasakan `Uluum al-Awwaliin wa ‘l-Aakhiriin dalam setiap saat kehidupannya,” dan itu adalah sebuah ganjaran dari Awliyaullah!  Hitunglah sekarang berapa banyak ganjaran yang mereka berikan kepada kalian sepanjang hidup mereka?  Bukan hanya dalam kehidupan mereka, tetapi bahkan lebih banyak lagi di Akhirat karena mereka lebih bebas di sana, sebagaimana Nabi (s) menyebutkan,

القبر إما روضة من رياض الجنة ، أو حفرة من حفر النار
Kubur itu dapat berupa sebuah taman dari Taman-Taman Surga atau sebuah jurang dari Jurang-Jurang Neraka. (Tirmidzi)

Mengenai kehidupan di alam kubur, setiap kubur itu dapat berupa bagian dari Surga atau bagian dari Neraka.  Bila ia merupakan bagian dari Surga, kalian akan bebas, kalian dapat pergi ke mana-mana, kalian tidak akan dibelenggu, sebagaimana Nabi (s) menyebutkan di dalam banyak Hadits.  Jadi, ketika Syekh mampu melakukannya, karena Allah memberikan kekuatan itu, beliau akan membaginya kepada para pengikutnya dulu baru kemudian kepada umat.  Semoga Allah memberkati kita dengan berkah Qur’an Suci dan memberkati kita dengan berkah dari para masyaaykh ini yang nilainya tidak kita ketahui hingga mereka meninggalkan kita, terutama ketika seseorang adalah seorang kepala suku dan di zaman Nabi (s) semua orang adalah bagian dari suku-suku tertentu.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
Wahai manusia!  Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu bisa saling mengenal satu sama lain. (Surat al-Hujuraat, 49:13)

Biasanya mereka mempunyai suku yang besar, 10,000, 20,000, 100,000 dan seterusnya, bukankah begitu?  Ketika sang amiir dari suku itu wafat, apa yang terjadi?  Terjadi kebingungan, kalian tidak dapat mengendalikannya lagi.  Itu seperti tasbih (rangkaian biji tasbih), ini dari Mawlana Syekh Nazim, itu seperti tasbih, qata` as-silka, dengan tali yang putus, apa yang terjadi?  Biji-bji tasbih ini akan jatuh berhamburan.  Jadi, pastikan untuk berdoa agar para Awliyaullah mempunyai umur panjang, karena jika sesuatu terjadi pada mereka, talinya akan putus, sehingga seluruh kelompok akan bercerai-berai.  Kita tidak mengetahui nilai mereka hingga wafatnya mereka, saat itu kalian melihat begitu banyak kebingungan dan sekarang kita lihat kebingungan di antara umat tanpa persatuan.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً
Jika Allah berkehendak, Dia akan membuat manusia sebagai satu bangsa. (Surat al-Hud, 11:118)

Orang-orang berkata, “Mari kita bersatu.”  Bagaimana bisa bersatu?  Pada ayat lainnya Allah berfirman, “Jika Allah berkehendak, Dia akan menjadikan kalian sebagai satu bangsa, satu suku, kalian tidak akan berselisih.”  Dia ingin agar kalian berselisih dan memiliki salah paham dan bersaing dalam hal siapa yang lebih banyak beribadah, berlomba-lomba dalam beribadah.  Allah membuat kita syu`uban wa qabaail agar kita saling mengenal satu sama lain.  Allah Maha Mengetahui.  Dia tidak mengatakan, “bersatu”, karena tidak ada orang yang mau bersatu, tetapi kelompok-kelompok akan bersatu, dan kita harus mengetahui bahwa membangun jembatan adalah penting, tetapi bersatu dulu di dalam rumah yang sama.  Apa gunanya membangun jembatan di luar ketika di dalam rumah berantakan?  Tanyalah pada orang di sampingmu. Benar?  Itulah masalahnya.
Semoga Allah (swt) membimbing kita untuk menyebutkan–itulah sebabnya mengapa Awliya mengatakan untuk membaca Silsilah paling tidak sekali sehari dan Grandsyekh, semoga Allah memberkati ruhnya, saya ingat ketika Mawlana Syekh Nazim (q) sendiri menuliskan Silsilah dalam bahasa Arab, itu adalah… Saya ingin agar setiap orang mempunyai salinannya, insyaa-Allah minggu depan kita akan buatkan salinannya dengan gelar dari setiap wali dalam Silsilah Naqsybandi, beliau menuliskan dengan gelar mereka dan beliau mendiktekan kepada kami dan kami menulisnya.  Jadi insyaa-Allah minggu depan kalian akan mengkopinya dan kalian dapat memindainya sehingga setiap orang dapat memilikinya.  Itu bukanlah sesuatu yang sudah dimiliki banyak orang, itu adalah sesuatu yang tidak pernah orang lihat sebelumnya.  Saya pikir engkau sudah membacanya, bagus sekali. Insyaa-Allah kita akan menyebarkannya kepada setiap orang paling tidak untuk dihafal dan dibaca, jika engkau menerjemahkannya, maka setiap orang dapat mengerti apa saja gelar mereka.
Semoga Allah memberkati ruh para syuyukh kita dan menjadikan kita senantiasa  bersatu di seluruh dunia di bawah Thariqah an-Naqsybandiyya al-Nazimiyya al-`Aliyyah atau Thariqah an-Naqsybandiyya al-Nazimiyya al-`Aliyyah, al-Haqqaniyya, apa pun yang mereka inginkan, apa pun itu, itu tidak akan mengubah apa-apa, tidak mengubah awraad, tetapi hanya menambahkan satu nama, yaitu nama Mawlana Syekh Nazim.  Tidak apa-apa, semoga Allah memberkahi setiap orang dan semoga Allah mendukung setiap orang.
Bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.
Syekh Hisyam Kabbani
5 September 2015   Burton, Michigan
Shuhbah Maghrib di Masjid As-Siddiq Institute & Mosque (ASIM) (2)
http://sufilive.com/The-Intention-for-Any-Worship-in-the-Naqshbandi-Tariqah–5982.html
© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.
copas dari : http://naqsybandi.com/

