Seputar Khilafah (Kekhalifahan)
1. Khilafah (kekhalifahan) Islam cuma ada satu di dunia, tidak ada Khilafah islam Indonesia, Khilafah islam Malaysia, Khilafah islam Singapura. Khilafah islamiyah adalah untuk dunia, bukan satu Negara.
2. Rasul saw berhasil dalam pengaturan dakwah dari Madinah, namun Rasul saw tak menamakan : NEGARA MADINAH, atau NEGARA MEKKAH, atau nama suatu negara, karena islam bukan untuk suatu negara, tapi untuk dunia.
3. Khalifah tidak pernah muncul dg kekerasan dan perebutan kekuasaan, Rasul saw adalah penguasa tertinggi islam yg berpusatkan di Madinah, namun Rasul saw tetap membiarkan Abdullah bin Ubay bin Salul dari Bani Khazraj sebagai penguasa madinah, padahal ia adalah gembong munafik yg dilaknat Allah swt. Demikian pula di Mekkah Rasul saw tetap mengakui kepemimpinan Abu sufyan sebagai Amir Makkah walau saat itu masih kafir mereka dibiarkan memimpin namun hanya simbolnya saja..
4. Rasul saw tidak merebut kekuasaan, mencaplok wilayah orang lain, lalu bertahta sebagai pimpinan negara, tapi beliau adalah pemimpin seluruh manusia, namun beliau saw mengajarkan bahwa islam tidak memperebutkan kekuasaan.
5. Ketika seorang anshar berkata pada Rasul saw : Beri kami kekuasaan/jabatan wahai Rasulullah.., maka Rasul saw menjawab : Kami tidak memberikan kekuasaan/jabatan pada orang yg memintanya. (Shahih Bukhari).
6. Rasul saw tidak pernah mengajarkan untuk merebut kekuasaan, walau pada pemipin yg dhalim, selama ia muslim.
7. Rasul saw bersabda : Taatlah pada pemimpin muslim kepada hal yg kalian sukai dan kalian tidak sukai, namun jika diperintah untuk berbuat dosa maka jangan ditaati perintah itu (Shahih Bukhari).
Lanjutkan membaca “seputar Khilafah”
Kategori: Uncategorized
Fatwa dalam islam
Kalian tidak dapat memanipulasi ayat-ayat al-Qur’an Suci atau Hadits. Jangan menggunakan pikiran gila kalian untuk memaksakan Qur’an sesuai dengan pemahaman kalian. Qur’an lebih tinggi, ia adalah Kalamullah dan ia dapat membawa banyak makna, kalian harus menjadi seorang mufti (mempunyai pendidikan yang tinggi) untuk dapat menafsirkannya. Imam Malik mendirikan sebuah mazhab pemikiran (Maliki). Sepanjang hidupnya beliau menghindari untuk mengeluarkan fatwa. Beliau tidak pernah berusaha memberikan sebuah fatwa. Beliau mempunyai pengikut yang besar di seluruh dunia, Mazhab Imam Malik.
Shaykh Hisham Kabbani
Qohwah (Kopi) Minuman para Sufi
Namun taukah Anda bahwa kopi adalah minuman para sufi? Dan taukah Anda bahwa para Ulama yang berkomentar tentang kopi?
Di antara ulama yang saya temukan komentarnya dalam kajian saya seperti yang dikutip oleh Al Allamah Abdul Qodir Bin Muhammad Al Jaziry Dalam kitabnya Umdatus Shofwah fi Hukmil Qohwah, banyak ulama yang berfatwa mengenai hukum kebolehan meminum kopi seperti Syidi Syeh Zakariya Al anshori, Syidi Syeh Abdurrohman Bin Ziyad , Syidi Syeh Zarruq Al Maliki Al Maghribi, Syidi Syeh Abu Bakr bin Salim Attarimi, dan Syidi Syeh Abdulloh Al Haddad.
Nama-nama yang telah disebut di atas merupakan tokoh tokoh besar sufi. Tidak hanya berfatwa bahkan banyak juga ulama yang telah mengarang kitab yang isinya membahas Khusus mengenai hukum kopi dan faidah Meminum kopi, diantaranya Sayyid Al Allamah Abdurrohman bin Muhammad Al Aidrus dalam Risalah Inusi as-Shofwah bi Anfusi al-Qohwah, juga Al Imam Al Faqih Syeh Bamakhromah mengarang syair tentang kopi yang Syairnya di komentari oleh banyak ulama.
Lalu dari Indonesia juga ada Al-Allamah Syeh Ikhsan Jampes Kediri dalam kitabnya Irsyadul Ikhwan fi Syurbil Qohwah wa Addukhon, juga Syeh abdul Qodir Bin Syekh dalam kitab Shofwatu As Shofwah fi Bayan hukmil Qohwah. Juga dijelaskan dalam kitab Tarikh Ibnu Toyyib mengenai keutamaan Kopi. dan banyak lagi ulama yang menjelaskan tentang kopi.
