salaman kemudian tangannya ……

ini ada ilmu baru dari guru bahasa daerah, bapak Kusno.
Tadi ketika bersalaman dengan beliau, awalnya ya dikit guyon, setelah bersalaman saya tempelkan telapak tangan ke dahi… hehehehe
Kemudian beliau menjelaskan, orang-orang tua dulu juga gitu, meletakkan telapak tangan di dahi dan di dada, dengan tujuan (afirmasi),
di dahi -> fikiran biar tenang
di dada -> hati juga tenang
belajar memang gak mengenal bangku sekolah yaa, dimanapun dapat kita ambil pelajaran

tanda kesombongan

tanda kesombongan adalah ketika kita sudah dapat melihat orang lain sombong.
tanda kesombongan adalah ketika kita sudah dapat melihat kelemahan orang lain.
tanda kesombongan adalah ketika kita merasa tidak sombong.
tanda kesombongan adalah ketika kita telah merasa tidak sombong.

guru antara cahaya dan bayangan

menulis ini mungkin dipicu oleh anak-anak, curhat mereka juga tidak salah, dan yang salah adalah diri ini ……
teringat dulu banget dan bahkan mungkin sampai saat ini, ada sebuah pengajaran yang terus terngiang di fikiran “guru adalah panutan, dan tanpa guru bagaimana engkau akan masuk surga? bagaimana mendapat berkah? guru adalah segalanya, guru adalah contoh sempurna”
mungkin hal tersebut juga yang terbayang dalam benak ketika ngaji ta’lim muta’alim yang begitu kerasnya menuntut seorang murid untuk menghormati guru.
tapi dalam perjalanannya, ternyata teori tersebut tidak seindah angan…..
ketika fikiran udah mulai “nakal” dan su’udzon melingkupi hati, maka kita akan mudah melihat kesalahan guru, apalagi guru yang dekat dengan kita, guru yang sering kita bersamanya, “gambaran ideal, rasanya pecah”
“guru kok gini?” “apanya yang dihormati” “ternyata ya sama saja” “ternyata omdo doang toh”  “ngapusin ……” dll
suatu ketika saya dijangkiti penyakit tersebut (mungkin sekarang masih kali yaaa???? apa lagi dah jadi guru formal, “eeeehhhh podo wae”)
diperjalan berikutnya, secara tidak sengaja (mana ada kebetulan??? pasti udah takdir) menemukan website majelisrasulullah.org yang ketika itu masih diasuh oleh pendirinya Mawlana Habib Munzir Al Musawa, dan beraudiensi (curcol) melalui forum tanya jawab beliau ……
Rasanya menemukan oase baru setelah beberapa kekeringan. kalimat “salam beliau” langsung membuat pecah air mata ini, kerinduan langsung menyergap, aneh memang, orang yang belumpernah aku temui, dan hanya lewat komunikasi online forum aja dapat menyentuh relung hati ini ….. alfatihah tuk guruku mawlana habib Munzir yang walau mata ini belum pernah bertemu, tapi hati ini merasa dekat.
satu hal yang ku pelajari kemudian tentang “fenomena guru ideal” yang telah melekat dan terdoktrin dikepala ini adalah ….
“GURU ADALAH MANUSIA BIASA, ya memiliki kebaikan ya memiliki keburukan,
GURU ADALAH PERMATA, yang telah dimulyakan Allah dengan cahayaNya”
karenanya ada nasehat yang luar biasa menurutku …
“lihatlah keburukannya dalam bertemen, agar engkau mampu toleran akan keburukannya,
dan lihatlah kebaikannya dalam berguru, agar engkau bersedia menerima bimbingan dan ilmunya”
iya…
bagaimanapun seorang guru, ada sesuatu yang istimewa padanya yang telah diberikan oleh Allah kepadanya untuk kita ambil sebagai murid.
kita begitu naif bila mengatakan ada orang yang sempurna atau ada orang yang cacat sepenuhnya, karena Allah menciptakan setiap orang begitu unik dengan segala kelebihan dan kekurangan. tapi bila itu menghalangi kita untuk belajar kepada orang lain, maka itulah tanda bahwa kita merasa lebih dari orang lain, kita sudah sombong, kita hendak menyaingi Allah? kita lupa akan kekurangan kita, naudzubillah.
