Seorang guru adalah pelayan Allah dan para HambaNya

Habib Kadzim bin Ja’far AsSeqqaf, ‘Alim Lahir Bathin
Tawadhu dan ikhlas adalah sifat terpuji dalam pandangan Allah
Imam Khalid Husein, seorang ulama besar di Inggris saat bertemu Habib Umar Bin Hafidz, beliau bertanya pada Habib Umar, ‘tolong ceritakan pada kami tentang keadaan Habib Kadzim AsSeqqaf’, (Habib Kadzim sering Berdakwah ke Inggris),
Habib Umar berkata; “tahukah Kalian siapa dan bagaimana Hidup Habib Kadzim ? Beliau sudah menjadi pemimpin Ribat (ribat shihir) waktu usia beliau masih 20 tahunan, ada lebih dari 700 murid yang menimba ilmu di ribat tsb, ketika malam tiba dan para murid telah tidur, Habib Kadzim mencuci pakaian para murid, membersihkan kamar mandi dan wc, memasak makanan mereka dan mencuci piring piring mereka, membersihkan seluruh ruangan dan menjadi pembatu bagi murid muridnya, ketika siang tiba, dia akan mengajarkan kepada mereka shoheh sittah, kitab tazkiya, tafsir, uluum al hadits dan segala macam ilmu lainnya, sungguh beliau mendidik mereka secara badaniah dan rohaniah, itulah sebabnya mengapa Allah mengangkat derajat beliau ketempat yang sangat agung!!”

اللَّهُمَّ يا اللهُ يا رافِعُ صَلِّ على عَبْدِكَ و حَبِيبِكَ سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّافِع و على آلِهِ و صَحْبِهِ و سَلِّمْ تَسْلِيماً و ارْفَعْنِي بِهِ إلى مَرَاتِبِ قُرْبِكَ رِفْعَاً
Allāhumma yā Allāhu yā Rāfi`u ṣalli `alā `abdika wa ḥabībika sayyidinā Muḥammad an-Nabī al-Rāfi` wa `alā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallim taslīman w’arfa`nī ilā marātibi qurbika rifa`ā
Ya Allāh, Yang Maha Tinggi, limpahkan sholawat yang berlimpah dan perdamaian pada Hamba Mu yang terkasih, Sayyidina Muḥammad, Nabi yang telah mengangkat orang lain, Keluarga dan Sahabatnya, dan agar beliau sudi mengangkat kami ke tempat tertinggi kedekatan nya dengan Engkau.

Shalawat yang Menghapuskan 100.000 Dosa Besar

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ السَّابِقِ لِلْخَلْقِ نُوْرُهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ ظُهُورُهُ عَدَدَ مَنْ مَضَى مِنْ خَلْقِكَ وَمَنْ بَقِيَ وَمَنْ سَعِدَ مِنْهُمْ وَمَنْ شَقِيَ صَلَاةً تَسْتَغْرِقُ الْعَدَّ وَتُحِيطُ بِالْحَدِّ صَلَاةً لَا غَايَةَ لَهَا وَلَا مُنْتَهَى وَلَا انْقِضاءَ تُنِيلُنَا بِهَا مِنْكَ الرِّضا صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِكَ بَاقِيَةً بِبَقائِكَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّذِي مَلَأْتَ قَلْبَهُ مِنْ جَلَالِكَ وَعَيْنَهُ مِن جَمَالِكَ فَأَصْبَحَ فَرِحاً مٌأَيَّداً مَنْصُوراً وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيماً وَالْحَمْدُ لِلهِ عَلَى ذَلِكَ