Pasti kita penasaran kenapa para ulama bahkan para sufi mengistimewakan kopi? Coba kita lihat komentar Al Imam Ibnu Hajar Al Haitami ;
ثم اعلم ايها القلب المكروب أن هذه القهوه قد جعلها اهل الصفاء مجلبة للأسرار مذهبة للأكدار وقد اختلف في حلها اولا وحاصل ما رجحه ابن حجر في شرح العباب بعد ان ذكر أنها حدثت في اول قرن العاشر . ان للوسائل حكم المقاصد ،فمهما طبخت للخير كانت منه وبالعكس فافهم الأصل
“Lalu ketahuilah duhai hati yang gelisah bahwa kopi ini telah dijadikan oleh Ahli shofwah (orang orang yang bersih hatinya) sebagai pengundang akan datangnya cahaya dan rahasia Tuhan, penghapus kesusahan. Para ulama berbeda pendapat akan kehalalannya, namun alhasil yang diunggulkan oleh Ibnu Hajar dalam kitab Syarhul Ubab setelah penjelasan bahwa asal usul kopi di awal abad kesepuluh hijriyah memandang dari Qoidah ‘bagi perantara menjadi hukum tujuannya’ maka selama kopi ini dimasak untuk kebaikan maka mendapat kebaikannya begitu juga sebaliknya, maka fahami asalnya.”
Begitu juga hasil penelitian saya juga selama di Yaman Khususnya yang saya lihat sendiri di daerah Mukalla, Tarim, Sihr dan Seiyun ketika saya menghadiri Majlis-Majlis Ilmu, ba’da tarawih ataupun Majlis Sholawat dan Hadroh saya mendapati semuanya menghidangkan kopi sambil membaca Qosidah. Memang jelas sekali bahwa Ulama Sufi ketika menikmati kopi tiada lain adalah agar supaya bisa menolak rasa ngantuk jika akan beribadah dan menjadikan tubuh bersemangat untuk berdzikir kepada Allah SWT.
Dalam Diwan Syekh Bamakhromah beliau berkata ; “Dalam gelas kerinduan itu membuat orang yang meminumnya berada dalam tingkatan para perindu dan memakaikannya pakaian ahli pecinta dalam kedekatan kepada Allah. Bahkan jika seandainya diminum oleh seorang Yahudi maka niscaya hatinya akan mendapatkan tarikan hidayah dan inayah Tuhan.”
Dan Al Habib Abdurrohman Shofi Assegaf mengatakan; “…bahwa kopi yang disiapkan oleh para Sufi ini Esensinya untuk menarik Hati kepada Allah SWT maka pahamilah isyarah dan bedakan antara setiap argumentasi” . Imam Ahmad Assubki juga berkata ;
قال احمد بن علي السبكى ; واما منافعها يعني القهوه تقريبا … فالنشاط للعبادة والأشغال المهمة وهضم الطعام وتحليل الرياح والقولنج والبلغم كثيرا
“Kopi manfaatnya yaitu kira-kira untuk membuat semangat ibadah dan pekerjaan penting juga menghancurkan makanan, agar tidak masuk angin dan menghilangkan dahak yang banyak.”
Ada juga yang menganggap kopi (qohwah) mirip dengan nama khomer, maka ulama memberikan jawaban dalam kitab inasus Shofwah sebagai berikut ; “Penamaan qohwah bagi sebagian orang dianggap menyerupai nama khomer, tentu tuduhan ini tidak mendasar karena tidak harus kesamaan nama juga menunjukkan sama maknanya, bahkan para sholihin dan shadat membuktikan bahwa kopi digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.”
Dalam Tarikh Ibnu Toyyib dikatakan:
يا قهوة تذهب هم الفتى # انت لحاوى العلم نعم المراد
شراب اهل الله فيه الشفا # لطالب الحكمة بين العباد
حرمها الله على جاهل # يقول بحرمتها بالعناد
“Kopi adalah penghilang kesusahan pemuda, senikmat-nikmatnya keinginan bagi engkau yang sedang mencari ilmu. Kopi adalah minuman orang yang dekat pada Allah didalamnya ada kesembuhan bagi pencari hikmah diantara manusia. Kopi diharamkan bagi orang bodoh dan mengatakan keharamannyadengan keras kepala.”
Kesimpulannya, kopi merupakan minuman para sufi yang digunakan untuk taqarrub, mendektkan diri kepada Allah SWTyang mana memiliki banyak faidah baik secara rohani ataupun medis.
