teringat sma dulu ikut ekstra

mas iqbal … teringat dulu ikut ekstra kungfu krn dia kmd tertarik ikutn, dia jg mngajarkn teknik pernafasan yg dlu dia plajari di pn,

secara garis besar latihannya untuk memperoleh kekuatan fisik dn “tenaga dalam” (bener gak sih?) sama, menurut saya sih … maklum ora biso …

pertama, pemanasan, kmd pernafasan yg keras/lembut, latihan fisik kmd pendinginan (meditasi)

lah kan, disenamkn juga gitu … prmanasan, inti, pendinginan, …. shg badan sehat fikiran kuat (gitu ta)

sklus ini klo dijabarkn … lihatlah orang islam, bangun tidur disuruh mulai dg hal2 ringan dn doa, kmd bekerja kmd pendinginan sholat dll

tenaga dalamnya bisa besar dong klo benar aktifitasnya, kbayang zaman dlu 1 orang islam ktmu 10 musuh gak boleh gentar mundur …

hehe ngayal …

wong sholat kita gk spt nabi yg dalam suatu riwayat surat yg dibaca sj al baqoroh, aliimron, annisa dan al maidah (5 juz ya?) trus rukuknya spanjang itu dan sujudnya lebih pnjang, wah … hayoo spa yg kuat?

hehehe

ngalor ngidul gaya khas,

sbenarnya td pngen bahas thowaf, yang setelah berjalan mengitari ka’bah kmd sunnah minum air zam-zam kmd dilanjutkan sholat sunnah, rasanya sudah lain, sperti perenggangan (pendinginan ya)

ketika fisik dan jiwa sudah terbiasa beraktifitas, kmd tubuh dihentikan aktifitasnya, maka seperti kelembaman, maka otot dn jiwa masih terbawa aktifitas (mungkin inilah tenaga dalam, secara dhohir, dilihat spintas tidak melakukan aktifitas, tetapi “sebenarnya beraktifitas”

semoga damai selalu bersama kalian …

yang membentuk kita adalah memori kita

klo gk salah itu yg sy tangkap dr film nextgen,

dlam bahasa lain mbah kyai bilang walau kelakuan sama dan semuanya sama, tetapi tetap masing2 mempunyai cerita yg berbeda …

contoh, didaerah baru kmd ia kecopetan, kmd prgi dr daerah tsb, bisa jd ia akan crita, disna loh banyak copetnya, hati2.

brbeda dg org lain yg ksna tiba2 ada orang yg memberi makan gratis, bisa jadi crita k orang lain, disana enak, orangnya loman2 makanan gratis banyak

dll, akan bnyak kesimpulan2 yg kita buat brdasarkn pengalaman pribadi kita, bahkn jika “keras kepala” kita tidak mw melihat dari sudut pandang orang lain,

maka untuk kembali ke fitrah … penting rasanya untuk mengupload masalah2 kita agar kita “berfikir” dg default fitrah kita

mungkin itu mengapa, tafakkur sesaat lebih baik dr pd ibadah 7 tahun, kita teliti memori kita, yg baik dan buruk, kmd kita pasrahkan ke Allah, yang buruk diistighfari dan yang baik disyukuri, kmd doa agar dijadikan lebih baik

memcoba update melalui app wp

untuk memudahkn update akhirnya install wordpress app, dan mencoba update post, alhmdulillah hasil …

tp ni td ciba buka menu komentar, merasakan ada komentar2 yg seingat sy ktika buka admin blog gk kelihatan, lah mellui app ni, ada ..

coba memoderasi (ada tulisan tertunda) klik izinkan eh … gak hasil, galat2 gitu deh …

belajar lagi kdepannya

cobaan hidup

mendapat nasehat ust ichwan, cobaan dalam hidup ibarat segenggam garam, tergantung wadahnya, jika hatimu seluas gelas maka rasanya asin benget, tp jk hati seluas danau maka tetap seger saja airnya walau kecampuran segenggam garam,

astaghfirulloh wal hamdulillah

apa itu ibadah?

dalam rukun islam katanya yg menjadi puncak dan penyempurna adalah haji,

tapi jika dilihat dan amati pelaksanaan haji dan umroh, seperti hanya main2,

hny duduk2, tidur2, jalan2, muter2, lari2 kadang diiringi berdesakan, banyak jg selingan ngobrol ngalor ngidul, makan minum, bercanda walau dalam buku yg sy baca hal yg paling harus dihindari adalah marah dan rokok

tolah toleh, ibadah kok cuman sepeti mainan sj, berbeda dengan bayangan asal, syahadat harus ngerti artinya, sembahyang khusuk tenang fokus, puasa ngempet lapar, zakat bagi2 harta yg disayangi, lah haji?

akhirnya berfikir ulang, apa itu ibadah? apakah yg kita fikir “ibadah” apakah ibadah? yg gini gitu? ataukah apa-apa yg membuat Allah bahagia? walau trkdang menurut org lain adalah tak berguna cuman main-main atau bahkan jauh dari kata baik, tp jika itu menyenangkan Allah maka itulah ibadah,

Allahu a’lam

rumah kekasih …

lama tidak bertemu semenjak pertemuan terakhir,

engkau tanya siapakah dirimu?

hanya jawaban yg sesuai dg keinginanmu yg diterima,

akhirnya engkau lepas ditempat yg jauh

pemandangan dan keunikan menghiasi mata,

kemerduan dn kebisingan menyelingi telinga,

terik panas dn dingin menusuk angin menemani,

bebauan mnyengat dr mulut ke hidung

setelah lama akhirnya bisa berkunjung,

walau hanya berada di luar saja,

rumah yang sederhana mungkin jg tak indah,

tapi disitulah kerinduan berada,

hanya dapat melihat rumah itu,

melihat dan mengitari dari sisi ke sisi,

tapi mengapa hati ini tidak menangis?

meluapkn rasa kerinduan yang terpendam,

atau memang tidak ada kerinduan?

tetapi mengapa ada kekosongan?

mengapa ingin kembali dan kembali?

walau hanya melihat rumah kosong itu?

aku bertanya, wahai rumah, kemana pemilikmu?

engkau hanya setumpuk bata tapi penuh makna,

engkau hanya bangunan sederhana tapi selalu menarikku,

aku ingin mendekat, aku ingin menyentuh, tapi lebih dari itu,

izinkanlah aku memasukimu,

izinkanlah aku bersama pemilikmu,

sampaikan padanya … diri ini ingin bertemu,

dalam pertemuan dalam keadaan dimaafkan dan diridloi,

tak ada kerinduan … hny rumahmu msih sj terbayang,

tak ada keharuan … hny ingin menengok rumahmu wlau sbntar,

ktika berkeluh akan kesuruhan yg ada disekitar rumah,

diberi nasehat, fokuslah pada rumah tsb, pada pemilik rumah,

Hendak menulis …

Belum ketemu sistematisnya ….

Memang sulit untuk menuliskan jiwa ke dalam huruf dan kata,

Butuh belajar dan latihan untuk memperolehnya ….

Setiap kata bisa saja terucap, tetapi hanya sedikit yang bermakna …

Kalau bisa ….

Kalimat pengharapan yang entah terwujud atau tidak …

Bagaimana juga tetap ada makna dibaliknya …