Allâhuma shalli `alâ Sayyidinâ Muhammadini ’s-sâbiqi li ’l-khalqihi nûruhu wa rahmatan li ’l-`âlamîna zhuhûruhu `adada man madhâ min khalqika wa man baqîya wa man sa`ida minhum wa man syaqîya shalâtan tastaghriqu ’l-`adda wa tuhīthu bi ’l-haddi shalâtan lâ ghâyata lahâ wa lâ muntahâ wa lâ ’nqidhâ’a wa tunîlana biha minka ‘r-ridhâ shalâtan dâ’imatan bi-dawâmika bâqiyatan bi-baqâika
Allâhumma shalli `alâ Sayyidinâ Muhammadini ’Lladzî malâ’ta qalbahu min jalâlika wa `aynahû min jamâlika fa-ashbaha farihan mu’ayyadan manshûran wa `alâ âlihi wa shahbihi wa sallim taslimân wa ’l-hamdu lillâhi `alâ dzâlik
Ya Allah, limpahkanlah rahmat pada junjungan kami Nabi Muhammad (s), yang cahayanya mendahului semua ciptaan, yang kemunculannya merupakan rahmat bagi seluruh alam, dengan rahmat sebanyak ciptaan-Mu yang telah lalu dan yang masih ada, mereka yang beruntung dan mereka yang tidak, dengan rahmat yang melebihi semua perhitungan dan yang mencakup semua batas, rahmat yang tak terbatas, tidak berujung dan tidak berakhir, rahmat yang abadi sebagaimana Keabadian-Mu.
Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad (s), yang kalbunya penuh dengan pengagungan kepada-Mu, yang matanya penuh dengan Keindahkan-Mu; agar ia menjadi bahagia, terdukung, dan penuh kemenangan, demikian pula kepada keluarganya dan sahabatnya dan limpahkanlah keselamatan sebanyak-banyaknya kepada mereka dan segala puji bagi Allah untuk semua itu! (Dala’il al-Khayrat hizib hari Rabu)
Jika kalian membacanya sekali, Allah (swt) akan menghapuskan 100.000 dosa! Allah (swt) akan mengampuni 100.000 dosa besar, min al-kabaair. Dengan membaca sekali shalawat ini, Allah (swt) bahkan akan menghilangkan 100.000 dosa besar dan dengan 2 kali pembacaan, berarti 200.000 dosa besar, dan dengan 3 kali pembacaan, 300.000 dosa besar, dan dengan 10 kali pembacaan, berarti 1 juta dosa besar!

sumber : https://www.facebook.com/Sufilive/

Islam akan ramai di Indonesia, bukan dengan rasa Arab tetapi rasa Jawa

Ibnu Batutha termasuk salah seorang ulama’ yang besar pada masanya. Ia mempunyai keinginan untuk melakukan ekspedisi dan merantau ke daerah timur jawa. Akan tetapi ketika ia berlayar tekadnya itu tertunda dan ia berhenti di Aceh karena di sana sudah terdapat kerajaan Islam, terdapat rencong Aceh yang menjadi simbol kesultanan Islam di Nangroe Aceh.
Di kota itu Ibnu Bathuta sangat dihormati dan disambut hangat oleh para ulama’ dengan budaya dan ciri khas rakyat Aceh pada waktu itu. Hingga pada suatu saat, Ibnu Bathuta diberi jamuan khusus berupa asam yang dikelola dengan baik kemudian menjadi manisan yang lezat. Bertepatan pada waktu itu bangsa Arab jarang sekali yang mengenal makanan yang rasanya manis campur asam, mereka hanya tahu rasa manis dan asam yang terpisah. Bahkan istilah bahasa dan kalimatnya dalam bahasa arab juga belum ada.
Ketika merasakan manisan itu Ibnu Bathuta tertegun kagum dengan kelezatan rasanya. Kemudian Ibnu Bathuta bertanya kepada para Ulama’ di sekitarnya “makanan apa ini?”. “ini adalah kurma”, Jawab Ulama’ di sekitar Ibnu Bathuta. Dalam kamus Munjid maupun Muhith jika ada kata Asam itu pasti bahasa arabnya Tamar tetapi yang di maksud disitu bukan tamar arab melainkan Tamar Jawa. Adapun orang-orang arab pada zaman dahulu mengenal jawa itu tidak hanya pada pulau yang masyhur ini melainkan seluruh Asia Tenggara juga mereka kenal sebagai jawa.
Karena masih merasa penasaran Ibnu Bathuta bertanya lagi kepada para Ulama’ tadi “Tamar apa ini? kami di arab memakan tamar yang hanya mempunyai rasa manis tetapi di sini saya baru tahu ada tamar yang rasanya manis dan asam”. Akhirnya ulama’-ulama itu menjawab “Ini adalah tamar jawa”. Mendengar jawaban itu Ibnu Bathuta merasa heran ternyata di tanah ini ada pohon tamar yang rasanya berbeda.
Tamar itu adalah itu adalah lambang dan simbol keramaian agama Islam . Allah S.W.T berfirman,
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,” QS. Ibrahim : 24
Kalimah yang baik itu adalah Islam yang diumpamakan seperti pohon yang baik, sedangkan pohon yang baik itu adalah kurma. Seketika itu langsung terbesit di dalam hati Ibnu Bathuta bahwa suatu saat nanti agama Islam ini akan ramai di bumi Indonesia, tetapi tamarnya atau simbol keramaianya bukan tamar arab melainkan tamar jawa.
Oleh karena itu bisa dipahami bahwa Islam di Indonesia itu tidak sama dengan Islam yang ada di Arab, penerapanya pasti berbeda-beda menurut budaya atau tsaqofah yang ada. Tetapi, meskipun berbeda-beda pada hakikatnya Islam itu sama, yaitu sama-sama dari Rasulullah S.A.W.