Tarim, 21 Dzulqo’dah 1436 H
oleh : Moh Nasirul Haq, Mahasiswa Imam Shafie College Mukalla Yaman
sumber : http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,50-id,62048-lang,id-c,esai-t,Qohwah++Kopi++Minuman+para+Sufi-.phpx
orang yang memiliki IQ rendah cenderung untuk bersikap rasis dan berprasangka buruk
“Orang dengan intelejensi rendah cenderung bersikap reaktif terhadap sesuatu dinilai berbeda dengan pandangan konservatif yang dianutnya,” tulis Hodson dalam email yang dikirimkan kepada laman khusus ilmu pengetahuan, livescience.com, Jumat (27/1/12).
Akan tetapi, Hodson mengakui bahwa sikap prasangka buruk itu sangat kompleks, sehingga munculnya sikap itu juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya. Sementara itu, studi sebelumnya juga menunjukkan hal serupa bahwa sikap prasangka buruk seseorang terkait dengan tingkat pendidikannya.
Hal ini yang membuat Hodson menyebutkan bahwa hasil penelitiannya ini berkorelasi dengan temuan sebelumnya. Akan tetapi, peneliti lainnya Brian Nosek dari University of
Virginia mengkritik hasil penelitian Hodson. Dia menilai, Hodson hanya memfokuskan pada faktor sosial-kognitif. Padahal, ada sejumlah variable lainnya yang menyebabkan seseorang bersikap rasis dan mudah berburuk sangka. (A-133/A-88)**
sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/horison/2012/01/28/174648/iq-rendah-cenderung-bersikap-rasis-dan-berprasangka-buruk
beda margarin dan mentega
Mentega terbuat dari lemak susu. contoh mentega yang beredar di pasaran adalah orchid, archor, dan wijsman (Caramasaku 2013). WrpDiet.com juga mengatakan hal yang sama yaitu mentega dibuat dari krim susu yang didapatkan dari hasil pemisahan susu sapi. Krim susu ini kemudian diaduk terus menerus sehingga menghasilkan mentega yang padat. Karena berasal dari lemak susu sapi, mentega tergolong sebagai sumber lemak hewani dan tinggi kadar lemak jenuhnya. Eatingwell.com menyebutkan bahwa mentega tawar hanya mengandung 102 kalori, 12 g lemak total dan 7 g lemak jenuh.
Dari angka tersebut menunjukkan bahwa mentaga baik untuk dikonsumsi. Karena kandungan kalori lemak total dan lemak jenuhnya lebih rendah dari minyak kelapa. Sayangnya sebuah penelitian menunjukkan bahwa asam lemak yang terkandung dalam mentega adalah asam palmitat yang diketahui dapat menyebabkan penumpukkan lemak pada pembuluh darah arteri.
Margarin margarin itu terbuat dari lemak nabati yang di beri aroma dan bahan emulsi . Contoh margarine adalah blue band, provita,dll (Caramasaku 2013). Margarin berasal dari minyak nabati yang dipadatkan sehingga margarin tergolong sebagai sumber lemak nabati dan tinggi kadar lemak tidak jenuhnya( wrpDiet.com) Margarin mengandung banyak lemak trans. Dalam suhu ruang lemak nabati berbentuk cair dan mempunyai ikatan kimiawicis yang membuatnya mudah tengik. Untuk menciptakan produk yang lebih awet minyak nabati tersebut dihidrogenasi. Sehingga ikatan kimiawi yang semula cis diubah menjadi trans. Hidrogenasi mengubah asam lemak tak jenuh menjadi asam lemak jenuh dan asam lemak trans yang sulit dicerna oleh lever. Akibat tak bisa mencerna maka lever membuangnya ke dalam darah, sehingga kadar kolesterol dalam darah naik. Kolesterol yang tinggi lama-lama akan menempel pada dinding pembuluh darah bagian dalam sehingga mempersempit aliran darah. (Kompasiana 2012)
Mentega vs Margarin
Perbedaan mentega dan margarin terletak pada bahan bakunya. Mentega dibuat dari lemak hewan dan memiliki kandungan kolesterol diet maupun lemak jenuh yang tinggi. Sedangkan margarin biasanya terbuat dari lemak nabati dan kandungan lemak jenuhnya lebih sedikit daripada mentega. Mentega dan margarin mengandung jumlah kalori yang kurang lebih sama (sekitar 600 kalori per satu sendok makan). Namun, mentega mengandung lemak jenuh dan kolesterol. Kedua elemen tersebut dapat menempatkan Anda pada risiko penyakit jantung. Berbeda dengan margarin yang dibuat dari minyak nabati sehingga kandungan lemak jenuhnya lebih rendah dan (kebanyakan) tidak mengandung kolesterol. (Dunia Fitnes 2014)
Sebenarnya lemak trans tidak hanya terdapat pada margarin ada banyak sumber lemak trans di sekitar kita seperti makanan yang digoreng, non-dairy krimer, dan shortening. Meski diklaim memiliki asam lemak tak jenuh tinggi, minyak goreng (minyak kelapa sawit) saat dipanaskan akan berubah menjadi sumber lemak trans. Jadi bila tak bisa meninggalkan gorengan sebaiknya tidak menyantapnya terlalu sering. (Kompasiana 2012)
Minyak terburuk untuk minyak goreng adalah yang berasal dari Margarine yang dibuat dari bahan baku Kelapa Sawit. Mengapa demikian? Margarine [Blue Band atau sejenisnya] ternyata memang dibuat dengan cara membuat minyak kelapa sawit menjadi jenuh dahulu [agar menjadi padat]. Caranya adalah dengan memanaskan minyak tadi hingga mencapai temperatur tinggi dan minyak berubah dari sifat cairnya menjadi padat (Kompasiana 2012). WrpDiet.com menambahkan akibat proses pembuatannya, margarin dapat mengandung lemak trans yang berbahaya karena dapat menaikkan kadar kolesterol jahat (kolesterol LDL) dan menurunkan kadar kolesterol baik (kolesterol HDL) dalam darah.