untuk kita lebih mudah menyerap ilmu seseorang, maka kita harus merasa bahwa orang tersebut memiliki kelebihan melebihi kita, sehingga ada ilmu yang jatuh pada kita. bila tidak? maka hanya akan ada penolakan pada diri…. naudzubillah
makanya ada yang mengajarkan doa “ya Allah, aku berlindung padaMu agar dijauhkan dari melihat keburukan guruku, ……..”
Sifat manusia adalah ketika fokus pada sesuatu, maka hal lain akan diabaikan, begitu juga dalam memandang oarang lain.
bila kita fokus akan keburukan seseorang, maka yang terlihat pada kita hanyalah keburukannya, lain lagi bila kita fokus akan kebaikannya maka kita merasa ia penuh dengan kebaikan dan keburukannyapun terabaikan.
makanya cobaan terberat bagi seorang murid adalah bila “dekat” dengan seorang guru, sehingga ia dapat melihat semua sisi kemanusiaan dari sang guru. apakah ia tetap melihat kebaikan gurunya sehingga ia tetap tulus kepada gurunya atau ia mulai melirik keburukannya yang menggiring kepada penyamaan dirinya dengan sang guru atau bahkan meremehkan sang guru, meremehkan guru akan menghalangi kita menerima kucuran ilmu darinya, apapun yang datang darinya akan kita sepelekan , naudzubillah.
terkadang, berada “jauh” dari sang guru adalah keberuntungan, untu menjaga hati lemah kita yang mudah su’udzon (lemah iman) untuk melihat kelemahan-kelemahan guru, sehingga kita tetap cinta dan patuh kepadanya.
kok lemah iman? njh loh, kata pak kyai, “orang mukmin itu tidak dapat melihat keburukan orang lain” ia dipenuhi khusnudzon, prasangka baik dengan hatinya yang murni.
pernah juga mendapat sms oleh pak kyai mengenai hal ini “pencari ilmu sendiri haruslah hanya mencari cahaya dan ridlo Allah” suatu sindiran yang ketika itu lagi kecewa akan salah seorang guru. hmmm … aku melihat keburukannya hanyalah karena diri ini buruk … hati ini menjadi buta sehingga tidak dapat melihat caha ya Allah melaluinya, setiap orang tercipta dari cahayaNya.
bila kita mau merendah, maka kita akan bersedia menerima ilmu darinya, bersedia belajar kepadanya, bila kita merasa lebih rendah dari semua orang, maka kita akan dapat menerima ilmu dari semua orang, semua orang akan menjadi “guru” kita, menjadi “syekh” kita.
Mungkin inilah nasehat “lihatlah setiap murid mawlana sebagai syekh” bukan kalimat syekh secara semu, bukan kalimat guru secara semu, tetapi tidak ada manfaat yang dapat di ambil disebabkan kesombongan kita.
Kita memanggil guru/syekh tapi dalam hati mengumpat “engkau sama saja denganku, bahkan engkau punya beberapa keburukan lagi”, akan lebih bermakna kita memanggil sesuai tingkatan formalnya “adik, saudara, tuan, pak, bos, teman, dll” tetapi dalam hati “orang ini lebih baik dari ku, aku harus dapat mengambil manfaat darinya, aku ingin belajar kepadanya, ia adalah guruku/syekhku, orang yang dikirim Allah untuk aku belajar kepadanya”
lah dalah ……. mulai ngelindur kesana kemari …..
lebih lagi, …..
katanya….
ilmu Nabi dibanding ilmu sahabat adalah bagaikan samudra dengan setetes air darinya
ilmu sahabat dibanding ilmu awliya adalah bagaikan samudra dengan setetes air darinya
ilmu awliya dibanding ilmu ulama adalah bagaikan samudra dengan setetes air darinya
ilmu ulama dibanding ilmu orang awam adalah bagaikan samudra dengan setetes air darinya
nah mungkin untuk mengetahui sedikit dari ilmu apa sih yang telah dikaruniakan Allah kepada Nabinya, adalah dengan belajar dan mengambil ilmu dari semua makhluk yang ada tanpa kecuali,
akhir kalam …
rendah hati
mungkin kuncinya …
tidak masuk surga orang yang dihatinya ada setitik kesombongan,
Allah A’lam
 