Catatan : Artikel ini disarikan dari ceramah Syaikhina Maimoen Zubair di Padurenan, Gebog, Kudus pada tahun 2007.
sumber : https://fahmialinh.wordpress.com/2015/11/18/rihlah-ibnu-bathutah-di-bumi-indonesia/

Hitungan pada wirid/dzikir

Wirid atau dzikir ada hitungan-hitungannya, seperti membaca tahlil (la ilaha ila Allah) dalam ratib Athas, ratib Hadad dan Wirdu Lathif jumlahnya berbeda.
Bacaan wirid/ dzikir itu ada ukuran, seperti kunci mempunyai ukuran berbeda-beda. Kunci gudang, milinya berbeda dengan mili (ukuran) kunci pintu rumah, kunci jendela dan kunci-kunci lainya.

Kalau tidak mau ada ukuran-ukuran ‘mili’ dalam kunci, jangan mengeluh kalau semua pintu tidak bisa dibuka. Demikian juga wiridan/ dzikir.
Hanya ada yang jumlah hitungannya berdasarkan hadis/ tauqifi dari Nabi seperti membaca tasbih, takbir dan tahmid masing-masing 33 x setiap bakda shalat fardu. Ada juga hasil tajribah (eksperimen) para ulama (sahabat dan generasi setelahnya).
Tidak semua yang tidak ada pada masa Nabi dilarang. Kalau tidak percaya atau tidak mau ada bilangan tertentu dalam wirid/ dzikir jangan mengeluh apabila bacaan dzikir tidak dapat membuka “pintu” ijabah.
Wirid dan dzikir mempunyai dosis. Tidak semua orang mengetahui rahasia hitungan dalam dzikir. Seperti tidak semua orang bisa membuat resep obat, hanya dokter dan apoteker yang memahaminya.
sumber : https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=10152532680875766&id=94438400765&fref=nf

APLIKASI TRYOUT untuk android

Kode
Produksi
Platform
Format
Versi
Mapel
Penulis
Sinopsis
: ME13ATUN01
: 2013
: Android
: Simulasi
: Final
: Mapel yang di UN kan
: Tim BPMP
:

Aplikasi ini adalah sarana untuk tryout Ujian Nasional SD/SMP/SMA. Selain tryout juga terdapat latihan soal dan penjelasannya. Aplikasi ini di desain untuk perangkat handphone dan dapat diacces langsung dengan alamat : http://atun.m-edukasi.kemdikbud.go.id
 
download aplikasi klik di sini
 
Langkah :
1. download aplikasi dan install (atau buka lewat komputer http://atun.m-edukasi.kemdikbud.go.id)
2.  registrasi untuk memperoleh user name dan password
3. gunakan username dan password untuk memasuki menu
4. pilih jenjang yang di ikuti ( SD, SMP, SMA-IPA, SMA-IPS, SMA -bahasa)
5. pilih mata pelajarannya
6. pilih latihan (beberapa paket) atau tryout (dibatasi waktu)
7. kalau sudah selsai klik tombol simpan, maka keluar ringkasan jawaban
8. klik hasil akhir untuk mengetahui hasilnya
 
download aplikasi klik di sini
ATAU KUNJUNGI http://atun.m-edukasi.kemdikbud.go.id

NU dan NKRI

Organisasi Nahdlatul Ulama itu tidak bisa dipisahkan dengan oganisasi Nahdlatut Tujjar dan Nahdlatul Wathan. Peran Nahdlatul Wathan ini sangat vital sekali. Hal ini terbukti ketika di Negeri Haramain terjadi pergantian kekuasaan dari Daulah Asyraf (tahun 1924-an) yang kemudian diganti dengan Raja Abdul Aziz. Oraganisasi Nahdlatul Wathan ini mengirimkan delegasi kepada Sultan Abdul Aziz ke Makkah. Delegasi yang dikirim oleh Nahdlatul Wathan ini dinamakan dengan Komite Hijaz. Dari nama Komite Hijaz ini, kemudian menjadi Muktamar yang diselenggarakan pada pada tanggal 31 Januari 1926 yang menghasilkan organisasi yang dinamakan dengan Nahdlatul Ulama dengan Rais Akbarnya KH. Hasyim Asyari dan KH. Faqih Mas Kumambang sebagai wakilnya. Ulama-ulama yang ada di barisan Nahdlatul Ulama itu mempunyai peran besar untuk membangun bangsa dan negaranya dengan ilmu yang bersumber dari Al-Quran.

Allah telah menurunkan Al-Quran yang diibaratkan seperti air yang dapat menghasilkan bermacam-macam ilmu pengetahuan. Adanya bermacam-macam ilmu pengetahuan ini disebabkan karena adanya seorang ulama yang diumpamakan seperti gunung-gunung yang warnanya ada yang Merah dan Putih. Kedua warna ini persis dengan warna bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia. Allah berfirman;
الَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفاً أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ * وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ
Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). (QS. Al-Faatir : 27-28)
Warna Merah melambangkan nasionalisme bangsa Indonesia yang penuh dengan keberanian, sedangkan putih melambangkan keikhlasan dalam berjuang. Dari kedua warna ini, jiwa bangsa Indonesia itu harus diwarnai dengan nasionalisme dan keikhlasan.
Nikmat agung tersebut itu tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu. Nikmat Allah yang agung yang diperuntukan bagi bangsa Indonesia adalah nikmat yang berupa kemerdekaan. Merdeka yang dimulai pada tanggal 17 Agustus 1945.
Angka-angka yang menandai kemerdekaan bangsa Indonesia ini adalah angka-angka keberuntungan. Angka 17 menunjukan jumlahnya rekaat shalat wajib yang dikerjakan oleh umat Islam dalam sehari semalam. Angka 17 terdiri dari 1+7. Jika kedua angka ini ditambahkan maka jumlahnya akan menjadi 8 (bulan delapan adalah bulan Agustus). Hal ini sesuai dengan jumlah surga yang disediakan Allah bagi hamba-Nya yang mau mengerjakan shalat.
Adapun angka 45 diakhir dari 1945 itu merupakan angka yang sempurna. Sebab, 4+5=9. Angka Sembilan ini persis dengan jumlah bintang yang digunakan sebagai lambangnya organisasi Nahdlatul Ulama.
Selain rahasia di atas, jika lafal Nahdlatul Ulama dihitung dengan memakai standar Abajadun, maka jumlahnya adalah 17. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa antara NU dengan perjuangan bangsa Indonesia itu ada keterkaitan.
Untuk makna dadung (tali yang melingkar) yang ada pada lambang Nahdlatul Ulama, itu menunjukan arti hubungan antara manusia dengan tuhannya.
Di dalam memperjuangkan NU, Syaikhina Maimoen Zubair juga mempunyai loyalitas yang tinggi meskipun pada tahun 2002 beliau telah keluar dari organisasi tersebut. Namun, pada tahun 2010 beliau kembali lagi untuk bergabung memperjuangkan Nahdlatul Ulama dengan jabatan sebagai Dewan Muhtasyar.
Catatan:
Artikel ini disarikan dari ceramah Syaikhina Maimoen Zubair pada acara Muskerwil PWNU di PP Al-Anwar tahun 2013.
NB: Ketika Mbah Hasyim hendak pergi ke suatu tempat untuk mengurus masalah Nahdlatul Ulama, beliau sering mampir di kediaman kakek dan buyutnya Syaikhina Maimoen Zubair (Kiai Ahmad bin Syuaib dan Kiai Syuiab bin Abdurrozak). Begitu juga dengan Mbah Wahab Hasbullah yang sering mampir di Sarang untuk berkunjung di kediaman Kiai Zubair bin Dahlan.
Dari keakraban hubungan leluhur Syaikhina Maimoen Zubair dengan pendiri Nahdlatul Ulama ini, maka tidak mengherankan jika NU-nya Syaikhina Maimoen itu dikatakan sejak beliau belum dilahirkan. Sebab, sebelum beliau lahir, ada tiga tokoh NU, Kiai Hasyim Asyari, Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Syansuri telah berkenan meludahi air (nyuwuk red) yang diambil oleh Kiai Ahmad yang nantinya akan diminumkan kepada Ibunya Syaikhina Maimoen saat mengandung dirinya supaya mendapatkan keberkahan dari ketiga ulama tersebut. (KH. Abdullah Ubab Maimoen)