Catherine Saxelby seorang ahli gizi di Foodwatch Nutrition Centre, Australia, mengatakan bahwa rasa olesan dan bentuknya mempengaruhi seseorang untuk memilihnya. “ Banyak orang lebih memilih mentega daripada margarin karena aroma mentega lebih menggoda. Pengguna mentega pun rela mengonsumsinya banyak-banyak karena rasanya yang sedap di lidah,” tambah Saxelby.
“Demi kesehatan, sebaiknya Anda mulai membatasi konsumsi mentega dan gunakanlah bahan olesan yang lebih sehat,” tukasnya. (Dunia Fitnes 2014).
diambil dari : https://rebekapatricia.wordpress.com/2014/08/19/minyak-sawit-minyak-kelapa-mentega-margarin-mana-yang-lebih-aman-dan-sehat/
pemikiran Penghambat kaya
Menurut Forbes, kekayaan milik 400 orang terkaya di Amerika Serikat masih lebih besar dibandingkan kumpulan aset milik 150 juta masyarakat miskin di sana. Lalu, apakah masyarakat kelas menengah masih ada bagiannya sendiri?
Menurut data yang terkumpul dalam dua dekade terakhir, golongan menengah cenderung menghilang. Entah naik kelas, entah turun kelas. Jadi pilihannya adalah orang kaya atau orang miskin. Kamu memilih yang mana? Untuk naik kelas cobalah lihat perbandingan pemikiran orang kaya dengan orang kelas menengah berikut ini.
1# Tidak ingin keluar dari zona nyaman
Banyak yang mengira kebahagiaan bisa didapat saat kita bisa berada di zona nyaman. Namun, orang-orang kaya cukup memahami bahwa hal yang lebih luar biasa akan terjadi saat kita mampu mendobrak kenyamanan. Peluang bisnis selalu penuh dengan risiko, tetapi itulah yang akan membuat kamu mampu mencapai hasil lebih baik dan mendulang kekayaan.
2# Cenderung boros dan tidak bisa berhemat
Orang kaya tahu caranya mengumpulkan aset dan tetap hidup sederhana. Sebuah studi yang sudah dipublikasikan dalam buku “The Millionaire Next Door”, orang kaya cenderung lebih cerdas mengelola pendapatan mereka. Barang-barang yang nilainya menyusut bukanlah incaran mereka. Ingatlah jika kamu menghabiskan gajimu untuk mengumpulkan barang-barang seperti itu, kamu tetaplah bukan orang kaya.
Orang kelas menengah lebih suka mendapatkan jabatan tinggi di kantor tempatnya bekerja. Mereka senang berjuang mendapatkan jenjang karier tertinggi di perusahaan yang tak lain menjadi milik orang kaya. Daripada meniti karier, orang kaya lebih suka berjuang menciptakan usaha sendiri sehingga bisa mendapatkan pendapatan pasif kelak.
4# Tidak pilih-pilih teman bila menyangkut kesuksesan
Bukannya sombong. Orang kaya cenderung berpikir untuk bisa berteman dengan orang-orang sukses. Mereka bisa menjadi motivator untuk meraih kesuksesan. Di saat kamu bergaul dengan orang yang sudah nyaman dengan kondisi mereka, kamu pun akan merasakan hal serupa.
5# Bekerja hanya untuk hasilkan uang
Itulah yang membuat orang kelas menengah lebih cepat tergiur pindah pekerjaan. Tawaran gaji yang lebih tinggi akan lebih menarik. Untuk orang kaya, pengalaman lebih berharga dari hal lainnya. Mereka mendapatkan pelajaran berharga untuk bisnis yang akan mereka kembangkan kelak.
6# Senang koleksi barang
Masyarakat kelas menengah cenderung menghabiskan uang demi sebuah mobil atau rumah mewah. Sementara orang kaya cenderung berpikiran untuk bisa memutar uang miliknya agar bisa semakin berlipat ganda. Jika kamu hanya ingin membeli barang-barang, kekayaanmu tidak pernah terkumpul. Sebaiknya kamu mulai belanja di tempat lain seperti belanja saham, reksadana, atau logam mulia. Itulah bentuk investasi yang lebih tempat. Warren Buffett sudah puas tinggal di rumah seharga 31.500 dollar AS yang dibeli pada tahun 1958.