Menjadi Waliyullah Sebab Memandang Waliyullah

Suatu ketika seorang lelaki yang sejak muda selalu bermaksiat dan bergelimang dosa berjalan melewati rumah seorang waliyullah.
Ia melihat pintu rumah sang wali terbuka. Tiba-tiba terlintas dalam hatinya untuk berhenti sejenak. Ia berkata dalam hati, “Tubuhku ini sejak diciptakan Allah selalu bermaksiat, Sedangkan sang wali itu, tubuhnya sejak diciptakan Allah selalu taat. Aku ingin memandang tubuh yang taat itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, semoga berkat pandanganku ini kelak di hari kiamat aku memperoleh pertolongannya (syafa’atnya).
Ia pun menghentikan langkahnya. Saat itu sang syeikh sedang berdiri di depan pintu. Lelaki pendosa itu lalu memandang sang syeikh dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan berharap berkah.
Setelah puas ia pergi tanpa berkata sepatah katapun.
Di tengah jalan lelaki itu bertemu dengan salah seorang murid sang syeikh tadi.
“Mengapa kau pergi meninggalkannya?” tanya si murid.
“Aku hanya ingin menatapnya. Kukatakan pada diriku semoga tubuh yang taat itu memberi syafa’at kepada tubuh yang suka maksiat ini”
Lelaki itu pun melanjutkan perjalanannya. Sementara si murid menemui sang syeikh dan bertanya,
“Apakah tadi ada seorang lelaki datang menemuimu?”
“Ya, ia berhenti di pintu kemudian pergi begitu saja” jawab sang syeikh.
”Aku tadi juga melihatnya. Kutanyakan mengapa ia berbuat demikian, ia lalu menjelaskan alasannya,” kata si murid sambil menceritakan alasan si lelaki.
“Benarkah ia berkata demikian!?”
“Benar”
“Kalau demikian, tidak ada yang pantas membawa sir-ku kecuali dia.
Panggillah dia!”
Si murid bergegas pergi mengejar lelaki itu sampai ia mendapatinya di pasar.
“Cepat kemari, kau akan memperoleh sesuatu tanpa harus bersusah payah” ajak si murid.
Sang syeikh kemudian menjadikan lelaki tersebut murid khususnya dan memberikan sir kepadanya. Lelaki itu akhirnya menjadi kholifah sang syekh dan menggantikan kedudukannya untuk mendidik murid-muridnya.
Hikmah yang bisa dipetik dari kisah diatas adalah :
1. “Al madad biqodril Masyhad” besar kecilnya pemberian itu tergantung cara pandangnya. Para sahabat setiap detiknya mendapat maqam yang tinggi dengan memandang wajah Rasulullah Saw. Sedangkan Abu Jahal hanya memandangnya sebagai anak yatim biasa.
2. Jika mampu, Jadilah orang Alim! Jika tak mampu, Jadilah Pelajar Ilmu! Jika juga tak mampu, cukup Sayangi mereka! Jika masih tak mampu, Jangan Musuhi mereka !!
Semoga bermanfaat..

sumber : https://www.facebook.com/groups/172176142176/permalink/10153667102437177/

3 level muslim menghadapi musibah/kesulitan

Setiap muslim diharapkan memiliki adab, sebagaimana Rosululloh diutus untuk menyempurnakan akhlak.
Dalam menerima Musibah, ada 3 level yang mungkin ada oleh seorang muslim.

  1. adab level 1 , ketika ia mendapat bencana/musibah, ia akan menahan nafsunya, menahan untuk tidak mengeluh, berusaha tegar dalam menghadapinya.
  2. adab level 2 , ketika mendapat musibah/bencana, ia akan menundukkan dirinya, merendahkan dirinya dihadapan Allah dan makhluknya serta mengoreksi setiap gerak-geriknya, ia dapat memandang kesalahannya dan memandang rahmat Allah.
  3. adab level 3, ketika mendapat penderitaan/ bencana/ musibah, maka ia akan tersimpuh malu dan memohon kepada Allah untuk mengampuni setiap kesalahannya, serta mendoakan kebaikan untuk dirinya, untuk orang yang menyakitinya (dalam pandangannya, orang tersebut adalah perantara Rahmat Allah), mendoakan kebaikan dan pahala bagi seluruh keluarganya, tetangga dan sekitarnya, berdoa agar kesulitan yang ditimpanya juga merupakan kafarat untuk mereka semua.

“semoga kesembuhan bagi istri dari guru tercinta yang mengajarkan adab luar biasa”