Asal Muasal Doa Ilahi Anta Ma’sudi Wa Ridlha Matlubi

Ilahi Anta Ma’sudi Wa Ridlha Matlubi, Atini Mahabbataka Wa Ma’rifataka
Ya Allah, Engkaulah puncak tujuanku dan hanya ridhoMu yang kumohon
Berilah aku kecintaan dan kenal kepada-Mu
Doa/munajat tersebut diriwayatkan oleh Hadhrat Mawlana Syekh `Abd al-Khaliq al-Ghujduwani (semoga Allah mensucikan rahasianya) melalui keadaan spiritual tanpa hijab (kashf) dari Nabi (s), walaupun tanpa mata rantai transmisi. Kata-kata ini merupakan doa/zikir utama dari Prinsip Keenam Tarekat Naqsybandi yang disebut Baz Gasht atau “Kembali”. Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (semoga Allah mensucikan rahasianya) mengatakan di dalam bukunya The Golden Chain:
Baz Gasht adalah suatu keadaan di mana seorang pencari/salik, yang berzikir dengan negasi dan afirmasi (penyangkalan dan penegasan), sampai pada pemahaman akan ungkapan Nabi Suci (s), ilahi anta maqsudi wa ridhaka matlubi (“Wahai Tuhanku, Engkau adalah tujuanku dan Rida-Mu adalah yang kudambakan). Pembacaan dari ungkapan ini akan meningkatkan kesadaran sang pencari tentang Ke-Esaan Allah, sampai ia mencapai keadaan di mana keberadaan semua ciptaan (makhluk) lenyap dari pandangan matanya. Semua yang dilihatnya, ke manapun ia memandang, adalah Allah ash-Shamad. Murid Naqsybandi membaca zikir macam ini untuk mengekstrak rahasia Al-Ahad dari kalbunya, dan untuk membuka diri mereka kepada Kenyataan Hadirat Allah yang Unik. Para pemula tidak berhak untuk meninggalkan zikir ini bila ia tidak mendapati kekuatan itu muncul di dalam kalbunya. Ia harus tetap membaca zikir ini mengikuti (meniru) Syekhnya, karena Nabi (s) telah mengatakan, “Barang siapa meniru suatu golongan, ia akan menjadi bagian dari golongan itu.” Dan barang siapa meniru gurunya, suatu hari akan mendapati rahasia itu terbuka bagi kalbunya.
Arti dari frase “baz gasht” adalah kembali kepada Allah Azza wa Jalla dengan menunjukkan kepasrahan diri sepenuhnya dan tunduk kepada Kehendak-Nya, dan kerendahan hati sepenuhnya dengan memberikan puji-pujian kepada-Nya. Itulah alasan Nabi (s) menyebutkan dalam doanya, ma dzakarnaka haqqa dzikrika ya Madzkur (“Kami tidak Mengingat-Mu sebagaimana seharusnya Engkau Diingat, Ya Madzkur, Wahai Dzat Yang Patut Diingat.”). Sang pencari tidak dapat datang kepada hadirat Allah dalam zikirnya, dan tidak dapat mengungkapkan Rahasia dan Sifat Allah dalam zikirnya, bila ia tidak melakukan zikirnya itu dengan Dukungan Allah dan dengan Allah Mengingat dirinya. Sebagaimana dikatakan oleh Bayazid [al-Bistami]: “Ketika aku mencapai Dia aku melihat bahwa ingatan Dia (kepadaku) mendahului ingatanku kepada-Nya.” Sang pencari tidak dapat melakukan zikir oleh dirinya sendiri. Ia harus mengetahui bahwa Allah adalah justru yang sedang melakukan Zikir melalui dirinya itu.
Semoga Allah (swt) mengaruniai kita sesuatu dari Maqam yang mulia dan semoga Dia memuliakan guru-guru kita atas nama umat.
Shaykh Gibril Fouad Haddad
Sumber:

mengenal Islam Nusantara

Sebilah pisau yang tajam, diambil oleh anak kecil, hendak dijadikan mainan. Analoginya, ulama fikih mengatakan tidak boleh dan merebut pisau itu, demikian juga dengan ulama tasawuf bedanya ulama tasawuf memberi alternatif. Pada akhirnya tujuan keduanya sama hanya cara dan pendekatannya saja yang berbeda. Ini analogi saja.
Oleh sebab itu kebanyakan dakwah atau Islamisasi yang berhasil dilakukan oleh ulama tasawuf. Seperti di Kenya, Habib Masyhur al-Hadad. Sampai beliau mempelajari bahasa dayak, bahasa pedalaman disana. 10.000 orang yang masuk Islam. Demikian juga wali 9, mempelejari tradisi di India sehingga ketika dakwah di Nusantara lebih mudah diterima.
Dahulu para ulama tasawuf itu datang dengan berdagang, memberi kehidupan, memberi modal. Sehingga Raja tidak menganggapnya sebagai ancaman, malah banyak yang diangkat menjadi patih.
Inilah Islam Nusantara, bukan membuat Islam Nusantara, tapi cara-cara ulama kita dalam mengamalkan dan mendakwahkan Islam. Islam Nusantara, pengamalan Islam di Nusantara, seperti kata “hormat senjata”, bukan menghormat kepada senjata tapi tata cara menghormat dengan menggunakan senjata.
Islam Nusantara menghidupkan kearifan lokal dengan Islam, seperti perayaan maulid Nabi dengan tari saman di Aceh, Debus di Banten, di Cirebon, dan di beberapa kota di Jawa Timur berbeda lagi. Ada tarian khusus untuk peringatan maulid, orang yang sudah tua-tua menari memakai kipas sambil membaca shalawat kepada Nabi.
Budaya makan dipantura saja berbeda-beda, di Cirebon sate pake Cuka, di Tegal, Pekalongan beda lagi. Di Palembang pagi-pagi orang makan empek-empek juga pake cuka, di Solo beda lagi. Di Arab untuk makan satu orang butuh berapa kilo gram daging kambing atau unta, bera ratus ribu untuk sehari. Di Indonesia lima puluh ribu cukup untuk makan sehari untuk satu orang.
Namun demikian Islam mempunyai garis yang pasti, yaitu halal dan haram, ketika halal penerapannya fleksibel sesuai dengan kebudayaannya. Itu dalam makanan, aspek sosial, hubungan kemasyarakatan juga demikian, sangat fleksibel. Banyak yang ketakutan kalai Islam Nusantara itu anti Arab. Padahal Islam Nusantara tidak anti Arab, sebab kalau anti Arab 100 persen harus di syahadatkan lagi.
 