7# Sekadar menabung
Menabung itu penting, sama pentingnya ketika kamu berinvestasi. Produktivitas justru bisa menjadi dasar untuk kedua hal tersebut. Orang kaya mengerti cara yang harus ditempuh untuk bisa menjadikan tabungan milik mereka terus bertambah.
8# Cenderung emosional bila bicara tentang uang
Pengarang buku “How Rich People Think”, Steve Siebold mewawancara lebih dari 1200 orang kaya di dunia dalam 30 tahun terakhir. Dari temuannya, Siebold mendapati setidaknya ada lebih dari 100 perbedaan pemikiran orang kaya dengan orang kelas menengah mengenai uang. Salah satu perbedaan yang paling mendasar adalah kelas menengah melihat uang secara emosional, sementara orang kaya melihat uang dengan lebih logis. Keputusan emosional inilah yang kerap membuat kelas menengah sulit naik kelas.
9# Kurang kurang percaya diri tanpa punya mimpi
Orang kelas menengah seringkali meremehkan kemampuan diri mereka. Itulah yang membuat mereka enggan memiliki mimpi besar di dalam hidupnya. Padahal, orang kaya justru memiliki mimpi-mimpi yang sepertinya mustahil. Namun, mereka tahu mereka bisa mewujudkannya. Kuncinya, kamu harus memiliki pemikiran yang tepat.
10# Percaya kerja keras dibanding menanam pengaruh
Kerja keras sangatlah penting dimiliki semua orang. Itulah yang harus ada pada setiap hal yang kamu lakukan. Masalahnya, kerja keras tidak akan cukup untuk membuat kamu lebih kaya. Kamu harus bisa melebarkan pengaruh yang kamu punya mulai dari jaringan kolega sampai dengan investasi yang besar. Semakin besar dampak yang bisa kamu berikan untuk orang lain semakin banyak juga waktu yang kamu miliki untuk bisa melakukan hal-hal yang paling penting untuk bisnis dan kehidupanmu.
(copas dari : https://www.cekaja.com/info/kamu-adalah-kelas-menengah-yang-susah-kaya-jika-punya-10-pemikiran-ini/)
meninggalkan sosmed menjadi lebih bahagia
Para peneliti dari The Happiness Institute menguji seberapa besar pengaruh media sosial terhadap kebahagiaan secara umum. Ada 1.095 total pengguna jejaring sosial Facebook yang ditanyai mengenai tingkat kepuasan hidup mereka dengan skala 1 sampai 10 berdasarkan faktor yang berbeda, seperti seberapa bahagiakah mereka, seberapa sering mereka menikmati hidup mereka, apakah mereka merasa khawatir atau sedih, dan apakah mereka bersemangat.
91 persen mengaku membuka Facebook paling tidak sekali dalam sehari. Setelah dilakukan evaluasi, setengah dari grup diminta untuk menghindari Facebook selama seminggu, sementara setengah lainnya dibolehkan menjalani kehidupannya secara normal.
Seminggu kemudian, kepuasan hidup para partisipan kembali diukur. Hasilnya mengungkapkan bahwa mereka yang tetap menggunakan Facebook mengalami sedikit peningkatan kebahagiaan dalam kepuasan hidup mereka, dengan rata-rata kenaikan rating kepuasan hidup mereka dari 7.67 ke 7.75. Namun, grup ini juga 55 persen kemungkinan merasa stres. Grup lainnya yang tidak menggunakan media sosial, mengalami peningkatan kebahagiaan yang signifikan, rating kebahagiaan mereka melonjak dari 7.56 ke 8.12.
Partisipan yang meninggalkan Facebook juga mengalami peningkatan dalam aktivitas dan kepuasan pada kehidupan sosial mereka. Ketika mereka kembali ditanyakan tentang mood mereka pada beberapa hari terakhir eksperimen, mereka melaporkan merasa lebih bahagia dan jarang sedih, dibandingkan dengan mereka yang tetap membuka Facebook. Namun secara keseluruhan, grup yang meninggalkan Facebook mempunyai 18 persen hidup untuk masa kini saja.
Meik Wiking, CEO dari Happiness Research Institute mengatakan, bahwa Facebook tidak sepenuhnya buruk, namun lebih kepada kemungkinan mempengaruhi cara individu melihat hidup mereka. “Facebook mendistorsi persepsi kita tentang kenyataan dan tentang apa yang terlihat pada hidup orang lain,” ujar Wiking. “Kita menilai hidup kita berdasarkan perbandingan dengan orang lain, dan karena orang hanya mengunggah hal yang positif saja di Facebook, membuat persepsi kita tentang kenyataan menjadi bias.”