silaturrahmi

silaturrahmi adalah urusan hati, bagaimana hati hati saling tertaut.
contohnya : diterminal begitu banyak orang dekat secara fisik, tetapi tidak ada kedekatan hati, begitu juga ditempat lain.
ada pula yg jauh secara fisik tetapi sangat dekat di hati.
menyambung silaturrahmi adalah menyambungkan hati, kedekatan jiwa, saling perduli…..
Silaturrahmi bukan sekedar, saling sapa tetapi diiringi kesinisan atau kebencian.
Silaturrahmi juga bukan hanya saling berkunjung, tetapi saling curiga dan keirian.
silaturrahmi juga bukan hanya berkumpul bersama tetapi saling dendam, dan bertengkar.
Silaturrahmi adalah saling menyapa dengan hati, dan sapaan terbaik adalah sapaan dengan doa kita yang baik untuk mereka dengan tulus, inilah “assalamualaikum” salam yang terucap di bibir ketika bertemu secara fisik dengan mereka, dan salam yang terucap dalam kesendirian kita dengan Allah.
Silaturrahmi adalah saling menziarahi dengan hati, dan kunjungan terbaik kita dalah dengan rasa cinta kepada mereka karena Allah, kita menginginkan kebaikan untuk mereka, kita berikan kebaikan kita untuk mereka, kita hadiahkan pahala dan doa-doa kita untuk mereka. kita kunjungi hati dan ruh mereka dengan ruh kita bersama ruh junjungan para hati yaitu Rosululloh saw. kunjungan secara fisik yang menyenangkan mereka, juga kunjungan secara hati yang membawa mereka kepada kebahagiaan hakiki bersama Rosululloh.
Silaturrahmi adalah saling berkumpul, bersahabat, bersaudara dalam lingkungan surgawi, kita tidak pernah melepaskan saudara kita (umat nabi saw) dalam kesusahan kecuali kita membantunya, kita selalu menemaninya dalam perjalanannya menuju Allah. dalam setiap aktivitas kebaikan kita, kita sertakan juga mereka, karena mereka dan kita adalah saudara dalam rahmat, Rosululloh saw adalah rahmat dan rohim Allah. Keperdulian, kedekatan hati dan kebersamaan kita adalah bukti kekeluargaan kita, terutama perhatian kita dihadirat ilahi, karena dihadirat Allah tidak ada jarak antara kita dan mereka.
Allah a’lam