sumber : http://www.habiblutfi.net/index.php/artikel/item/470-pendekatan-dakwah-tasawuf-dan-fikih

Nasihat indah KH. Ahmad Mustafa Bisri

1. Kebenaran kita berkemungkinan salah, kesalahan orang lain berkemungkinan benar. Hanya kebenaran Tuhan yang benar-benar benar.

2. Kalau Anda boleh meyakini pendapat Anda, mengapa orang lain tidak boleh?
3. Jangan banyak mencari banyak, carilah berkah. Banyak bisa didapat dengan hanya meminta. Tapi memberi akan mendatangkan banyak dan berkah.
4. Tidak ada alasan untuk tak bersedekah kepada sesama. Karena sedekah tidak harus berupa harta. Bisa berupa ilmu, tenaga, bahkan senyum.
5. Apa yang kita makan, habis. Apa yang kita simpan, belum tentu kita nikmati. Apa yang kita infakkan justru menjadi rizki yang paling kita perlukan kelak.
6. Abadikan kebaikanmu dengan melupakannya.
7. Tawakkal mengiringi upaya. Doa menyertai usaha.
8. “Berkata baik atau diam” adalah pesan Nabi yang sederhana tapi sungguh penting dan berguna untuk diamalkan dan disosialisasikan.
9. Janganlah setan terang-terangan engkau laknati dan diam-diam engkau ikuti.
10. Mau mencari aib orang? Mulailah dari dirimu!
11. Hati yang bersih dan pikiran yang jernih adalah suatu anugerah yang sungguh istimewa. Berbahagialah mereka yang mendapatkannya.
12. Meski sudah tahu bahwa memakai kaca mata hitam pekat membuat dunia terlihat gelap, tetap saja banyak yang tak mau melepaskannya.
13. Awalilah usahamu dengan menyebut nama Tuhanmu dan sempurnakanlah dengan berdoa kepadaNya.
14. Ada pertanyaan yang ‘tidak bertanya’; maka ada jawaban yang ‘tidak menjawab’. Begitu.
15. Sambutlah pagi dengan menyalami mentari, menyapa burung-burung, menyenyumi bunga-bunga, atau mendoakan kekasih.
Jangan awali harimu dengan melaknati langit.
16. Wajah terindahmu ialah saat engkau tersenyum. Dan senyum terindahmu ialah yang terpantul dari hatimu yang damai dan tulus.
Semoga beliau selalu dalam keadaan sehat dan dilingkupi rahmat serta keberkahan Allah SWT. Begitu pula Anda yang memabaca pesan beliau ini.
sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=961444980581970&set=a.351764691550005.79365.100001494328662&type=3

‘Adab’ dari seorang ulama besar di tarim

Berkata Guru Mulia Al Musnid Al Arifbillah Al Habib Umar bin Hafidz,
“Adalah ‘Adab’ dari seorang ulama besar di tarim, Hadraumut”

ketika nama Sang Kekasih disebutkan, Rasulullah Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam, beliau akan bangkit berdiri’ sembari mengirimkan sholawat dan salam padanya.
Juga disebutkan bahwa jika di dalam sebuah rumah terdapat seseorang yang memakai/bernama Muhammad, rumah itu setiap hari akan didatangi Malaikat penebar Rahmat, bukan karena amalan atau ‘alimnya penghuni rumah, tapi karena ada kemuliaan nama Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam didalamnya.
Semoga bermanfaat.