Facebook menjelma menjadi sebuah “saluran berita hebat tanpa henti” dan menempatkan para pengguna pada resiko untuk melihat secara negatif tentang hidup mereka sendiri. “Hal itu tidak seharusnya dijadikan sebuah acuan untuk mengevaluasi hidup kita sendiri,” tambah Wiking. Menurut para peneliti, ini dikarenakan manusia mempunyai kecenderungan bawaan untuk lebih fokus pada kehidupan orang namun dankehilangan fokus tentang apa yang mereka butuhkan.
Sebagai contoh, studi ini menemukan banyak dari sukarelawan merespon negatif terhadap postingan Facebook orang lain ketika mereka memasukkan tagar #AMAZING, #HAPPY, atau #SUCCESS.
Sebuah studi baru lainnya menemukan kebahagiaan pada orang dewasa usia 30-an keatas mengalami penurunan, dan studi tersebut menyatakan bahwa media sosial sebagai “pelaku utama” penyebab tren penurunan tersebut. Sementara kalangan dewasa muda berkembang bersama teknologi, yang menyebabkan perilaku mencari perhatian, orang dewasa yang lebih tua jelas-jelas tidak mengalami akibat yang sama. (Melodia)
Handphone
Katanya engkau dibuat untuk
menyambung sulaturrahim,
Orang bilang connecting people, tapi
tersambunglah yang jauh dan
hancurlah yang dekat..
Bertamu .. main hape. Ngaji juga main hp .
Terima tamu .. main hape.
Bekerja .. main hape.
Belajar .. main hape.
Sambil makan .. main hape.
Di tengah keluarga main hape.
Nemenin suami main hape.
Kiamatkah duniamu tanpa hape.
Kadang terlihat dua orang saling
duduk berhadapan, tidak berbicara
sama skali, krn salah satu atau
keduanya sibuk main hape Kalaupun
hrs bicara akhirnya tidak nyambung
dan muncul sikap tidak lg peduli.
Punya masalahpun bkn lg
mendatangi keluarga yg dekat, tp
membahas di sosmed rasanya lbh
‘afdhal’.
Manusia menjadi ‘ada tapi tiada’.
Sahabat…..
jasad jasad yang telah menjadi
zombie berkeliaran.
Hidupnya hanya seputar dunia dalam ponselnya.
Basahnya embun pagi
hangatnya
matahari pagi
jabat erat tangan
sahabat telah hilang dan diganti dg
gambar gambar mati pd ponsel
Gerak petualangan akan hebatnya
bumi jg sdh diganti hanya dg gerakan telunjuk dan jempol
Wajah wajah mulai pucat tubuh
mulai ringkih dan pahala pahala
berterbangan sia sia sbg resiko
terburuk yg mungkin dimiliki, sedang
engkau tak kemana mana dan belum
melakukan apapun selain
menggerakkan jempol dan jarimu pd
layar kecil yang penuh sihir ini.
Hidup dalam kematian itu adl
keniscayaan, tapi mati dalam
kehidupan itu pilihan….
Maka bangunlah hiduplah
sebagaimana manusia itu hidup
Saat suami/istri datang, simpan hapemu!
Saat anak bercerita, simpan hapemu!
Saat ibu ayah bicara, simpan
hapemu!
Saat tamu berkunjung, simpan hapemu!
Saat rumah bau berantakan, simpan
hapemu!
Saat matahari merekah, udara sejuk
angin semilir burung bersiul, anak
tertawa riang, orang berbicara, simpan
hapemu!
Perhatikan duniamu dg seksama.
Sebab nikmat Ilahi ada di sana.
Surgamu
ada hanya jika kau
perhatikan sekelilingmu dan ikut
andil dalam perbaikan pada dunia
nyatamu.
Hiduplah!
Engkau belum mati, tapi sudah
bertingkah seperti mayat.
TETAP TETSENYUMLAH
sumber : https://www.facebook.com/groups/ThoriqahSarkubiyah/permalink/1176818752345597/
beratnya sebutan ustadz
Guru dalam khazanah Arab, memiliki banyak istilah yang berbeda-beda, yaitu: Mudarris, Mu’allim, Muaddib, Musyrif, Murabbi Mursyid, dan termasuk Ustadz. Masing-masing istilah memiliki makna tersendiri.
[1]. Mudarris artinya guru, tetapi lebih spesifik: Orang yg menyampaikan dirasah atau pelajaran. Siapa saja yg menyampaikan pelajaran di hadapan murid-murid, dia adalah Mudarris.
[2]. Mu’allim artinya guru juga, tetapi lebih spesifik: Orang yg berusaha menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya mereka belum tahu. Tugas Mu’allim itu melakukan transformasi pengetahuan, sehingga muridnya menjadi tahu.
[3]. Muaddib atau Musyrif, artinya juga guru, tetapi lebih spesifik: Orang yg mengajarkan adab (etika dan moral), sehingga murid-muridnya menjadi lebih beradab atau mulia (syarif). Penekanannya lebih pada pendidikan akhlak, atau pendidikan karakter mulia.