arogansi intelektual penyebab kekacauan

AKULAH DEBU DI JALAN AL-MUSTHOFA
Ulama arif billah pernah mengatakan bahwa salah satu dari sekian banyak penyebab kekacauan, yang sayangnya sulit diatasi, adalah karena arogansi intelektual yang tidak pada tempatnya. Makin banyak orang dengan ilmu seadanya, belum mengalami berbagai ujian hidup dan keruhanian, mendadak dipanggil ustadz, ulama, dan mengeluarkan pendapat yang diklaim paling sahih.
Di sisi lain ada pula anak-anak muda begitu bersemangat membaca, menggaungkan semangat iqra’ dengan keinginan mengubah dunia, menciptakan peradaban yang agung atas dasar ‘pembacaan’ dan tafsir mereka tentang apa itu peradaban yang agung. Tetapi sepertinya ada yang luput. Banyak yang menyerukan iqra’ tapi tidak dengan menyertakan “bismi rabbikalladzi khalaq,” dengan menyertakan Rabb, Allah Yang Maha Mendidik. Banyak yang membaca seolah merasa mampu menelisik sendiri segala ilmu segala pengetahuan, tanpa menelisik ke dalam “ruh” dari apa yang mereka baca — padahal ‘ruh’ dari ayat ilahiah, baik dalam kitab suci maupun kosmos, hanya bisa dipahami jika orang selalu menyertakan Rabb dalam aktivitas belajarnya dengan segala kerendahan hati dan kesucian jiwa.
Tanpa itu, agama lalu menjadi tumpukan doktrin kering, kaku, keras, mencetak jiwa-jiwa yang mudah marah dan merasa selalu benar sendiri. Pada akhirnya, agama yang
tujuannya membereskan akhlak dan menghancurkan berhala, justru dijadikan berhala, dan bahkan lebih buruk lagi, sebagian orang menjadikan “berhala agama” sebagai justifikasi untuk memberhalakan dirinya sendiri, mengaburkan makna rahmatan lil-alamiin. Ada yang mencoba memonopoli rahmat Allah hanya untuk kelompok sendiri dan menyerang pihak yang tak sepaham. Dan jika terhadap sesama saudara seiman tak bisa menjadi manifestasi rahmat, bagaimana kita akan bisa menjadi rahmatan lil’alamin?
Belajar agama dengan menyertakan Rabb berarti berusaha meleburkan kehendak diri ke dalam kehendak Allah, dan itu berarti tazkiyatun nafs, mensucikan jiwa. Tetapi tak semua orang berani masuk ke dalamnya, karena tazkiyatun nafs selalu mengandung unsur membingungkan, tak nyaman dan menyakitkan. Maka Maulana Rumi pun berkata, “Banyak orang ingin m

sumber : https://www.facebook.com/luthfi.kamiel/posts/10205440945006449

Keuntungan Sholawat/Dzikir berjamaah

The Benefits of Reciting Salawat in a Group
Those attend the gatherings of Mawlid. Angels attending the gatherings of Dhikr. Heavenly lights will dress you. The rewards for Hafiz of Holy Quran. The benefits of making salawat in a group.
December 20, 2015
Baitul Ihsan Mosque ( Bank of Indonesia ) , Jakarta , Indonesia
Shaykh Hisham Kabbani (q)

aku adalah pipa

aku iri kepada pompa air
ia menarik air dari sumber
sumber air sungguh indah
kesegaran terasa dimana mana
tempat air sangat beruntung
air segar itu menghampirinya
ia dipenuhi dengan air
air dan air
kemanapun aku melihat
mereka beruntung, mereka indah
aku apa?
aku hanya terbujur tak berarti
resah, hanya melihat
resah, terasa hampa
aku ini apa, tidak punya air
tidak dapat memberi kehidupan
sedih, untuk apa aku ini
sedih, aku harus bagaimana
aku hanya melihat mereka
mereka begitu agung
dari lamunan tak berujung
hanya sentuhan air yang ku inginkan
bagaimana aku menggapai air itu
aku harus seperti apa
kesalahan fatal ku,
aku harus seperti apa,
lupakah aku?
aku pipa
air bukan dari aku
air juga bukan untukku
air hanya lewat aku
jalannya membuat segarku
untuk merasakan air, aku harus bersedia
aku harus bahagia
aku harus mencari
mencari penampung air
semakin banyak  penampung air di bawahku
aku semakin bahagia, air tak berhenti
air selalu mengalir, kesegaran yang membahagiakan
keirian adalah kesalahan,
aku punya tugas
ia punya manfaat
begitu hebat penciptaku
rancangannya bermakna
semua punya makna
tuk semua terima kasihku