[4]. Murabbi artinya sama, yaitu guru, tetapi lebih spesifik: Orang yg mendidik manusia sedemikian rupa, dengan ilmu dan akhlak, agar menjadi lebih berilmu, lebih berakhlak, dan lebih berdaya. Orientasinya memperbaiki kualitas kepribadian murid-muridnya, melalui proses belajar-mengajar secara intens. Murabbi itu bisa diumpamakan seperti petani yg menanam benih, memelihara tanaman baik-baik, sampai memetik hasilnya.
[5]. Mursyid artinya juga guru, tetapi skalanya lebih luas dari Murabbi. Kalau Murabbi cenderung privasi, terbatas jumlah muridnya, maka Musyrid lebih luas dari itu. Mursyid dalam terminologi shufi bisa memiliki sangat banyak murid-murid.
[6]. Baru kita masuk pengertian Ustadz. Secara dasar, ustadz memang artinya guru. Tetapi guru yg istimewa. Ia adalah seorang Mudarris, karena mengajarkan pelajaran. Ia seorang Mu’addib, karena juga mendidik manusia agar lebih beradab (berakhlak). Dia seorang Mu’allim, karena bertanggungjawab melalukan transformasi ilmiah (menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya tidak tahu). Dan dia sekaligus seorang Murabbi, yaitu pendidik yg komplit. Jadi, seorang ustadz itu memiliki kapasitas ilmu, akhlak, terlibat dalam proses pembinaan, serta keteladanan.
Dalam istilah Arab modern, kalau Anda menemukan ada istilah “Al Ustadz Ad Duktur” di depan nama seseorang, itu sama dengan “Profesor Doktor”. Jadi Al Ustadz itu sebenarnya padanan untuk Profesor. Kalau tidak percaya, coba tanyakan kepada para ahli-ahli Islam yg pernah kuliah di Timur Tengah, apa pengertian “Al Ustadz Ad Duktur”?
Sejujurnya, istilah Ustadz itu dalam tataran ilmu, berada satu tingkat di bawah istilah Ulama atau Syaikh. Kalau seseorang disebut Ustadz, dia itu sebenarnya ulama atau mendekati derajat ulama.
Ke depan, jangan mudah-mudah menyebut atau memberi gelar ustadz, kalau memang yang bersangkutan tidak pada proporsinya untuk menerima hal itu. Sebagai alternatif, orang-orang yang terlibat dalam dakwah Islam bisa disebut sebagai: Dai (pendakwah), muballigh (penyampai risalah), khatib (orator), ‘alim (orang berilmu), dan yg semisal itu.
sumber : http://ummatipress.com/mengenal-ustadz-asli-dan-ustadz-palsu.html
Selain kami adalah Syi’ah ! Fitnah baru yang dihembuskan
Akhir-akhir ini membaca status Fb yang “kelihatannya menyebarkan dakwah Islam” ehhh banyak membahas syiah ini dan itu. apa salah pilih group/accunt ya?
moga artikel dibawah ini dapat menjernikan kita para Aswaja (Ahlussunnah Wal Jam’ah) dalam memahaminya …
UmmatiPress, Fitnah Wahabi – Dulu kaum wahabi sangat hobi bilang bid’ah dan syirik. Mereka dalam pembicaraannya, baik dalam khotbah-khotbah Jum’at atau di forum-forum resmi atau dalam percakapan keseharian mereka ujung-ujungnya selalu menuduh umat Islam selain golongannya sebagai ahlul bid’ah, sesat dan musyrik.
Tahlilan, Yasinan, do’a selamatan divonis bid’ah sesat dan masuk neraka. Ziarah kubur, tawassul, istighotsah dan tabarruk divonis sebagai amalan syirik, sehingga kaum muslimin selain golongannya yang melakukan ziarah kubur disebut kuburiyun, dan yang bertawassul, bertabarruk, dan beristighotsah disebutnya musyrikun.
Kemudian ustadz-ustadz Aswaja (yang merasa dituduh atau difitnah) tampil memberikan klarifikasi atas tuduhan-tuduhan keliru mereka, dengan cara mengajak dialog terbuka atau mudzakaroh terbuka. Di sinilah para ustadz Aswaja dengan elegan mengemukakan dalil-dalil shahih untuk membantah vonis-vonis keliru sehingga berefek fitnah.
Para ustadz Aswaja tampil unggul dalam hujjah sehingga para ustadz Wahabi selalu tergagap-gagap dalam menanggapi dalil-dalil yang dikemukakan Aswaja. Sederet nama ustadz Aswaja itu antara lain, Ustadz Muhammad Idrus Ramli, Buya Yahya, Tengku Zulkarnaen dan masih banyak lagi yang tidak terkenal.
Semenjak selalu kalahnya mereka dalam beradu hujjah, akhirnya mereka bisa dikatakan tidak berani lagi berdialog tentang persoalan isu-isu Bid’ah dan Syirik. Bisa dikatakan Wahabi itu sudah kalah dalil, tetapi kelihatannya mereka tidak mau sadar atas kekeliruannya. Dan sekarang rupanya mereka justru menjadi rajin mencari kambing hitam.Lalu siapa kambing hitamnya? Tidak lain adalah SYI’AH!
Misalnya kasus di Mesir, kini di sana jika ada seseorang yang tidak mendukung Presiden Mursi maka disebutnya sebagai Syiah. Jadi berapa juta kaum Syiah di Mesir, apakah 22 juta sejumlah rakyat yang turun di jalan-jalan di seluruh Mesir menuntut lengsernya presiden Mursi? Padahal Mayoritas rakyat Mesir adalah Aswaja, Syiah hanya kaum super minoritas sebagaimana halnya di Indonesia di mana kaum Syi’ah adalah kaum yang super minoritas tetapi dibesar-besarkan oleh kaum Wahabi.
Kasus di Suriah, Jika ada orang-orang yang tidak mendukung FSA di Suriah maka disebutnya Syiah yang darahnya halal. Padahal rakyat Suriah mayoritas adalah Aswaja. Sebagai buktinya kalau rakyat Suriah adalah Aswaja bisa di lihat siapa yang menjabat mufti agung Suriah. Mereka bertuturut-turut adalah ulama-ulama Aswaja (Sunni), seperti Syaikh Ramadhan Al Buti, Syaikh Ahmad Hassun sebagai pengganti Al Buti yang gugur syahid dibom bunuh diri dalam masjid al Iman Damaskus saat mememberikan pelajaran agama?
Jika anda memberitakan berita yang sebenarnya terjadi di Suriah, dimana beritanya merugikan FSA (teroris moderat menurut Barat), ISIS, Jaish al-Islam, Jabhat al-Nusra, Ahrar al-Sham dan kelompok teroris lainnya yang ada di suriah, maka sang penyampai berita pasti akan dituduh sebagai Syiah. Kita tahu siapa di balik kelompok-kelompok teror yang telah membuat warga suriah dibantai sehingga mereka terpaksa jadi pengungsi meninggalkan rumah-rumah mereka, di balik teror itu adalah kaum Wahabi. Intinya, jika kita tidak mendukung Wahabi Salafi maka langsung dituduh sebagai Syiah. Seakan ini sudah menjadi rumus pasti akhir-akhir ini.
Padahal selain Wahabi dan Syiah masih ada satu lagi yaitu Aswaja yang menjadi ummat mayoritas dalam Islam. Di antara ketiga golongan ini tentunya punya kemiripan dalam ajarannya antara satu dan lainnya, karena ajarannya sama-sama bersumber dari satu sumber, yaitu Islam. Ajaran Aswaja (Sunni) ada miripnya dengan Wahabi dan Syiah dan sebaliknya.
Tetapi kenapa Wahabi membuat isu seakan-akan di dunia ini cuma ada Wahabi dan Syiah? Kenapa di hadapan kaum Syiah, Wahabi selalu memakai nama Sunni? Wahabi sedang ber-taqiyah sebagai Sunni? Bukankah Sikap Wahabi bertopeng Sunni ini fitnah besar bagi Sunni? (Alif Lamron) (sumber : http://ummatipress.com/ini-fitnah-baru-wahabi-terhadap-umat-islam.html)
Wahabi juga biasa bersembunyi dalam nama Salaf/Salafi agar kelihatan mirip atau dekat dengan istilah “ulama salaf” padahal ulama besar mereka, Ibnu Taimiyah saja lahir: tahun 1263 M/661 H – wafat: 1328 M/ 728 H atau ahli Hadist mereka, Hassan al-Banna lahir: 1906 M – wafat : 1949 M, mereka termasuk baru, berbeda dengan Aswaja Yang rantai keilmuan (sanad) kepada para Imam Madzhab dan para Ahli Hadist, yang pemahamannya turun temurun secara mutawatir sampai pada kita, sehingga Aswaja menjadi golongan terbesar muslimin di seluruh dunia.
Wahabi juga biasa bersembunyi dalam nama ahlussunnah untuk mengaburkan pengikut Aswaja “ahlussunnah wal jama’ah”, dengan menghilangkan kalimat wal jama’ah dan dengan slogan kembali ke Al Qur’an dan hadist, Kita ahlussunnah Wal Jamaah (aswaja) mengikuti Al Qur’an dan hadist melalui para guru kita. sesuai yang beliau proleh dari gurunya, gurunya ke gurunya bersambung kepada Rosululloh. Sehingga kemurnian ajaran dan pemahaman tetap terjaga dari Rosululloh ke kita, apa lagi ditashhih oleh banyak ulama sebagai golongan yang terbesar.